1. Home
  2. »
  3. Agrina Update
  4. »
  5. Ketahanan Rantai Pasok Minyak Nabati Global Jadi Sorotan SVOC ke-4…

Ketahanan Rantai Pasok Minyak Nabati Global Jadi Sorotan SVOC ke-4 di Shanghai

Shanghai, Agrina-online.com. Ketahanan rantai pasok, inovasi produksi, dan harmonisasi standar keberlanjutan menjadi isu penting dalam industri minyak nabati global. Di tengah perubahan kebijakan perdagangan, tuntutan pasar terhadap produk berkelanjutan, serta dinamika geopolitik, negara produsen dan konsumen dituntut memperkuat kolaborasi agar rantai nilai minyak nabati tetap kompetitif dan adaptif.

 

Isu tersebut mengemuka dalam Sustainable Vegetable Oils Conference (SVOC) ke-4 yang diselenggarakan Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) di InterContinental Hotel Shanghai, Tiongkok, 27 Oktober 2026. Mengusung tema “Sustainability Alignment, Resilient Value Chains”, konferensi ini mempertemukan lebih dari 200 peserta dari 11 negara, mulai dari pejabat pemerintah, pelaku industri, organisasi internasional, hingga pakar teknis berbagai komoditas minyak nabati.

 

Tidak hanya membahas minyak sawit, forum ini juga melibatkan pemangku kepentingan dari industri kedelai, rapeseed, bunga matahari, dan minyak nabati lainnya. Kehadiran berbagai sektor tersebut mencerminkan semakin eratnya keterkaitan antarkomoditas dalam perdagangan, pembentukan harga, substitusi produk, serta pemenuhan kebutuhan pangan dan industri global.

 

Pada 2026 produksi minyak nabati dunia diperkirakan mencapai 234 juta ton. Minyak sawit menyumbang sekitar 85 juta ton atau lebih dari sepertiga total produksi. Besarnya kontribusi tersebut sekaligus menempatkan minyak sawit dalam posisi strategis di tengah persaingan dan dinamika pasar minyak nabati dunia.

 

Meski memiliki karakteristik produksi dan pasar yang berbeda, berbagai komoditas minyak nabati menghadapi sejumlah tantangan serupa. Persoalan penggunaan lahan, perubahan iklim, standar keberlanjutan, hingga akses pasar menjadi agenda bersama yang membutuhkan pendekatan lintas negara dan lintas industri.

 

Tiongkok Pasar Strategis Minyak Nabati

Pemilihan Shanghai sebagai lokasi konferensi juga relevan dengan posisi Tiongkok dalam perdagangan minyak nabati dunia. Selain menjadi salah satu konsumen utama, Tiongkok merupakan mitra strategis bagi negara produsen dalam perdagangan, pengembangan teknologi, dan inovasi.

 

Pada 2025 konsumsi minyak nabati Tiongkok diperkirakan mencapai 35,8 juta ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 5,07 juta ton merupakan minyak sawit. Besarnya kebutuhan pasar ini memperlihatkan pentingnya hubungan perdagangan yang stabil antara Tiongkok dan negara-negara penghasil minyak nabati.

 

Sekretaris Jenderal CPOPC, Izzana Salleh menilai, penguatan hubungan produsen dan konsumen menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga ketahanan rantai pasok, terutama ketika pasar menghadapi perubahan harga dan ketidakpastian regulasi.

 

“Perubahan harga relatif dapat menggeser keputusan pembelian antarjenis minyak nabati, sementara ketidakpastian regulasi dapat memengaruhi arus perdagangan dan kepercayaan investasi,” ujarnya.

 

Menurut Izzana, ketahanan rantai pasok tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan produksi. Faktor lain seperti keandalan informasi pasar, diversifikasi hubungan dagang, efisiensi logistik, serta kepastian kebijakan juga menentukan keberlangsungan perdagangan.

 

Ia menambahkan, keterlibatan yang lebih erat antara produsen dan pembeli diperlukan agar komitmen pasokan, ekspektasi keberlanjutan, dan insentif komersial dapat berjalan selaras.

 

Dalam sesi pembukaan, para perwakilan negara anggota CPOPC juga menyoroti sejumlah agenda strategis. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Airlangga Hartarto menekankan pentingnya meningkatkan produktivitas pekebun kecil tanpa harus memperluas areal perkebunan.

 

Sementara itu, Menteri Perladangan dan Komoditas Malaysia, YB Datuk Seri Dr. Noraini Ahmad mendorong penerapan standar keberlanjutan yang mampu mendukung akses produsen ke pasar global, bukan justru menjadi hambatan. Malaysia juga melihat peluang penguatan kerja sama dengan Tiongkok dalam teknologi, penelitian, dan pengembangan pasar.

 

Dari perspektif Amerika Latin, Wakil Menteri Budidaya Kopi Honduras, José Francisco Ordóñez menggarisbawahi pentingnya sistem ketertelusuran yang kredibel untuk membuktikan praktik produksi berkelanjutan. Ia juga mendorong penguatan hubungan antara Tiongkok, CPOPC, dan negara-negara Amerika Latin.

 

Produktivitas dan Teknologi Jadi Pengungkit Keberlanjutan

Salah satu agenda utama konferensi membahas bagaimana inovasi dapat meningkatkan efisiensi produksi sekaligus memperkuat aspek keberlanjutan. Dalam sesi bertajuk “Driving Sustainability through Productivity and Innovation”, para peserta mendiskusikan pemanfaatan teknologi pertanian, bahan tanam unggul, mekanisasi, agronomi presisi, serta penerapan standar keberlanjutan.

 

Berbagai pendekatan tersebut dinilai relevan untuk menjawab tantangan peningkatan produksi tanpa mengabaikan aspek lingkungan. Produktivitas menjadi perhatian khusus, terutama bagi negara produsen yang perlu memenuhi permintaan pasar sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan lahan yang sudah ada.

 

Sesi yang diawali sambutan Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Rakyat Tiongkok, Djauhari Oratmangun, ini menghadirkan sejumlah pembicara dari kalangan industri dan lembaga keberlanjutan.

 

Mereka antara lain Mohd Hasbollah Suparyono dari Malaysian Sustainable Palm Oil (MSPO), Dr. Chen Zi Yan dari Kuala Lumpur Kepong Berhad (KLK), Caroline Xu dari AAK China, Chen Ying dari China Customs Brokers Association, serta Harry Hanawi dari Sinar Mas Agribusiness and Food. Diskusi dimoderatori Lifeng Fang dari Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), dengan Yu Xin dari WWF China sebagai penanggap utama.

 

Selain peningkatan produktivitas di tingkat perkebunan, pembahasan juga mencakup peran Tiongkok dalam memfasilitasi perdagangan minyak nabati berkelanjutan, memperluas akses pasar, dan meningkatkan transparansi rantai pasok lintas komoditas.

 

Perubahan Regulasi dan Permintaan Pasar

Tantangan lain yang tidak kalah penting adalah perubahan kebijakan dan standar perdagangan global. Dalam sesi kedua bertajuk “Building Competitive and Resilient Vegetable Oil Value Chains amid Evolving Policies, Standards and Market Demand”, para pembicara membahas dampak kebijakan hijau, regulasi, dan perubahan persyaratan pasar terhadap negara produsen maupun konsumen.

 

Sejumlah isu yang menjadi perhatian meliputi perkembangan perdagangan hijau di Tiongkok, kebijakan biodiesel B50 Indonesia, serta pengembangan biofuel berbasis sawit di Malaysia sebagai bagian dari upaya menuju ekonomi rendah karbon.

 

Forum ini juga mengangkat pengalaman negara produsen lainnya. Republik Demokratik Kongo, misalnya, tengah berupaya memperkuat rantai nilai industri sawit agar lebih tangguh. Adapun Papua Nugini menyoroti pentingnya dukungan terhadap pekebun kecil melalui pembangunan infrastruktur dan program peremajaan tanaman.

 

Diskusi menghadirkan Wang Xin dari Foreign Environmental Cooperation Center (FECO), Kementerian Ekologi dan Lingkungan Hidup Tiongkok; Yang Junyi dari World Resources Institute China; Dr. Dadan Kusdiana, Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional Republik Indonesia; serta Dr. Mohd Hefni Rusli, Wakil Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Malaysian Palm Oil Board (MPOB).

 

Perspektif negara produsen turut disampaikan Monique Gieskes, CEO Plantations et Huileries du Congo (PHC), Republik Demokratik Kongo, dan Kepson Pupita, Sekretaris Jenderal Oil Palm Industry Corporation (OPIC) Papua Nugini.

 

Sementara itu, Langlang Tata Buana dari Proforest mengulas pengaruh kebijakan dan standar terhadap praktik di sepanjang rantai pasok. Li Sifan dari China Chamber of Commerce of Import and Export of Foodstuffs, Native Produce and Animal By-products (CFNA) menjadi penanggap utama.

 

Beragam perspektif tersebut memperlihatkan bahwa keberlanjutan industri minyak nabati tidak hanya ditentukan oleh praktik produksi di tingkat perkebunan. Kebijakan perdagangan, standar pasar, transparansi rantai pasok, teknologi, dan dukungan terhadap petani kecil juga menjadi bagian penting dari upaya membangun industri yang berdaya saing.

 

Ke depan, CPOPC berkomitmen melanjutkan SVOC sebagai forum strategis yang mempertemukan negara produsen dan konsumen, pelaku industri, lembaga penelitian, serta mitra keberlanjutan. Fokusnya tidak berhenti pada pertukaran pandangan, tetapi juga mendorong terbentuknya kerja sama konkret.

 

Melalui penyelenggaraan SVOC berikutnya, CPOPC berharap kolaborasi lintas negara dan lintas komoditas semakin kuat untuk membangun rantai nilai minyak nabati yang berkelanjutan dan tangguh, dengan pendekatan berbasis bukti, ilmu pengetahuan, serta dialog konstruktif.

 

 

Windi Listianingsih

Tag:

Bagikan:

Trending

IMG-20261102-WA0002
Sejumlah Pertanyaan Atas Temuan Pengoplosan Beras SPHP
IMG-20261102-WA0000
Ketahanan Rantai Pasok Minyak Nabati Global Jadi Sorotan SVOC ke-4 di Shanghai
Kementan Tegaskan Sawit Rakyat Jadi Kunci Swasembada Energi dan Pangan
Kementan Tegaskan Sawit Rakyat Jadi Kunci Swasembada Energi dan Pangan
Rayakan HUT ke-26, Apkasindo Perkuat Komitmen Petani Sawit dan Dorong Kolaborasi Multipihak
Rayakan HUT ke-26, Apkasindo Perkuat Komitmen Petani Sawit dan Dorong Kolaborasi Multipihak
Rakernas Apkasindo 2026: Babak Baru Perjuangan Petani Sawit Menuju Kemandirian Ekonomi
Penas Apkasindo 2026: Babak Baru Perjuangan Petani Sawit Menuju Kemandirian Ekonomi
Scroll to Top