09 February 2018
Sedapnya Bisnis Bawang Merah

Benih bumbu dapur utama ini bisa menciptakan seorang miliarder.

 

Badan yang bau bawang memang tak sedap. Namun, laba dari usaha tani komoditas hortikultura ini sangat “sedap” bagi petani. Betapa tidak, orang bisa jadi iri dengan apa yang didapatkan Yuliana Rosmalawati dari aktivitasnya menangkarkan benih bawang merah di Brebes, Jawa Tengah. Bila dihitung, dalam satu tahun ia mampu meraup pendapatan kotor sampai Rp15 miliar.

 

Benih Bersertifikat

Jumlah fantastis itu diperoleh dari produksi benih sebanyak 300 ton/tahun dengan harga jual sekitar Rp50 ribu/kg. Harga jual benih bawang jauh lebih tinggi ketimbang harga bawang konsumsi yang saat ini sekitar Rp28 ribu/kg. Sementara harga bawang konsumsi sepanjang 2016, menurut Yuliana, terbilang stabil, paling rendah Rp18 ribu/kg.

Wanita asal Sumedang, Jawa Barat, ini, menyebut, biaya produksi benih bawang sekitar Rp20 ribu/kg, sementara bawang konsumsi kurang lebih Rp15 ribu/kg. “Pemeliharaan benih bawang menggunakan jenis dan jumlah pupuk lebih banyak ketimbang bawang konsumsi,” kata ibu tiga orang anak ini kepada AGRINA.

Melihat angka yang luar biasa itu wajar bila selama dua tahun terakhir sarjana pertanian ini memilih hanya memproduksi benih bawang bersertifikat. Kualitas benih produksinya terjamin lantaran diawasi Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) secara langsung dan berkala, mulai dari proses tanam, penyimpanan, sampai penjualan.

Yuli mengungkapkan, permintaan benih bawang berkualitas sangat besar. Saat ini di Brebes baru ada sekitar delapan orang penangkar benih termasuk dirinya. Produksi benih dari para penangkar tersebut belum mampu memenuhi permintaan pasar di Brebes dan Papua. Mereka umumnya menangkarkan varietas Bima Brebes, tapi kini mulai mengembangkan varietas Trisula.  Peluang menambah produksi benih bawang, lanjut dia, masih memungkinkan di wilayah pantai utara Jawa asalkan ada sumber air yang memadai.  

 

Jadi Petani

Belum banyak sosok petani seperti Yuliana. Terutama jika dilihat dia seorang sarjana pertanian yang benar-benar terjun menjadi seorang petani.  Awalnya ia mengaku terjun ke usaha tani bawang karena ikut membantu usaha keluarga. Kebetulan suaminya yang asli Brebes menjalankan usaha turun temurun sebagai petani bawang.

Sejak lulus kuliah pada 1999, ia langsung terjun sebagai buruh tani di lahan milik mertuanya. “Hitung-hitung belajar bertani sambil ngumpulin modal,” cetus Yuli. Waktu itu, luas lahan milik keluarga sekitar 8.000 m2. Kini ia mengelola 20 ha, milik sendiri dan sewa. Lahannya tersebar di berbagai lokasi di sekitar Brebes. Ia juga menjalin kemitraan dengan petani bawang di daerah tersebut.

Yuli mulai fokus menjadi penangkar sejak 2014. Produktivitasnya rata-rata 10 ton benih/ha setelah disimpan selama dua bulan seusai panen.  Masa pemeliharaan dari tanam sampai panen berkisar 55 - 60 hari. Dengan proses persiapan lahan 1-1,5 bulan. Dalam setahun biasanya bisa empat kali panen.

Agar petani bawang nasional bisa berkembang, ia berharap pemerintah menutup kebijakan impor bawang karena produksi bawang nasional sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Pandu Meilaka / 270

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE