Jakarta, Agrina-online.com – Situasi geopolitik global yang memanas beberapa belakangan ini memberikan dampak nyata bagi sektor pertanian di dalam negeri.
Asosiasi Perbenihan Indonesia (Asbenindo) mengungkapkan bahwa kombinasi antara lonjakan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kian menekan industri perbenihan nasional.
Ketua Umum Asbenindo, Ayub Darmanto, menjelaskan bahwa konflik yang dipicu oleh serangan ke Iran sejak 28 Februari lalu telah membuat harga minyak melonjak hingga 70-100%.
Ketidakpastian mengenai kapan konflik ini akan berakhir membuat kondisi pasar menjadi sangat tidak kondusif.
Menurut Ayub, lonjakan harga minyak dunia ini berdampak langsung pada komponen input biaya produksi benih di dalam negeri. Para produsen benih lokal kini harus menghadapi kenaikan harga berbagai bahan penunjang berbahan dasar plastik dan barang impor.
“Mulai dari bursa (mulsa) plastik yang biasa digunakan petani produsen, harga pupuk—terutama pupuk impor yang harganya melonjak otomatis, bahan-bahan kemasan lainnya seperti kemasan plastik dan karung, semuanya mengalami kenaikan. Beruntung BBM belum naik, sehingga sektor transportasi saat ini masih belum bergejolak,” ujarnya dalam acara Media Briefing bertema ”Harga Agroinput dan Beban Produksi Meningkat, Bagaimana Solusi industri” di Cilandak (8/6).
Tantangan lebih berat dihadapi oleh segmen benih yang pemenuhannya masih bergantung pada impor, seperti golongan brassica (kubis, sawi putih, pakcoy, bunga kol, dan brokoli). Kenaikan harga pada lini ini dinilai sudah tidak dapat ditahan lagi.
Dilema terbesar bagi pelaku usaha adalah sistem pembayaran kepada supplier luar negeri. Ayub memaparkan, bagi pembelian yang menggunakan sistem tunai (cash), dampaknya tidak terlalu terasa karena menggunakan kurs yang sudah dikunci di awal.
Namun, masalah besar muncul pada sistem pembayaran tempo (30 hingga 60 hari) yang berbasis kepercayaan dengan mitra lama.
“Ini yang agak repot. Begitu barang datang atau stok lama belum terbayar, kita sudah menjualnya di pasar domestik dengan perhitungan kurs dolar di kisaran Rp16.000. Tahu-tahu saat jatuh tempo pembayaran, kurs dolar sudah melonjak ke Rp18.000, bahkan ada prediksi dari BI bisa mencapai Rp20.000,” jelasnya.
Jika perusahaan langsung menaikkan harga mengikuti batas kurs tertinggi, produk mereka terancam tidak kompetitif di pasaran karena kompetitor mungkin masih memiliki stok lama.
Sebaliknya, jika harga terus-menerus diubah dalam waktu singkat, citra perusahaan akan memburuk karena dianggap memanfaatkan situasi, padahal kenyataannya perusahaan menanggung kerugian yang cukup besar.
Menyikapi hal ini, Asbenindo memilih mengambil langkah wait and see (menunggu dan memantau situasi) sambil terus mengamati pergerakan harga di lapangan.
“Sementara kita ambil risiko ini dulu. Kalau kompetitor naik 10%, ya kita ikut dulu di situ, walaupun hitung-hitungan 10% itu sebenarnya belum bisa meng-cover pelemahan kurs,” tambahnya.
Sebagai solusi jangka panjang dalam menghadapi ketidakpastian ini, Ayub menekankan pentingnya edukasi agar petani Indonesia bertransformasi menjadi “Petani Cerdas” yang mengedepankan tiga prinsip: Cerdas, Efisien, dan Tepat Guna/Tepat Produk.
“Saya sering bilang ke petani sayur, kalau harga suatu komoditas lagi mahal, jangan ikuti nanam. Carilah yang harganya saat ini sedang murah. Insya Allah saat panen nanti dapat harga bagus karena seluruh Indonesia jarang ada yang mau menanam kubis,” pungkasnya.
Sementara itu, Dewan Pakar Agroinput, Midzon Johannis mengungkapkan bahwa sektor pertanian global maupun domestik sedang berada dalam situasi yang tidak baik-baik saja.
Menurut Midzon, istilah “pestisida” sebenarnya sangat umum. Khusus untuk sektor pertanian, industri lebih tepat menyebutnya sebagai Prolintan (Produk Perlindungan Tanaman).
Produk ini memiliki peran krusial di mana 30% hingga 40% hasil panen terancam hilang jika petani tidak menggunakan Prolintan secara tepat.
Sayangnya, industri ini sangat bergantung pada pergerakan harga minyak bumi dan nilai tukar dolar AS akibat faktor-faktor berikut: Bahan Baku Berbasis Minyak Bumi.
Seluruh komponen formulasi Prolintan, mulai dari bahan aktif (active ingredients), bahan tambahan (inert ingredients), pelarut (solvent), hingga bahan pembantu (adjuvant)—berbasis pada minyak bumi. Jika harga minyak mentah melonjak, otomatis biaya produksinya ikut terkerek naik.
Ketergantungan impor yang tinggi. Indonesia masih mengimpor sekitar 85% hingga 90% bahan aktif Prolintan, dengan sumber utama dari Tiongkok. Produksi lokal saat ini baru mencakup 10%-15% untuk produk-produk lama seperti karbamat dan glifosat.
Terakhir, efek Ganda Pelemahan Rupiah: Dengan nilai dolar yang terus menguat tajam (sempat menyentuh angka Rp18.188), biaya impor bahan baku menjadi berkali-kali lipat lebih mahal bagi industri dalam negeri.
“Jadi dobel-dobel harganya. Di negara asal (Tiongkok dan India) harga produksinya naik karena pasokan minyak mereka lewat Selat Hormuz terganggu konflik, lalu di dalam negeri kita juga dihantam kenaikan dolar,” ujarnya.
Bukan hanya bahan kimia aktif yang bermasalah lanjut Midzon, struktur biaya kemasan (packaging) yang porsinya mencapai 15%–20% dari total biaya produksi juga ikut meledak. Pestisida memerlukan spesifikasi botol plastik yang sangat kuat seperti HDPE dan PET.
Bahan baku plastik (nafta) juga merupakan turunan minyak bumi, harga retail kemasan di tingkat industri dilaporkan telah melonjak antara 50% -110%. Kenaikan ekstrem ini diakui sangat menggerus margin keuntungan perusahaan-perusahaan Prolintan.
Menghindari gejolak tersebut lanjutnya, saat ini mayoritas perusahaan mengambil “modus bertahan” dengan menekan margin keuntungan mereka ke batas minimum agar harga produk tetap terjangkau oleh petani.
Namun, strategi bertahan ini dinilai tidak akan bisa bertahan lama karena berisiko memicu kerugian operasional hingga pengurangan tenaga kerja.
Menghadapi situasi pelik ini, Midzon menawarkan sejumlah rekomendasi strategis bagi pemerintah, industri, dan petani. pertama, insentif Fiskal dari Pemerintah (Jangka Pendek).
Pemerintah diharapkan hadir memberikan kelonggaran sementara, seperti insentif fiskal atau pemotongan bea masuk bagi bahan baku pesitisida penting agar industri bisa bertahan dan harga di tingkat petani tetap stabil.
Kedua, edukasi Petani Lebih Rasional: Petani diimbau untuk tidak lagi berlebihan dalam menggunakan pestisida. Penggunaan harus menganut prinsip tepat sasaran, tepat waktu, dan tepat dosis agar biaya produksi tidak membengkak sia-sia.
Ketiga, regulasi Daur Ulang Kemasan (Circular Economy): Sebenarnya kemasan bekas pestisida bisa didaur ulang untuk menekan penggunaan plastik baru. Sayangnya, langkah ini masih terhambat oleh aturan regulasi yang belum melonggarkan pemanfaatan wadah bekas tersebut.
Di akhir pemaparannya, Midzon memberikan peringatan keras kepada pemerintah dan pelaku industri untuk memperketat pengawasan di lapangan.
Situasi kelangkaan atau tingginya harga produk asli rawan dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab untuk mengedarkan pestisida palsu dan benih tiruan berharga murah.
Jika petani terjebak membeli produk palsu ini, dampak kerusakannya akan jauh lebih fatal bagi tanaman dan total produksi pangan nasional
Sabrina Yuniawati







