09 February 2018
Jagung Mengubah Hidup

Raup untung setelah tanam jagung

 

Tidak saja di bidang bisnis, dalam usaha tani pun ternyata feeling cukup menentukan keberhasilan. Itulah pengalaman Tony, petani di Desa Serdang, Kecamatan Tanjung Bintang, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, yang menuai untung dari bercocok tanam jagung.

Pada awalnya, ayah satu putri ini bertanam singkong. Bertahun-tahun ia menanam bahan baku tapioka tersebut dan meski tidak banyak untungnya, tapi cukup untuk mengarungi bahtera rumah tangga bersama istrinya, Rosnawati.

Namun setelah belasan tahun tidak banyak kemajuan, pria berusia 40 tahun ini merasa jika terus bertanam singkong hidupnya akan begitu-begitu saja. “Feeling saya mengatakan, harus berganti komoditas jika ingin maju. Singkong tidak bisa menjadi tumpuan hidup,” kenang Tony ketika ditemui AGRINA sedang mengawasi pekerja menanam jagung di lahan miliknya di tegalan Desa Serdang, baru-baru ini.

Pada awalnya ia menanam jagung secara mandiri di lahan seluas dua hektar bekas tanam singkong. Namun produksinya tidak begitu menggembirakan dan harganya juga murah karena dikendalikan tengkulak. Kemudian setelah berdiskusi dengan sesama petani, mereka membentuk kelompok tani lalu kelompok mereka mendapat bantuan benih jagung gratis dari pemerintah.

 

Jalin Kemitraan

Akhir 2014 silam, ia bersama kelompoknya ditawari PT Vasham Kosa Sejahtera untuk bermitra dalam penanaman jagung. Karena memang mereka kesulitan modal, pupuk, dan keterbatasan ilmu budidaya jagung, Tony dan kawan-kawannya menyambut tawaran tersebut.

Menurut Tony, ada dua hal yang ingin diperolehnya dengan menjalin kemitraan. Pertama, teknologi budidaya, termasuk cara pengendalian hama dan penyakit. Kedua, akses pasar yang tidak dimilikinya sehingga terpaksa menerima harga tengkulak. “Selama ini meskipun kita sudah panen jagung dengan kadar air rendah, selisih harganya dengan jagung berkadar air tinggi tidak signifikan,” ia beralasan yang diamini anggotanya saat itu.

Setelah menguasai teknologi budidaya, pada musim rendeng lalu, Tony mampu memanen 10 ton/ha dengan kadar air di bawah 30%. Produksi itu melebihi pencapaian anggota kelompoknya sekitar 8 - 9 ton/ha.

Untuk mendongkrak produksi, Tony tidak saja menjalankan teknis budidaya sesuai anjuran penyuluh, tetapi ia memberikan nutrisi lebih agar bonggol jagungnya lebih besar dan panjang sehingga biji jagungnya lebih banyak. Selain memberikan pupuk Urea, TSP, dan Phonska, pada umur 15 hari ia juga menambahkan pupuk mikro plant nature. Komposisi pupuk yang ditebar pada pemupukan pertama untuk luas lahan satu hektar terdiri dari urea sebanyak satu kuintal, TSP 50 kg, Phonska satu kuintal, dan plant nature 4 kg. Lalu pemupukan kedua pada saat jagung umur 40 hari dengan urea satu kuintal, Phonska satu kuintal, dan plant nature 3 kg.

Selain itu, Tony juga menabur pupuk kandang sebelum tanam. Sebelum digunakan pupuk kandang dari peternakan ayam yang banyak terdapat di sekitar Tanjungbintang, “didinginkan” terlebih dahulu dengan membiarkannya satu hingga dua bulan. Pupuk tersebut lantas ditaburkan di lahan yang akan ditanami dan dibiarkan selama 3 - 4 hari, barulah benih ditanam.

Pada lahan yang sudah sering ditanami jagung, ia menebar pupuk kandang 100 kg/ha. Sementara untuk lahan yang baru pertama kali ditanami jagung tidak menggunakan pupuk kandang. Dalam budidaya, ia tidak membajak lahannya alias tanpa olah tanah (TOT) untuk menghemat biaya.

Ia juga tidak mengaplikasikan pestisida lain kecuali insektisida perlakuan benih dari BASF. Tujuannya agar benih jagung tidak dimakan semut sehingga tumbuh dengan sempurna.

Panen dilakukan pada umur 120 hari dengan kadar air di bawah 30%. Jagung tersebut dijual dengan harga Rp3.600/kg, sementara harga di tengkulak hanya Rp2.200 - Rp2.500/kg. “Jadi selain hasil panen lebih banyak, kita juga diuntungkan dari harga jual di atas harga penampungan tengkulak,” ungkapnya.

Bahkan pada panen musim gadu (kemarau) lalu, harga jual jagung mencapai Rp3.900/kg. Namun sayang, produksi rata-rata turun hingga 6,5 ton/ha karena kekurangan air. Dengan biaya produksi Rp7 juta/ha untuk lahan milik sendiri dan Rp8 juta/ha untuk lahan sewa,  pada musim rendeng lalu, pria asal Kecamatan Peninjauan, Kabupaten Ogan Komering Ulu Sumsel ini meraup untung Rp29 juta/ha dan Rp18,35 juta/ha pada musim gadu untuk lahan sendiri.

Dari hasil penjualan jagung itu, Tony membeli lahan baru dan menyewa lahan lagi untuk memperluas areal tanamnya. Saat ini total luas lahannya mencapai 8 ha.

 

Berduyung-duyun

Keuntungan yang diraup Tony menarik anggota kelompoknya untuk juga bertanam jagung. Sebelumnya penanam jagung di kelompoknya hanya empat orang dengan total areal 8 ha. Pada musim tanam rendeng, banyak petani singkong beralih ke jagung lantaran harga jual singkong saat panen beberapa waktu lalu hanya Rp500 - Rp600/kg. Padahal tahun lalu harga singkong masih stabil Rp1.200/kg.

Saat ini kendala utama yang dialami petani jagung di daerahnya adalah keterbatasan modal. Namun Tony dan kelompoknya mengatasi hal itu dengan mengajukan kredit berbunga murah yang berasal dari dana CSR (Corporate Social Responsibility) PT Perkebunan Nusantara 7. Masing-masing anggota menerima pinjaman Rp5 juta/ha. Pada musim rendeng sekarang terdapat 11 anggota yang menerima kredit untuk lahan seluas 22 ha. Dana pinjaman tersebut dicicil sekali enam bulan selama setahun dengan bunga 0,6%/tahun.

Kini setelah semua masalah teratasi, tinggal cuaca yang menghambat. Ketika ditemui AGRINA, curah hujan di daerah mereka belum merata.  Sampai-sampai dua hektar pertanaman sudah berumur 15 hari belum bisa dipupuk karena hujan belum turun. Padahal sudah saatnya melakukan pemupukan pertama. Ia khawatir pertumbuhuhan jagung tidak sebaik pada musim rendeng tahun lalu yang begitu musim hujan tiba, curah hujan langsung merata sehingga pertumbuhan jagung lebih cepat.

Tony berharap pupuk subsidi tersedia dalam jumlah yang cukup dan tepat waktu. Lalu harga jagung, baik musim panen rendeng atau gadu agar tetap stabil. Ia berharap jagung tetap bisa diandalkan untuk perputaran ekonomi masyarakat setempat setelah sebelumnya harga singkong, karet, dan sawit berjatuhan.           

Syafnijal Datuk Sinaro (Lampung) / 270

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE