1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. Kementan Kawal MoU Hilirisasi Ayam Gorontalo & ID FOOD

Expo Pertanian China-Indonesia Bidik Teknologi, Investasi, hingga Akses Pasar

Jakarta, Agrina-online.com. Kebutuhan teknologi, tekanan biaya produksi, penguatan industri peternakan, hingga akses pasar ekspor menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa diselesaikan hanya dari satu sisi. Pertemuan antara pemilik teknologi, produsen, pembeli, dan pemerintah menjadi penting agar kerja sama pertanian tidak berhenti pada transaksi produk.

Ruang temu tersebut akan ditawarkan melalui Chain Global International Agricultural Cooperation Expo & China International Agricultural Cooperation Expo yang akan berlangsung pada 10–12 Desember 2026 di Jakarta. Menjelang pelaksanaannya, penyelenggara menggelar soft launching dan business networking di Jakarta, Kamis (1/10).

Menurut Executive Director China Foreign Trade and Economic Cooperation Enterprises Association, Duan Qing Chan, pameran ini untuk pertama kalinya digelar di Indonesia. Dengan luas area sekitar 5.000 m², ajang ini akan mempertemukan perusahaan China, Indonesia, dan negara-negara ASEAN dalam sejumlah bidang, mulai dari peternakan dan perunggasan, pakan dan kesehatan hewan, produk telur dan pengolahan pangan, smart agriculture, hingga alat dan mesin pertanian.

Duan memperkirakan, lebih dari 100 perusahaan akan ambil bagian dengan daya tarik pameran ini terletak pada agenda yang disiapkan. “Hal yang menjadi perhatian kita bersama adalah dengan hadir di pameran ini apa saja yang bisa kita peroleh? Ada empat manfaat yang nyata: teknologi, order atau pesanan, proyek dan pelayanan. Kami akan menjadikan pameran ini sebagai satu platform pertukaran teknologi,” terangnya.

Salah satu agenda yang disiapkan adalah pertukaran teknis untuk sektor ayam petelur dan broiler. Topiknya mencakup peternakan skala besar, efisiensi pakan, pengendalian penyakit, peternakan cerdas, pengolahan telur, hingga konektivitas rantai industri.

Menurut Duan, para ahli dan pengusaha dari China dan Indonesia akan bertemu untuk membahas solusi budidaya modern, termasuk menghadapi persoalan biaya dan penyakit sekaligus mendorong peningkatan mutu serta modernisasi industri.

Model bisnis yang ditawarkan juga dibuat dua arah. Selain mempertemukan pemasok peralatan, pakan, kesehatan hewan, dan teknologi pengolahan dari China dengan pembeli Indonesia dan ASEAN, penyelenggara akan membawa calon pembeli China untuk bertemu dengan produsen Indonesia.

“Kami tidak hanya menyelenggarakan pameran, tetapi juga berkomitmen menciptakan pesanan dagang dari dua arah,” kata Duan.

Produk yang dibidik antara lain daging unggas, telur, buah tropis, hasil perikanan, kopi, dan kakao. Untuk produk yang memenuhi ketentuan akses pasar dan pendaftaran di China, penyelenggara akan membantu mempertemukan pelaku usaha dengan pihak terkait dalam urusan sertifikasi, karantina, dan registrasi.

Skema tersebut membuat pameran memiliki dimensi yang lebih luas daripada transaksi di lantai pamer. Penyelenggara juga menyiapkan kunjungan lapangan bagi perusahaan China ke kawasan industri pertanian, peternakan, dan fasilitas pengolahan di Indonesia. Kerja sama yang dijajaki mencakup kapasitas produksi, transfer teknologi, dan pembangunan merek bersama.

“Dari penyesuaian booth hingga matchmaking dengan calon pembeli, dari sertifikasi dan kepatuhan terhadap peraturan hingga logistik maupun kepabeanan, dari penyelesaian finansial hingga promosi merek, kami memberikan dukungan menyeluruh kepada perusahaan peserta dari kedua negara,” katanya.

Dari sisi pemerintah Indonesia, kerja sama tersebut beririsan dengan kebutuhan memperkuat industri peternakan dalam negeri. Ketua Kelompok Pemasaran Produk Peternakan, Direktorat Hilirisasi Peternakan, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Tika Kartika menyebut, pertemuan Indonesia dan China sebagai momentum untuk memperkuat hubungan ekonomi sekaligus membangun jejaring bisnis. “Pertemuan ini merupakan momentum strategis untuk memperkuat hubungan ekonomi dan membangun jejaring bisnis dengan Tiongkok,” ujar Tika.

Kemandirian pangan perlu dilihat lebih luas dari ketersediaan pangan. Sektor peternakan juga memiliki fungsi dalam penyediaan protein masyarakat, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan bahan baku dalam negeri. “Peternakan tidak hanya menyediakan pangan asal hewan, tapi juga memenuhi protein masyarakat, membuka lapangan kerja, dan memperkuat bahan baku dalam negeri,” katanya.

Ia menilai, terdapat peluang kerja sama yang cukup besar karena Indonesia memiliki basis produksi dan pasar yang luas, sementara industri China mempunyai pengalaman dan teknologi yang dapat melengkapi kebutuhan di dalam negeri. Salah satu area yang disebut Tika adalah pengembangan peternakan presisi dan transfer teknologi.

“Indonesia punya basis produksi luas dan potensi pasar yang besar. Kerja sama yang kita harapkan adalah kemitraan yang nyata bagi kedua pihak, transfer teknologi dan peternakan presisi,” ucapnya.

Dari perspektif China, Indonesia merupakan Produsen pangan utama. Chief Representative China Council for the Promotion of International Trade (CCPIT) Office in Indonesia, Niu Liangliang mengatakan, Indonesia memiliki peluang besar pada produksi pangan, peternakan, pengolahan hasil pertanian, sekaligus pasar pertanian.

“Indonesia memiliki peluang yang amat luas dalam produksi pangan, peternakan, pengolahan hasil pertanian dan pasar pertanian. Sementara itu, Tiongkok telah mengumpulkan pengalaman yang kaya di bidang peralatan pertanian, pertanian cerdas, nutrisi pakan, kesehatan hewan, pencegahan dan pengendalian penyakit serta teknologi pengolahan,” ujar Niu.

Perbedaan kapasitas tersebut dinilai membuka ruang bagi kerja sama yang saling melengkapi. Pameran ini pun diarahkan bukan hanya untuk memperkenalkan teknologi dan produk pertanian, tetapi juga mendorong kerja sama perdagangan, investasi, dan industri.

Niu menempatkan pameran sebagai salah satu penghubung antara perusahaan kedua negara. CCPIT, ulasnya, siap membantu komunikasi antara perusahaan China dan Indonesia dengan pemerintah, asosiasi industri, lembaga penelitian, serta berbagai institusi terkait agar pertemuan bisnis dapat berlanjut menjadi kerja sama konkret.

“Sebagai CCPIT dan perwakilan di Indonesia, kami bersedia berperan sepenuhnya sebagai jembatan dan penghubung, secara aktif membantu menjalin komunikasi dengan pemerintah Indonesia, asosiasi industri, perusahaan dan lembaga penelitian,” katanya.

Ia juga melihat tantangan rantai pasok pertanian saat ini semakin kompleks. Konflik geopolitik, perubahan iklim, kelangkaan energi, dan fluktuasi pasar membuat efisiensi serta ketahanan rantai pasok menjadi perhatian bersama. Karena itu, pameran yang berlangsung di Jakarta tersebut diarahkan untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

 

Windi Listianingsih

Tag:

Bagikan:

Trending

pameran China
Expo Pertanian China-Indonesia Bidik Teknologi, Investasi, hingga Akses Pasar
Dorong Nila Indonesia Naik Kelas
ATI Desak Kolaborasi Modernisasi Budidaya dan Benih Unggul Nila
Harga Tani
Membaca Harga, Menimbang Risiko
Pupuk Indonesia Buka PIMA 2026, Angkat Cerita Transformasi Industri Pupuk untuk Swasembada Pangan
Pupuk Indonesia Buka PIMA 2026, Angkat Cerita Transformasi Industri Pupuk untuk Swasembada Pangan
Peluang Bisnis Telur Tanpa Kandang , Kian Menjanjikan di Indonesia
Peluang Bisnis Telur Cage-Free, Kian Menjanjikan di Indonesia
Scroll to Top