16 April 2018
Racikan Resep Pengendali IMNV

Mulai dari benur hingga pengaturan pola budidaya perlu diperhatikan agar panen udang bisa optimal. 

Ali Kukuh, Ketua Shrimp Club Indonesia (SCI) wilayah Lampung mengakui, myo adalah penyakit udang vaname yang paling sulit dikendalikan. Namun dibandingkan White Spot Syndrome Virus (WSSV), udang yang terserang myo masih bisa panen.“Jika udang terserang myo sudah pada umur 60 hari ke atas, maka sudah bisa dilakukan panen parsial karena biasanya ukurannya sudah 70 ke atas,” ulasnya.

Pun H.Mulyono, pembudidaya di Kel. Bandarnegeri, Kec. Labuhan Maringgai, Kab. Lampung Timur lebih memilih udangnya terkena myo daripada kotoran putih aliasWhite Feces Disease (WFD). “Daripada mogok makan kena tai putih (WFD), enak kena myo. Kalau kena myo, insyaAllah bisa diatasi,” ungkapnya.

Berdasarkan pengalaman Ali, penyakit bernama lengkap Infectious Myonecrosis Virus (IMNV) itu hanya bisa dicegah dan tidak bisa diobati. Sementara Mulyono juga sukses mencegah kehadiran myo meski kolamnya dikelilingi tambak tradisional. Bagaimana kiat menghadapinya?

Kembalikan Daya Dukung

Ali melakukan pencegahan dengan sterilisasi air, membangun tandon dan instalasi pengolahan air limbah, memilih benur berkualitas, menurunkan padat tebar,dan memberi pakan sesuai porsi.Ia hanya menebar udang sebanyak 80-100 ekor/m2.Pertumbuhan bobot harian udang yang dijatah secukupnya memang tidak setinggi udang yang pemberian pakannya jor-joran.Namun,tindakan itu bisa mengendalikan penyakit dan mengurangi konversi pakan.

Mulyono menekankan pentingnya menjaga kualitas air agar udang terhindari IMNV. “Satu, jaga air. Terus teknisi tambak harus sering mengambiludang yang mati, diangkatin terus udang yang mati. Nanti bisa sembuh,” ulas perintis budidaya udang sistem intensif di Bandarnegeri yang menjaga kualitas air dengan membangun tandon inlet dan melakukan sterilisasi bahan baku air kolam.

Untuk mengatasi myo yang tengah merebak, Yuri Sutanto, Senior Scientist Technology &Research Division PT Central Proteina Prima,Tbk. menganjurkan petambak agar mengembalikan daya dukung (carrying capacity) lingkungan. Daya dukung dipengaruhi teknik budidaya, seperti suplai kincir, suplai oksigen, dan manajemen kolam. Jika tidak sesuai daya dukung, sarana produksi tambak harus diperbaiki atau densitas udang dikurangi untuk menyeimbangkan. Karena nggakada obat untuk mengatasi itu (myo),” paparnya.

Jika budidaya menggunakan sistem bioflok, suplai oksigen harus intens. Yuri menerangkan, “Kincir harus banyak sekali. Jangan sampai terkendala suplai listriknya”Sementara, sistem plankton harus memperhatikan keseimbangan plankton.Saat cuaca mendung sepanjang hari, biasanya plankton akan drop. 

Terkait hal itu, Narendra Santika Hartana, Supervisor Animal Health PT Suri Tani Pemuka (STP) juga menekankan pembudidaya agar tidak melanggar batas daya dukung lingkungan. Daya dukung lahan ini berbeda-beda setiap lokasi. Kita pasang standar, kincir 1 HP untuk 25 ribu ekor benur. Saat itu sudah terlewati, mau nggak mau harus ada panen parsial,” sarannya

  Selain dari benur, sambungnya, batasi daya dukung melalui pakan. “Kincir 1 HP untuk 10 kg pakan. Saat sudah lewat, kita harus warning, parsial jangan telat,”imbuh dia. Guna mengurangi kelebihan pakan (overfeeding), pembudidaya bisa menggunakan alat pakan otomatis (automaticfeeder). Ini bisa mencegah penumpukan limbah di dasar kolam. Sehingga, pertumbuhan bakteribisa dikurangi, parameter fosfat dan bahan organik total (Total Organic MatterTOM)akan turun.

Kelanjutan tentang tulisan ini baca di Majalah AGRINA versi Cetak volume 14 Edisi No. 285 yang terbit pada Maret 2018. Atau klik di https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/agrinahttps://higoapps.com/item/1774/agrina-edition-jan-2018, https://www.mahoni.com, dan https://www.magzter.com/ID/PT.-Permata-Wacana-Lestari/Agrina/Business/

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE