09 February 2018
Nikmatnya Jadi Petani Muda

Bertani sekarang lebih mudah dan menguntungkan dengan menerapkan teknologi.

 

Sejak kecil tak pernah terlintas dalam benak Asep Ana Mardiana untuk menjadi petani. Padahal lelaki asal Desa Rancasari, Kecamatan Pamanukan, Kabupaten Subang, Jawa Barat, ini berasal dari keluarga petani.

Namun kini pria berusia 34 tahun ini nyaman dan bersemangat menjalani profesinya sebagai petani. Dengan latar belakang pendidikan broadcast (penyiaran), ia sempat bekerja dalam bidang engineering. Lalu pada 2007 ia kembali ke kampung halamannya untuk meneruskan usaha sawah milik keluarga. “Awalnya, saya ikut bantu mengelola sawah almarhum ayah saya yang luasnya sekitar satu hektar,” kata sulung tiga bersaudara ini kepada AGRINA.

Sambil mengelola sawah, ayah satu anak ini juga mencoba peruntungan membuka toko sarana produksi pertanian. Secara bertahap usaha tani Asep pun terus berkembang. Dari satu hektar lahan, kini ia sudah mengelola 5 hektar lahan sawah. Sebagian milik sendiri, sebagian lainnya sewaan.

Menurut Asep, produktivitas padinya rata-rata mencapai 9 ton/ha, malah kadang bisa di atas 10 ton/ha. Ia menanam varietas IR-42 yang saat ini harga jual gabahnya sekitar Rp5.000/kg. Biaya produksinya sekitar Rp10 juta/ha.

Kalau dihitung, pendapatan kotor Asep satu musim tanam (sekitar 3 bulan) dengan lahan 5 hektar bisa mencapai Rp225 juta. Total biaya produksi sebesar Rp50 juta. Artinya, pendapatan bersihnya tak kurang dari Rp175 juta, itu belum termasuk pemasukan toko pertaniannya.

 

Mudah Bertani

Pencapaian Asep tersebut tidak didapat dengan mudah. Ia mengaku mula-mula produktivitas padinya tidak setinggi sekarang. Namun dengan menerapkan pengolahan lahan dan pemupukan yang tepat waktu dan tepat dosis, secara bertahap produksi padinya meningkat. “Dari musim ke musim saya terus mempelajari dan menerapkan bagaimana cara meningkatkan produktivitas padi,” ungkapnya.

Keberhasilan tersebut diikuti petani padi lain di daerahnya. Menurut Asep, bertani padi zaman sekarang lebih mudah karena tersedia alat-alat pertanian seperti traktor dan mesin pemanen yang ikut memudahkan proses pengolahan lahan dan pemanenan serta menekan biaya produksi.

Karena itu ia berpesan kepada petani di mana saja yang ingin meningkatkan produksi, sebaiknya mengenali dulu unsur hara tanah sawah masing-masing. Caranya dengan mengukur kualitas tanah menggunakan alat yang sudah banyak tersedia di toko pertanian atau bisa juga pinjam dari sesama petani.

Setelah tahu kondisi awal kualitas unsur hara tanah, lanjut dia, baru bisa ditentukan jenis, jumlah, dan waktu pemupukan yang cocok untuk tanah tersebut. “Dengan begini, usaha bertani padi bisa lebih efisien dan saya sendiri sudah membuktikan hasilnya meningkat dan alhamdullilah belum pernah gagal panen,” ujarnya semangat.

Asep menganjurkan sesama petani supaya mengikuti perkembangan teknologi, jangan sungkan bertanya dan berani berubah untuk maju. Asep juga berharap pemerintah terus meningkatkan bimbingan kepada para petani terkait perkembangan teknologi melalui para penyuluh pertanian. Tidak seperti sekarang, kebanyakan petani justru mendapat informasi terbaru dari pendamping swasta yang menawarkan berbagai produk pertanian.

Pandu Meilaka, Galuh Ilmia Cahyaningtyas / 270

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE