Gorontalo, Agrina-online.com – Kenaikan harga gabah menjadi Rp6.500/kg, turunnya harga pupuk bersubsidi sekitar 20%, serta semakin mudahnya akses pupuk mulai memberikan dampak nyata bagi petani di berbagai daerah.
Di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, petani mengaku kondisi usaha tani dan perekonomian mereka kini jauh lebih baik dibandingkan beberapa tahun lalu.
Pengakuan itu disampaikan Petani Kab. Berau, Nur Kholis saat menghadiri Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII Tahun 2026 di Gorontalo.
Menurutnya, berbagai kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang berpihak kepada petani telah membuat kegiatan bertani menjadi lebih menguntungkan.
“Seumur hidup saya dari kecil sampai besar, mulai bapak saya bertani sampai hari ini, inilah sejarah. Pupuk itu harganya turun, bukan naik. Sementara harga gabah naik, harga jagung juga naik, dan BULOG menyerap hasil panen dengan baik. Jadi ini yang kami harapkan bisa terus dipertahankan,” katanya (24/6).
Ia mengatakan, dampak kebijakan tersebut sangat dirasakan oleh petani di daerahnya. Menurutnya, peningkatan kesejahteraan petani kini terlihat dari semakin baiknya kondisi ekonomi masyarakat tani.
“Berasa sekali. Petani-petani di Berau sekarang rata-rata sudah punya mobil sendiri. Dulu itu sulit dibayangkan, sekarang banyak yang sudah mampu,” ujarnya.
Optimisme petani Berau juga semakin meningkat seiring hadirnya berbagai program pemerintah.
Tahun ini, Kabupaten Berau mendapatkan program cetak sawah seluas 1.300 hektare yang diyakini akan memperluas kesempatan usaha sekaligus meningkatkan pendapatan petani setempat.
Cerita serupa datang dari daerah lain. Yogi, petani padi dan sawit asal Aceh, mengaku kebijakan pemerintah telah memberikan ruang keuntungan yang lebih besar bagi petani.
“Inilah baru kami rasakan kenikmatan bagi para petani semua. Harga gabah tidak lagi di bawah Rp6.000. Petani sukses hari ini karena harga gabah sudah Rp6.500 ke atas,” katanya.
Yogi juga mengapresiasi kebijakan penurunan harga pupuk bersubsidi yang menurutnya baru pertama kali terjadi.
“Ini sangat luar biasa. Baru pemerintahan kali ini harga pupuk bisa turun 20%. Hari ini sudah turun semuanya. Luar biasa memang,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Anandi Sari, petani asal Kabupaten Serang, Banten. Ia menilai penyederhanaan distribusi pupuk telah memudahkan petani memperoleh pupuk dengan harga yang lebih terjangkau.
“Sekarang kami mendapatkan pupuk memang lebih mudah dan harganya lebih murah. Terkait kebijakan harga gabah, kami sangat merasakan sekali. HPP dinaikkan sama Pak Presiden, kami sangat terbantu dan ada nilai plusnya buat kami sebagai petani,” katanya.
Sementara itu, Abdul Latif, petani dari Pulau Sebatik, Kalimantan Utara, mengatakan petani kecil di wilayah perbatasan juga merasakan manfaat yang sama.
“Kami masyarakat petani kecil merasa tertolong dengan program Pak Prabowo yang diimplementasikan oleh Pak Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Dengan harga gabah Rp6.500, petani merasa sangat terbantu,” ujarnya.
Dalam puncak PENAS XVII, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa Presiden Prabowo memberikan perhatian besar terhadap kesejahteraan petani.
Kesejahteraan petani, melalui kebijakan harga yang menguntungkan petani, perbaikan distribusi pupuk, peningkatan serapan hasil panen, serta perluasan areal tanam dan cetak sawah.
“Bapak Presiden, kami mengucapkan terima kasih mewakili petani Indonesia. Sejak Indonesia merdeka, baru pada masa kepemimpinan Bapak harga pupuk bersubsidi turun 20%. Kita juga telah melakukan deregulasi dan penyederhanaan penyaluran pupuk di seluruh Indonesia,” ujar Mentan.
Menurut Amran, dampak berbagai kebijakan tersebut tercermin pada meningkatnya kesejahteraan petani. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada Mei 2026 mencapai 127,73 atau naik 1,99% dibandingkan bulan sebelumnya.
Capaian tersebut menjadi salah satu indikator membaiknya daya beli dan kesejahteraan petani Indonesia.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa petani dan nelayan harus menjadi pihak yang paling merasakan manfaat pembangunan.
Menurutnya, keberhasilan sektor pangan tidak hanya diukur dari peningkatan produksi, tetapi juga dari meningkatnya kesejahteraan petani dan keluarganya.
“Tidak ada negara yang bisa bertahan tanpa pangan. Karena itu petani harus hidup dengan baik, sejahtera, dan mendapatkan keuntungan dari hasil kerjanya,” tegas Presiden Prabowo.
Berbagai kesaksian petani dari Berau, Aceh, Banten hingga Sebatik menunjukkan bahwa kebijakan yang berpihak pada petani mulai memberikan dampak nyata di lapangan.
Harga hasil panen yang lebih baik, biaya produksi yang menurun, serta akses sarana produksi yang semakin mudah menjadi modal penting untuk mendorong kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Sabrina Yuniawati







