1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. Presiden Prabowo Terapkan Pintu Tunggal Ekspor Sawit

Produktivitas Sawit Rakyat Masih Tertinggal, SDM Pekebun Jadi Kunci

Palembang, Agrina-online.com. Perkebunan kelapa sawit rakyat masih menyimpan ruang besar untuk meningkatkan produktivitas. Persoalannya bukan semata soal benih atau pupuk, melainkan kemampuan pekebun menerapkan teknik budidaya yang benar sejak tanaman ditanam hingga dipanen.

Kesenjangan itulah yang kini menjadi perhatian pemerintah. Rata-rata produktivitas kebun sawit rakyat masih berada di kisaran 3,3–3,5 ton minyak sawit per hektare per tahun, sementara potensinya dapat mencapai 5–6 ton per hektare. Selisih tersebut menunjukkan bahwa peningkatan hasil masih bisa dicapai tanpa harus membuka lahan baru.

Upaya memperkecil kesenjangan itu kembali dilakukan melalui Pelatihan Budidaya Kelapa Sawit Program Pengembangan SDM Perkebunan 2026 Angkatan III di Palembang, Senin (22/6). Program ini merupakan kolaborasi Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), dan PT Sumber Daya Indonesia Berjaya (PT SIB), dengan melibatkan 30 pekebun asal Kabupaten Banyuasin.

Sekretaris Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan, Dian Eka Putra mengatakan peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi investasi yang menentukan masa depan industri sawit, terutama bagi daerah penghasil utama seperti Sumatera Selatan.

“Pengembangan SDM perkebunan merupakan investasi jangka panjang yang sangat penting. Produktivitas kebun tidak hanya ditentukan oleh luas lahan atau ketersediaan sarana produksi, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia yang mengelolanya,” kata Dian.

Sumatera Selatan selama ini menjadi salah satu pilar produksi sawit nasional. Kabupaten Musi Banyuasin, Banyuasin, dan Ogan Komering Ilir menjadi daerah dengan kontribusi produksi terbesar. Di tengah posisi strategis tersebut, tuntutan terhadap sektor sawit juga terus berkembang. Pekebun kini dituntut mampu menghasilkan produksi yang lebih tinggi sekaligus memenuhi standar keberlanjutan yang semakin diperhatikan pasar.

Karena itu, menurut Dian, pelatihan menjadi sarana penting agar petani mampu menerapkan praktik budidaya yang lebih efisien dan sesuai dengan kaidah yang berlaku.

Hal lain yang menarik perhatian dalam pelatihan kali ini adalah meningkatnya keterlibatan generasi muda. Dian menilai regenerasi menjadi modal penting bagi keberlanjutan sektor perkebunan. “Kami melihat cukup banyak peserta dari kalangan generasi muda. Ini menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan sektor perkebunan ke depan,” ujarnya.

Menurut Dian, petani muda memiliki peluang lebih besar dalam mengadopsi teknologi, memanfaatkan aplikasi digital, hingga mengelola usaha tani secara lebih profesional. Kemampuan tersebut dibutuhkan agar kebun rakyat mampu bersaing dengan perkembangan industri sawit yang terus berubah.

Ketua Kelompok Pemberdayaan dan Kelembagaan Kelapa Sawit, Ditjen Perkebunan, Mula Putra menjelaskan, pemerintah saat ini lebih menitikberatkan upaya peningkatan produktivitas dibandingkan ekspansi lahan. “Masih terdapat gap produktivitas yang cukup besar antara kondisi aktual dan potensi yang sesungguhnya bisa dicapai. Menutup kesenjangan inilah yang menjadi fokus pemerintah,” katanya.

Ia menuturkan, rendahnya produktivitas kebun rakyat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari penggunaan benih yang belum unggul, teknik budidaya yang belum sesuai rekomendasi, pemupukan yang kurang tepat, hingga pemeliharaan tanaman yang belum optimal.

Melalui pelatihan, pemerintah berharap praktik budidaya yang lebih baik dapat diterapkan secara lebih luas sehingga produktivitas meningkat tanpa menambah luas areal tanam. Pendekatan tersebut dinilai lebih menguntungkan bagi pekebun sekaligus mendukung upaya menjaga lingkungan.

Direktur Utama PT Sumber Daya Indonesia Berjaya (PT SIB), Andi Yusuf Akbar menilai, transformasi perkebunan sawit rakyat tidak akan berjalan tanpa peningkatan kapasitas pelaku utamanya. “Pelatihan ini dirancang untuk meningkatkan kompetensi peserta secara menyeluruh, mulai dari aspek pengetahuan, sikap, hingga keterampilan teknis di lapangan,” ucapnya.

Menurut pandangan Andi, perubahan teknologi dan dinamika pasar menuntut pekebun untuk terus belajar agar mampu mengelola kebun secara lebih efisien dan berdaya saing. SDM yang kompeten juga menjadi fondasi dalam penerapan praktik perkebunan berkelanjutan yang kini semakin dibutuhkan industri.

Kolaborasi BPDP, Direktorat Jenderal Perkebunan, dan PT SIB diharapkan menjadi salah satu cara mempercepat peningkatan kapasitas pekebun, terutama di daerah-daerah sentra produksi seperti Sumatera Selatan. Ketika kemampuan petani meningkat, peluang untuk mengejar produktivitas yang selama ini masih tertinggal pun semakin terbuka.

 

Windi Listianingsih

Tag:

Bagikan:

Trending

pelatihan sdm sawit
Kejar Produktivitas, Pekebun Sawit Dibekali Budidaya dan ISPO
IMG-20260623-WA0031
Produktivitas Sawit Rakyat Masih Tertinggal, SDM Pekebun Jadi Kunci
Pupuk Indonesia hanya melaksanakan ekspor berdasarkan penugasan resmi pemerintah
Transformasi Tata Kelola dan Efisiensi, Pupuk Indonesia Kembali Masuk Fortune Southeast Asia 500
AEO KBI 170626
Raih Sertifikasi AEO, Kona Bay Indonesia Tegaskan Komitmen Standar Perdagangan Internasional
WMU targetkan peningkatan kapasitas hingga 500.000 ekor pada 2027, berpotensi sebagai produsen telur cage-free terbesar di Asia Tenggara.
WMU Berpeluang Menjadi Produsen Telur Cage-Free Terbesar di Asia Tenggara
Scroll to Top