12 October 2016
Bisnis 'Lemas' Bikin Gemas

Budidaya lele terus tumbuh seiring kian meningkatnya permintaan pasar.

Bisnis Lele Masa Kini (Lemas) mulai hulu sampai hilir terus berkembang. Lihat saja sajian lele yang sudah masuk restoran dan semakin banyak bertebaran warung tenda bermenu lele di sudut-sudut jalan. Pasar ikan yang bernama latin Clarias batrachus ini pun kian terbuka. Pasang surut harga tidak membuat para pembudidaya kawakan dan pemain baru menjadi kapok. Bahkan, penjual ikan air tawar ini pun menganggap bisnis lele tetap prospektif kendati harganya fluktuatif.

Membaca Pasar

Memasuki tahun ajaran baru 2016/2017 dan pasca-Idul Fitri serta momen Idul Adha, pasar lele mengalami pelemahan. Padahal, berdasarkan informasi pangan Jakarta dan info harga ikan yang bisa diakses di halaman Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), harga komoditas ini masih relatif stabil di pasar kawasan Jakarta dan sekitarnya, hanya saja di beberapa daerah mengalami penurunan. Penurunan omzet diakui Irwan Hermawan, pemilik PD Jumbo Bangun Mandiri Farm, agen penjualan lele di Kecamatan Gunung Sindur, Parung, Bogor, Jabar, kepada AGRINA (30/8)

Irwan yang sudah fokus menjadi pemasok lele ke pasar-pasar tradisional Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) sejak lulus kuliah pada 1998 mengaku, dulu bisa memasok sekitar 4 ton/hari, kini turun menjadi 2 ton. Menurutnya, pasar lele wilayah Jakarta sudah terbagi dua dengan pemasok-pemasok dari pantai utara Jawa yang turut membuat peta persaingan semakin ketat.

Untuk ukuran siap konsumsi, Irwan mengutarakan, biasanya berisi 6-9 ekor/kg. Ia menjual Rp19 ribu/ kg untuk pasar Jakarta, sedangkan Tangerang Rp18.500/kg. Ia mencontohkan, pembudidaya skala kecil yang mencoba menjual langsung ke pasar turut membuat putusnya mata rantai sehingga harga turun. Padahal dalam penjualan, keseragaman dan kontinuitas pasokan sangatlah penting. Karena itu ia melakukan sortasi setiap hari ikan di tempatnya. “Pembudidaya kecil yang coba jual langsung kurang memperhatikan. Tahunya jual untung saat itu saja, tapi berikutnya malah tidak bisa menyanggupi,” ungkap Sarjana Ekonomi lulusan STIE PKP Bandung, Jawa Barat ini.

Harga yang sedang rendah juga diakui Hartadi, Sales Manager PT Sinta Prima Feedmill. Seperti komoditas pertanian lain, ketika terjadi kelebihan produksi harga akan turun, dan ketika barang sedang langka harga juga akan naik. “Harga di sekitar Rp16 ribuan, memang lagi rendah,” ujarnya kepada AGRINA saat ditemui di Bogor (24/8).

Kelanjutan tentang tulisan ini baca di Majalah AGRINA versi Cetak volume 12 Edisi No. 267 yang terbit pada September 2016. Atau klik di www.scanie.com/featured/agrina.html, https://www.wayang.co.id/index.php/majalah/agrina

 

 

Analisis Usaha Pembesaran Lele Kolam Bundar Satu Siklus

Skala

20 kolam (diameter 3 m)

Modal

Biaya benih     (@ Rp300 x 140.000)     42.000.000

Pakan A(6.500 kg x Rp8.200)   53.300.000

Pakan B (4300 kg x Rp9.200)    39.560.000

Garam (2 karung x Rp75.000)  150.000

Pupuk kascing (2 jirigen x Rp 270.000) 540.000

Total     135.550.000

Biaya tenaga kerja 1 siklus (1.200.000 x 3 bulan)         3.600.000

Jumlah 139.150.000

Proyeksi pendapatan

Produksi lele satu siklus            (85% x 12600 kg x Rp 16.000)    161.280.000

Perkiraan pendapatan satu siklus

161.280.000 - 139.150.000          =          22.130.000

Sumber:

Muh. Reza Pahlevi (Urban Lele) di Ciganjur, Depok, Jabar (2016)

Catatan:

Pembesaran lele kolam bundar (diameter 3 m)

Benih Sangkuriang 3.000-4.000 ekor ukuran 8-10 cm per kolam

Satu siklus (3 bulan), dengan Survival Rate (SR) 85%

Biaya pembuatan kolam (investasi awal) tidak diperhitungkan

 

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE