1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. Presiden Prabowo Terapkan Pintu Tunggal Ekspor Sawit

Kejar Produktivitas, Pekebun Sawit Dibekali Budidaya dan ISPO

Palembang, Agrina-online.com. Produktivitas kebun sawit rakyat Indonesia masih menyisakan pekerjaan rumah yang besar. Di banyak daerah, hasil produksi belum mampu mendekati potensi optimal, padahal kebutuhan minyak sawit terus meningkat dan pasar semakin menuntut praktik perkebunan yang berkelanjutan.

Kondisi tersebut mendorong pemerintah mengalihkan perhatian dari sekadar perluasan areal menuju peningkatan kapasitas pekebun. Salah satu langkahnya diwujudkan melalui Pelatihan Budidaya Kelapa Sawit Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit Tahun 2026 yang digelar Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan PT Sumber Daya Indonesia Berjaya (PT SIB) di Palembang.

Sebanyak 165 pekebun dari Kabupaten Banyuasin dan Musi Banyuasin mengikuti pelatihan yang tidak hanya membahas teknik budidaya, tetapi juga mempersiapkan pekebun menghadapi standar Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) yang kini semakin menjadi tuntutan industri.

Direktur Utama PT Sumber Daya Indonesia Berjaya, Andi Yusuf Akbar mengatakan, pengembangan sumber daya manusia merupakan fondasi utama untuk meningkatkan daya saing perkebunan rakyat.

“Pelatihan ini dirancang untuk meningkatkan kompetensi peserta secara menyeluruh, mulai dari aspek pengetahuan, sikap, hingga keterampilan teknis di lapangan,” kata Andi Yusuf saat membuka kegiatan, Senin (22/6).

Menurut Andi Yusuf, selama enam tahun terakhir PT SIB dipercaya Direktorat Jenderal Perkebunan dan BPDP menyelenggarakan berbagai program pengembangan kapasitas pekebun di sejumlah daerah sentra sawit.

Seluruh materi yang diberikan mengacu pada pedoman teknis pemerintah. Selain pembelajaran di kelas, peserta juga mengikuti diskusi, praktik lapangan, hingga kunjungan ke Koperasi Rukun Amanah Sejahtera di Kabupaten Banyuasin yang telah mengantongi sertifikat ISPO.

Pemilihan koperasi tersebut bukan tanpa alasan. Peserta diharapkan dapat melihat secara langsung bagaimana praktik budidaya yang baik (Good Agricultural Practices, GAP), pengelolaan kelembagaan, hingga pemenuhan standar keberlanjutan diterapkan di tingkat pekebun.

“Peserta akan belajar tidak hanya dari teori, tetapi juga dari praktik yang sudah berhasil diterapkan oleh pekebun yang telah tersertifikasi,” ulasnya.

 

Produktivitas Masih Jauh dari Potensi

Ketua Kelompok Pemberdayaan dan Kelembagaan Kelapa Sawit, Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian, Mula Putra menguraikan, produktivitas kebun sawit rakyat masih menjadi perhatian utama pemerintah. Saat ini rata-rata produktivitas kebun rakyat berada pada kisaran 3,3–3,5 ton minyak sawit per hektar per tahun. Padahal dengan penerapan budidaya yang baik, produktivitas dapat mencapai 5–6 ton per hektar.

“Masih terdapat gap produktivitas yang cukup besar antara kondisi aktual dan potensi yang sesungguhnya bisa dicapai. Menutup kesenjangan inilah yang menjadi fokus pemerintah,” katanya.

Menurut Mula, kesenjangan tersebut dipengaruhi banyak faktor, mulai dari penggunaan benih yang kurang berkualitas, teknik budidaya yang belum sesuai rekomendasi, hingga pemeliharaan tanaman yang belum optimal.

Karena itu pemerintah terus memperkuat sejumlah program, mulai dari Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), penyediaan sarana dan prasarana, hingga pengembangan kapasitas SDM melalui pelatihan dan pendampingan.

 

ISPO Bukan Lagi Pilihan

Selain produktivitas, isu keberlanjutan juga menjadi materi penting dalam pelatihan. Bagi pemerintah, penerapan ISPO kini tidak lagi dipandang sebagai pelengkap, melainkan bagian dari kebutuhan industri sawit nasional. “Pemerintah menyadari bahwa sumber daya manusia merupakan faktor kunci dalam meningkatkan produktivitas sekaligus mewujudkan perkebunan yang berkelanjutan,” ujar Mula.

Ia menegaskan, pelatihan merupakan pintu masuk agar pekebun memahami berbagai persyaratan menuju sertifikasi ISPO. “Pelatihan ini bukan hanya soal meningkatkan keterampilan teknis, tetapi juga mengubah mindset agar prinsip-prinsip keberlanjutan benar-benar diterapkan dalam pengelolaan kebun,” katanya.

Ia berharap para peserta tidak berhenti pada proses belajar selama pelatihan, tetapi mampu menjadi penggerak di daerah masing-masing. “Peserta harus menjadi agen perubahan dan agen penyebaran pengetahuan bagi sesama pekebun,” tegasnya.

 

Regenerasi Pekebun Mulai Terlihat

Pelatihan kali ini juga menghadirkan optimisme baru. Sekretaris Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan, Dian Eka Putra menilai, semakin banyaknya peserta dari kalangan muda menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan industri sawit. “Kami melihat cukup banyak peserta dari kalangan generasi muda. Ini menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan sektor perkebunan ke depan,” ucapnya.

Dia menjabarkan, generasi muda memiliki kemampuan lebih cepat dalam mengadopsi teknologi, memanfaatkan perangkat digital, dan menerapkan praktik budidaya yang lebih modern sehingga dapat memperkuat daya saing perkebunan rakyat.

Senada dengan itu, Pelaksana Tugas Kepala Bidang Perizinan dan Penyuluhan Perkebunan Kabupaten Banyuasin, Sunarso mengingatkan bahwa keberhasilan pelatihan akan ditentukan oleh penerapan ilmu di lapangan. “Ilmu yang diperoleh jangan berhenti pada tataran teori. Harus diterapkan di lapangan dan dibagikan kepada pekebun lainnya agar manfaatnya semakin luas,” terangnya.

Kolaborasi antara Ditjen Perkebunan, BPDP, PT SIB, pemerintah daerah, dan kelembagaan pekebun diharapkan menjadi pengungkit peningkatan produktivitas sawit rakyat. Di tengah persaingan global dan tuntutan keberlanjutan yang semakin kuat, kualitas sumber daya manusia dipandang sebagai investasi yang sama pentingnya dengan benih unggul maupun teknologi budidaya.

 

 

Windi Listianingsih

Tag:

Bagikan:

Trending

pelatihan sdm sawit
Kejar Produktivitas, Pekebun Sawit Dibekali Budidaya dan ISPO
IMG-20260623-WA0031
Produktivitas Sawit Rakyat Masih Tertinggal, SDM Pekebun Jadi Kunci
Pupuk Indonesia hanya melaksanakan ekspor berdasarkan penugasan resmi pemerintah
Transformasi Tata Kelola dan Efisiensi, Pupuk Indonesia Kembali Masuk Fortune Southeast Asia 500
AEO KBI 170626
Raih Sertifikasi AEO, Kona Bay Indonesia Tegaskan Komitmen Standar Perdagangan Internasional
WMU targetkan peningkatan kapasitas hingga 500.000 ekor pada 2027, berpotensi sebagai produsen telur cage-free terbesar di Asia Tenggara.
WMU Berpeluang Menjadi Produsen Telur Cage-Free Terbesar di Asia Tenggara
Scroll to Top