16 April 2018
Menyidik Gangguan Myo Zaman Now

IMNV kembali beraksi. Muncul dugaan virus baru bernama SHIV.

Sempat lama tidak terdengar suaranya, Infectious Myo Necrosis Virus (IMNV)kembali marak beredar di lokasi tambak udang. Menurut Yuri Sutanto, Senior Scientist Technology &Research Division PT Central Proteina Prima (CPP),Tbk., penyakit bernama beken myo itu menjadi masalah cukup berat di Lampung dan Jakarta (Banten) pada 2016.

“Di Medan dan Aceh, Jateng, Indonesia Timur relatifrendah. Pada 2015-2014 Lampung tetap memiliki masalah dengan IMNV,” ulas Yuri. Hingga September 2017 tercatat terjadi peningkatan serangan myo di sentra produksi utama si bongkok.

“Di semua wilayah budidaya tetap dominan IMNV,” jedanya, “Di Lampung, Jatim masih terjadi. Ini permasalahan infeksi.”Kematian udang vaname karena myo di wilayah Indonesia Timur relatif bisa terkelola. Meskiserangan cukup tinggi tapi kematian bisa ditekan. “Lampung kebalikan, banyak terjadi kematian karena IMNV,” tandasnya.

Kondisi itu dialami Puji Lestari, pembudidaya udang di Lampung. “Kalau WFD (White Feces Disease) sedikit banyak bisa kami tanggulangi. Tapi, WFD outbreak (mewabah) plus myo, kami masih agak kewalahan. Myo sekalinya outbreak sudah mulai luar biasa kematiannya,” ungkap Puji. Seperti apa jejak myo zaman now (sekarang) di Tanah Air?

Lampung dan Bengkulu

Awal jejak IMNV di Indonesia tercatat di Situbondo, Jatim pertengahan 2006. Penyakit itu pun sempat melumpuhkan produksi udang nasional pada 2009-2010. Menurut Dr. Arief Taslihan, M.Si., perekayasa Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau Jepara, Jateng, pembudidaya menanggung rugi sebanyak Rp200 miliar - Rp300 miliar akibat serangan myo. Sebab, terjadi penurunan produksi vaname hingga 100 ribu ton.

Di Lampung, Bambang Nurdiyanto, Tim Iptek Forum Komunikasi Praktisi Aquakultur (FKPA) menjelaskan, myo ditemukan pertama kali di Kec. Padangcermin, Kab. Pesawaran pada 2008. Kini serangan virus itu merata hingga ke zona Labuhan Maringgai, Ketapang di Pantai Timur Lampung; Kalianda, Padang Cermin, Punduh Pidada di Pantai Selatan; Tanggamus hingga Pesisir Barat, dan Bintuhan, Kab. Kaur, Bengkulu.

Saat FKPA melakukan pemetaan sebaran IMNY pada 2010, Lampung Timur ada di zona merah dan Teluk Lampung masuk zona kuning. Sedangkan, Tanggamus sampai Pesisir Barat, ungkapnya, “Masih zona hijau, alias myo belum menyerang di perairan itu. Kini justru Tanggamus dan Pesisir Barat sudah zona merah myo.”

Taufik Hidayat, Ketua FKPA Lampung menambahkan, myo masih jadi momok budidaya udang di Pesisir Barat. Sekitar 70% tambak di daerah ini terpapar myo. Mulanya Taufik menduga myo berasal dari truk panen atau kendaraan sales, technical support (TS) perusahaan saprotam, dan benur. Ia pun membuat areal parkir kendaraan sejauh 500 m dari tambak untuk mencegah sirkulasi penyakit. Nyatanya, myo tetap melanda.

Kemudian,pengelola tambak dalam satu kawasan melakukan libur massal tebar benur selama dua bulan dan mengganti benur daripembenihan yang berbeda. Serangan IMNV tetap ada, hanya persentasenya mulai berkurang.Terakhir, Taufik menurunkan padat tebartapi masih dikisaran 200 ekor/m2 dengan kedalaman kolam di atas 2 m. Sebagian pembudidaya juga mulai membangun tandon dan instalasi pembuangan air limbah (IPAL).

Berdasarkan riset tim CPP,Taufik mencuplik,IMNV yang sudah merata dari perairan Pesisir Barat Lampung hingga Bengkulu, menyebabkannya sulit dikendalikan. “Jadi meskipun air di tandon sudah disterilisasi, virus myo tidak mati sehingga tetap masuk ke kolam,” ujarnya.

Kelanjutan tentang tulisan ini baca di Majalah AGRINA versi Cetak volume 14 Edisi No. 285 yang terbit pada Maret 2018. Atau klik di https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/agrinahttps://higoapps.com/item/1774/agrina-edition-jan-2018, https://www.mahoni.com, dan https://www.magzter.com/ID/PT.-Permata-Wacana-Lestari/Agrina/Business/

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE