16 April 2018
Satukan Visi Sebagai Solusi Sehat Tanpa AGP

Mengganti penggunaan AGP tidak bisa mengistimewakan satu lini saja, tapi keseluruhan. Pemangku kepentingan terkait pun wajib satu suara.

Pelarangan penggunaan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan (Antibiotic Growth Promoter – AGP) resmi diberlakukan mulai Januari silam. Namun demikian, dunia perunggasan masih saja merasa pemberlakuan keputusan tersebut mendadak. Peternak tak bisa lagi protes mengapa AGP dilarang, mau tak mau aturan ini mesti mereka jalankan.

Saat ini, peternak masih mencari formula yang tepat pengganti AGP. Sejumlah bahan alternatif pengganti yang tersedia di pasaran memang memberikan banyak pilihan, tetapi untuk mendapatkan yang tepat, peternak masih butuh pencerahan. Meskipun ongkos produksi jadi bertambah, Dudung Rahmat, peternak broiler asal Bogor berujar, peternak memerlukan peranan swasta dan pemerintah, baik peneliti maupun akademisi.

Menanggapi kegelisahan para pemangku kepentingan pascapenyetopan AGP, I Ketut Diarmita, DIrektur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, mengajak untuk menyamakan visi bersama ke depan. Ia menggarisbawahi, maju-mundurnya dunia peternakan di Tanah Air, bergantung pada semua pihak yang terjun di dalam bidang peternakan dan kesehatan hewan.

“Para peternak dan semua stakeholder perlu menyatukan visi. Memikirkan bersama bagaimana langkah strategis yang harus dilakukan demi menghindari dampak buruk akibat penggunaan AGP,” imbau Kepala Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar periode 2010-2015 ini.

Demi Harga Diri

Kendati belum ada data yang menunjukkan penggunaan AGP berdampak pada unggas ke manusia, Ketut mengungkapkan, bahaya efek residu antibiotik pada pangan telah menjadi perhatian dunia. Mengutip hasil penelitian tenaga ahli dari organisasi kesehatan dunia (World Health Organization - WHO), Ketut menyebut hingga saat ini tidak kurang dari 700 ribu orang meninggal tiap tahun akibat resistensi terhadap antibiotik.

“Expert WHO sangat mengkhawatirkan terjadinya resistensi antibiotik pada manusia. Meskipun sampai hari ini sebenarnya belum ada referensi yang mengatakan bahwa dari daging ke manusia ada hubungan yang menyebabkan resistensi,” papar mantan Direktu Kesehatan Hewan ini.

Potensi terjadinya resistensi tetap ada. Jadi, untuk menghindari kemungkinan meluasnya resistensi antibiotik pada generasi mendatang, peternak diminta taat terhadap aturan penghapusan AGP sebagai imbuhan pakan. Ketut menegaskan, kebijakan pelarangan AGP ini guna terwujudnya pangan yang aman dan sehat bagi masyarakat. Ia juga mengajak semua pihak untuk senantiasa memperbaiki kualitas produk pangan asal ternak

“Kita juga ingin bangsa kita dihargai oleh bangsa lain. Jika produk kita aman, tentu produk kita juga dilirik oleh negara lain. Ayo ikut aturan internasional. Bangsa ini adalah bangsa yang sangat besar, bangsanya pejuang, dan bangsa yang disegani bangsa lain,” ajaknyanya.

Kenapa AGP?

Direktur Kesehatan Hewan, Ditjen PKH, Kementan, Fadjar Sumping Tjatur Rasa mengatakan, antiboitk dalam peternakan Indonesia digunakan untuk pengobatan, pencegahan, dan pemacu pertumbuhan. Setelah berlakunya Permentan No. 14/2017 tentang klasifikasi obat hewan, antibiotik hanya boleh digunakan sebagai terapi (pengobatan).

Fadjar mengungkap, sebanyak 80% peternakan unggas di Indonesia menggunakan antibiotik. Sementara untuk ayam layer (petelur), antibiotik digunakan sebanyak 97,5% sebagai pengobatan, untuk pencegahan 50%, dan peningkatan produksi (AGP) sebesar 30%.

Dari sisi peternak, Dudung menyadari maksud baik diterbitkannya permentan tersebut. Namun demikian, Ketua Perhimpunan Peternak Unggas Nusantara (PPUN) ini berpandangan, industri perunggasan belum sepenuhnya siap memproduksi ayam dan telur tanpa AGP. Dalihnya, masih banyak peternak rakyat, baik broiler ataupun layer, berbudidaya dengan kandang terbuka. Inilah yang mendasari mengapa antibiotik begitu penting karena peran besarnya mengurangi risiko kejadian infeksi pada masa produksi.

Dari segi kesehatan unggas, Bambang Sutrasno mengakui, dampak dicabutnya penggunaan AGP pada pakan akan menimbulkan masalah pada kesehatan unggas. Khususnya kesehatan organ pencernaan. “Kalau tidak diantisipasi dengan baik, pertumbuhan akan melambat (slow growth) dan akan timbul penyakit necrotic enteritis (NE), serta diare oleh bakteri oportunis di saluran cerna,” beber General Manager Marketing Area Lampung  PT Charoen Pokphand Indonesia ini.

Kelanjutan tentang tulisan ini baca di Majalah AGRINA versi Cetak volume 14 Edisi No. 286 yang terbit April 2018. Atau, klik di : https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/agrinahttps://higoapps.com/item/1774/agrina-edition-jan-2018, https://www.mahoni.com, dan https://www.magzter.com/ID/PT.-Permata-Wacana-Lestari/Agrina/Business/

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE