07 July 2010
Celah Bisnis Ayam dan Telur Organik

Pasar ayam dan telur yang berkualitas organik masih sangat kecil. Tapi pertumbuhannya bakal eksponensial seperti komputer dan ponsel Blackberry.

Berbicara tentang penjualan produk ayam di Indonesia, tentu kita mengenal ayam kampung (bukan ras atau buras) dan ayam ras (broiler atau pedaging). Begitu pula dengan telur, pasti ada telur ayam kampung dan telur ayam ras (layer atau petelur). Tahun lalu, menurut Djajadi Gunawan, Direktur Budidaya Ternak Non-Ruminansia, Ditjenak, Kementan, populasi ayam broiler 930 juta, layer 110,1 juta, dan buras 261,4 juta ekor.

Menurut data Badan Ketahanan Pangan, Kementan, tahun lalu konsumsi daging unggas (ayam ras, ayam buras, itik, puyuh, dan merpati) sekitar 3,9 kg per kapita atau turun sekitar 7% ketimbang tahun sebelumnya, yang 4,2 kg per kapita. Sedangkan konsumsi telur sekitar 79 butir per kapita per tahun atau sekitar satu butir setiap lima hari.

Tapi, yang menarik, data konsumsi daging ayam ras dan ayam buras dari Lembaga Demografi Universitas Indonesia (LD-UI), Jakarta, yang tidak sejalan dengan populasi ayam. Tahun 2008, menurut Dr. Sonny Harry B. Harmadi, Kepala LD-UI, konsumsi daging ayam ras sekitar 0,87 kg per rumah tangga per minggu, sedangkan ayam kampung 1,14 kg per rumah tangga per minggu. Data konsumsi ini diolah dari data BPS dan survei.

Begitu juga konsumsi telur. Konsumsi telur itik 4,02 butir per rumah tangga per minggu. Padahal populasi itik, menurut data Ditjenak, sekitar 40,1 juta ekor. Konsumsi telur ayam kampung 3,61 butir dan telur ayam ras sekitar 0,65 butir per rumah tangga per minggu.

Mengenai data ini, menurut Achmad Dawami, dari dulu tidak pernah sinkron antara data pemerintah, swasta, dan lapangan. BPS, Ditjenak, dan asosiasi peternakan masing-masing mengeluarkan data. Tapi, “Tentunya yang dianggap valid seharusnya  data pemerintah karena pemerintah ‘kan pengontrol yang baik. Dan, yang mengontrol ini harus ngerti soal ayam, hitung-hitungannya,” kata Senior Vice President PT Primatama Karyapersada itu, produsen ayam broiler.

Persepsi konsumen

Terlepas dari benar atau tidaknya data tersebut, Christopher Emille Jayanata, pemilik PT Pronic Indonesia, produsen ayam probiotik bermerek ProbioChicken, melihat ada kesalahan persepsi masyarakat mengenai ayam broiler. Selama ini yang dianggap sehat adalah ayam kampung sehingga masyarakat lebih percaya membeli telur dan daging ayam kampung. Padahal, menurut Emille, tergantung di mana ayam itu dipelihara. Jika ayam kampung itu hidup di tempat tidak sehat, ayamnya juga menjadi tidak sehat.

Persepsi inilah yang kemudian memicu munculnya produksi ayam sehat setara dengan ayam kampung. Namun, lanjut Emille, ada yang memproduksi ayam pejantan ras, yang berukuran 700—800 g, “Yang secara kasat mata kondisi fisiknya sama persis dengan ayam kampung, tapi harganya lebih murah. Ini sangat disayangkan,” kata alumni arsistek dari Universitas Parahyangan, Bandung, itu, kepada AGRINA, Selasa (22/6).

Lalu bagaimana membedakan ayam kampung asli dan ayam pejantan ras yang mirip dengan ayam kampung ini? “Lihat jenggernya,” saran putra kedua dari pasangan  Robbyanto Jayanata dan Natalia Jayanata ini. Ia menjelaskan, ayam pejantan ras yang berukuran 700—800 g ini mempunyai jengger, sedangkan ayam kampung belum berjengger. “Kalau sudah besar, ayam kampung itu baru berjengger,” tambahnya.

Untuk memenuhi kebutuhan ayam yang dipersepsikan sehat oleh konsumen, Emille sendiri memproduksi ayam probiotik, yaitu ayam broiler yang diberi probiotik dan jamu-jamuan (sebagai pengganti antibiotik), dengan merek ProbioChicken. Pakannya buatan sendiri. “Saya nggak boleh bohong. Di sini saya nggak bilang murni ayam organik, tapi ayam yang berkualitas organik. Kita masih pakai DOC (day old chick) pabrik,” akunya.

Mulai sekarang

Konsep ayam organik, menurut Suaedi Sunanto, adalah ayam yang dipelihara di lingkungan yang bebas kontaminasi bahan-bahan anorganik. Pakan yang digunakan juga harus dari bahan-bahan organik sehingga menghasilkan produk peternakan yang organik. “Di peternakan sangat susah. Peternak harus (menggunakan) produk yang organik juga, yang tidak murah lagi,” kata Sales Manager PT DSM Nutritional Products Indonesia itu.

Hal senada diungkapkan Ir. Heru K. Wibawa MSc., peternak ayam organik berlabel Ponti. Menurutnya, memerlukan usaha besar untuk menghasilkan ayam yang benar-benar organik karena air dan udara saja sudah tercemar. Tapi, “Paling tidak kita coba mendekatkan diri untuk tidak menggunakan bahan kimia untuk pakan dan vaksin. Kalau tidak memulai dari sekarang, kapan lagi,” kata Heru kepada AGRINA, Sabtu (26/6).

Permintaan ayam dan telur organik sendiri dipengaruhi oleh meningkatnya kebutuhan masyarakat terutama di perkotaan akan pangan organik. “Ayam jenis tersebut (organik), pasarnya di pasar modern ke atas. Karena mereka yang makan itu adalah mereka yang lebih sadar akan kesehatan daripada mementingkan harga,” ujar Tri Hardiyanto, Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN).

Harga ayam dan telur organik di pasaran memang lebih mahal ketimbang ayam biasa. Di salah satu supermarket di Jakarta, ayam organik dibanderol Rp39.000—Rp47.000 per kg karkas, sedangkan telur organik Rp16.000—Rp19.000 per kg. Karena harga yang tinggi inilah, menurut Eddy Soekwanto, Direktur PT Farming Jaya, pemasaran ayam dan telur organik baru sebatas di pasar modern. “Nggak semua orang mau beli dengan harga segitu. Tapi sekali beli, mereka nggak mau beli yang lain,” ucap produsen ayam Hi-Pro Chicken, itu.

Sebenarnya konsumen ayam dan telur berkualitas organik ini sendiri mengharap standar kualitas tersendiri. Menurut Suaedi Sunanto, ada tiga faktor kualitas utama yang diinginkan konsumen, yaitu kebersihan, keamanan, dan masalah organoleptik. “Salah satu parameter yang diyakini konsumen sebagai kualitas yang bagus adalah tidak adanya kontaminasi. Dengan tidak adanya kontaminasi, kita juga melihat bahwa pakan yang berikan kepada ayam juga diusahakan agar tidak mengandung kontaminan,” jelasnya.

Pentingnya Merek

Walaupun konsumen ayam dan telur organik ini cukup banyak, namun mereka pun tidak sembarang memilih produk. Produk dengan kemasan baik dan berlabel lebih dipilih konsumen. Menurut Emille, masyarakat akan lebih percaya jika produk menggunakan merek. “Ada jaminan kita di sana. Kita perusahaan yang transparan, mereka mau lihat kita boleh, itu yang menjadi jaminan kita,” tegas pria kelahiran Bogor, 17 Oktober 1972, ini.

Ditambahkan lagi oleh Djajadi, “Ke depannya, diharapkan ayam dan telur itu memiliki merek untuk menjaga kestabilan harga. Karena dengan adanya logo atau merek sendiri dari setiap peternak berarti mereka mempunyai pasar tersendiri.” Selain itu, ayam yang dinyatakan berkualitas organik harus distandardisasi oleh berbagai lembaga. “Mereka tidak bisa mengaku-ngaku ayam ini organik kalau belum diuji standarisasi organik,” sambungnya.

Beberapa merek ayam berkualitas organik beredar di pasar adalah ProbioChicken, produksi PT Pronic Indonesia, Hi-Pro Chicken, produksi PT Farming Jaya, dan ayam Ponti, produksi CV. Tritunggal Sejahtera. ProbioChicken dan Hi-Pro Chicken dipasarkan di pasar modern, sedangkan ayam Ponti dipasarkan melalui agen-agen ke perumahan.

Untuk telur bermerk yang beredar di pasar (modern) antara lain Telur Renkoles, Telur Omega-3, Imperial, dan Puri Organic. Sama seperti ayam, pelabelan pada telur juga untuk menjamin kualitas telur itu. “Untuk mengatakan bahwa telur itu lebih aman dari telur biasa (tanpa merek),” papar Wida Winarno, Direktur PT M-Brio Biotekindo, perusahaan penyedia layanan sertifikasi di Bogor.

Pasar ayam atau telur berkualitas organik ini memang masih kecil. Diperkirakan produksi ayam berkualitas organik ini sekitar 360 ribu ekor per tahun. Bandingkan dengan populasi ayam broiler biasa yang sekitar 930 juta ekor. “(Ayam berkualitas organik ini buat) orang yang punya duit lebih, kemudian gengsi, concern kepada kesehatan. Itu mungkin minta yang lebih. Tapi (pasarnya) sedikit sekali (sekitar 0,04 persen),” urai Achmad Dawami.

Tapi Emille yakin pasar ayam dan telur berkualitas organik ini bakal semakin besar. Di Amerika Serikat saja, produk organik sudah menempati hampir 50% dari total pasar modern yang ada. Padahal, di Indonesia ini mengikuti apa yang terjadi di Amerika Serikat. “Indonesia, tinggal tunggu waktu. Pertumbuhan pasar ayam yang berkualitas organik ini eksponensial, seperti pertumbuhan komputer dan Blackberry,” ia optimistis.

Pemilihan ayam atau telur organik pada akhirnya dikembalikan ke tangan konsumen. Yang jelas, untuk mengembangkan ayam dan telur organik, pasarnya masih terbuka luas.

Renda Diennazola, Syatrya Utama, Peni SP, Tri Mardi Rasa, Yuwono Ibnu Nugroho

 

RATA-RATA KONSUMSI DAGING DAN TELUR PER RUMAH TANGGA PER MINGGU

 

DESKRIPSI                                   KOTA         DESA         INDONESIA

 

Daging (Kg)

·          Sapi                                  0,51          0,55          0,52

·          Kerbau                              0,62          0,77          0,73

·          Ayam Ras                           0,88          0,86          0,87

·          Ayam Kampung                   1,08          1,17          1,14

 

Telur (Butir)

·          Ayam Ras                           0,67          0,63          0,65

·          Ayam Kampung                   3,71          3,56          3,61

·          Itik                                   4,02          4,01          4,02

 

Sumber: Lembaga Demografi Universitas Indonesia (2008), diolah

 

 

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE