09 February 2018
Menjinakkan Sengat Si Biang Pedas

“Tanam cabai itu kalau tidak untung ya pasti rugi. Jarang sekali impas.”

 

 Pernyataan tersebut dilontarkan Mohammad Sulkha, petani yang menekuni budidaya cabai sejak 1998. Pernyataan Sulkha, demikian ia disapa, itu tidak berlebihan. Pasalnya, harga komoditas “seksi” ini memang sangat berfluktuasi, dari Rp2.000-Rp40 ribuan per kg di tingkat petani.

Jadi, petani bisa rugi besar karena panen raya bersamaan atau menikmati untung besar lantaran mampu menangani masalah budidaya saat cuaca tidak ramah. Misalnya, seperti sekarang ini tanaman yang bisa dipanen tinggal 15%-20%. Kendati sifat alamiah bisnis cabai seperti itu, agripreneur dari Dukuh Glagah, Desa Maliran, Kec. Ponggok, Blitar, Jatim, ini toh tak khawatir “tersengat”.

Menurut pria berusia 46 tahun ini, biaya produksi di Blitar cukup efisien, berkisar Rp5.000/tanaman, termasuk biaya sewa lahan. Di Kediri bisa Rp10 ribuan karena biaya pestisida tinggi. Populasi tanaman antara 18 ribu - 20 ribu batang/ha. “Produksi per tanaman sekarang ini sulit diprediksi. Panen seperempat kilo saja sudah syukur. Musim hujan ini nggak berani tanam rapat, paling 18 ribu,” katanya. Kondisi normal, produktivitas 0,6 - 0,7 kg/tanaman.

November lalu harga cabai merah melambung sampai Rp75 ribu/kg di tingkat konsumen. Sementara, “Harga di petani sampai Rp40 ribu/kg. Sempat dapat harga itu tapi hanya beberapa hari, sekarang Rp25 ribu - Rp28 ribu (2/12),” ulas Sulkha yang mengaku mengelola lahan seluas 2,5 ha. Harga cabai di petani Blitar termasuk tinggi karena mata rantainya pendek, dari petani langsung ke pengepul besar yang kirim ke Jakarta.

Saat berbincang dengan AGRINA, cabainya sudah habis dipanen. Dalam setahun, perintis Ikatan Persaudaraan Petani Hortikultura Karesidenan Kediri ini bertanam cabai satu musim. Selebihnya ia mengusahakan tomat, timun, kacang-kacangan, atau kubis. Pada musim yang baru berlalu, ia menanam dua hektar dengan produktivitas hanya 8 ton/ha karena cuaca kurang mendukung.

Modal yang dikucurkannya sebesar Rp90 juta/ha dan harga jual cabai Rp15 ribu - Rp18 ribu/kg. Bila dihitung harga jual rata-rata Rp16.500 ribu/kg, maka dari dua hektar tanamannya Ketua Kelompok Tani Ettawa ini mengantongi laba Rp84 juta dalam satu musim (lima bulan).  “Sebenarnya lebih enak harga sedang (Rp15 ribu/kg) tapi produksi maksimal. Nggak kayak begini, harga tinggi belum tentu menikmati karena belum tentu bisa produksi,” ujar suami Herlin Dewiana ini.

 

Kiat Selamat

Supaya tidak merugi, ayah Aulia Nabila dan Faras Nafisa ini membeberkan strateginya memilih waktu tanam yang tepat. “Yang penting pegang data tanam. Jawa Timur punya jatah tanam (kuota) dari pemerintah 1.500 ha sebulan. Kita di Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) setiap bulan mengumpulkan data luas tanam se-Jawa Timur. Kita sampaikan ke anggota. Kalau sudah melebihi kuota, ya kita mundur satu-dua bulan baru tanam,” papar Ketua AACI Blitar ini.

Di Blitar, petani dataran tinggi bertanam saat penghujan (Oktober - Desember) dan petani dataran rendah bertanam ketika musim kemarau (April - Juni). Lahan Sulkha di dataran rendah dan beririgasi teknis sehingga bisa berproduksi sepanjang tahun. Namun, ia tetap menanam sekali, lalu diteruskan sayuran lainnya sebagai tambahan penghasilan atau pengaman jika harga cabai anjlok.

Peni Sari Palupi / 270

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE