|
07 July 2010
Membidik Pasar Telur Plus
Masyarakat umumnya masih perlu banyak makan telur. Namun di sisi lain, sebagian kecil dari mereka sudah mencari telur dengan spesifikasi khusus.
Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap telur, menurut Dharma Soetedjo, pihaknya memproduksi melalui dua jalur, yaitu telur curah dan telur plus. Telur curah, imbuh Direktur Pemasaran PT Sumber Inti Harapan (SIH) ini, mencakup 90% dari total produksi. Sementara sisanya telur plus, yang diproduksi dengan manipulasi nutrisi. Di antaranya, Renkoles, Omega-3, dan Telur Imperial yang diklaim bebas bakteri Salmonella enteritidis dan bebas antibiotik. Ketiga telur plus ini dikategorikan telur vegetarian karena pakannya dari sumber nabati.
Mencegah Kanker
Telur-telur tersebut tampaknya dibuat untuk pasar khusus. “Renkoles itu telur rendah kolesterol. Kadar kolesterolnya hanya 150 mg per 60 g (telur), sedangkan telur normal sekitar 260 mg per 60 g,” terang Dharma. Telur ini diuji klinis oleh Prof. Dr. dr. Sri Kardjati, MS dari Universitas Airlangga, Surabaya.
Dokter yang juga ahli gizi tersebut menyimpulkan, konsumsi telur yang dikreasi pada 1992 ini sebanyak dua butir sehari selama 30 hari tidak memicu alergi. Dan yang juga penting, “Renkoles meningkatkan kadar HDL (kolesterol baik) sehingga dapat dianjurkan sebagai sumber protein bagi penderita penyakit degeneratif dengan risiko serangan jantung,” tulisnya dalam laporan penelitian.
Lain lagi dengan Telur Omega-3 yang diluncurkan pada 1996. Telur ini diklaim bisa menurunkan kadar trigliserida dan meningkatkan kadar asam lemak EPA yang sangat baik bagi kesehatan jantung. Selain itu, Omega-3 juga berfungsi mencerdaskan anak karena memacu perkembangan otak pada janin dan balita sehingga baik dikonsumsi ibu-ibu hamil. Kandungan Omega-3-nya mencapai 618 mg per butir (60 g). Bandingkan dengan telur biasa yang hanya 38 mg. “Sumber Omega-3-nya flax seed yang diimpor dari Kanada,” beber Dharma.
Telur Imperial yang dipasarkan pada 2005 beda lagi. Telur ini diperkaya dengan sari buah merah, flax seed, mineral selenium, magnesium, dan tembaga yang semuanya organik. Selenium termasuk antioksidan yang kuat dan merupakan unsur pelengkap yang efektif untuk mencegah penyakit jantung dan kanker. “Konsumsi telur ini dapat meningkatkan kekebalan tubuh,” ungkap Yoseph Setiabudi, Dirut SIH via telepon.
Mengarah ke OVN
Selain SIH, masih ada beberapa merek yang mengunggulkan nutrisi mirip-mirip dan muncul lebih belakangan di pasaran. Para pengikut ini bisa jadi membonceng nama pendahulunya. Apakah pendahulunya sukses menguasai pasar yang diciptakannya? “Perkembangan pasarnya stagnan,” aku Dharma. Salah satunya karena persaingan yang tidak sehat sehingga tak jarang pihaknya kena klaim konsumen. Ini terjadi pada produk yang ber-Omega 3.
Kasus yang mirip terjadi pada produk plus buah merah. Pamor buah merah ini luntur karena konon di Makassar terjadi kasus peningkatan stadium kanker akibat konsumsi sari buah merah yang diproduksi dengan dipanaskan. Minyak buah merah yang dipanaskan akan melepaskan radikal bebas sehingga wajar bila meningkatkan pertumbuhan kanker. Padahal SIH menggunakan sari buah merah hasil proses dingin yang aman.
Meski pasarnya “terganggu”, Yoseph mengaku, penjualannya naik. Dari 100—200 pak sehari pada 1992, saat ini mencapai 5.000—6.000 pak sehari.
Bila SIH menggarap pasar dengan menawarkan suatu produk kepada konsumen, PT DSM Nutritional Products Indonesia, perusahaan penyedia berbagai aditif ini hendak mengembangkan telur sesuai minat konsumen, yang di luar negeri terkenal dengan sebutan OVN atau Optimum Vitamin Nutrition. Menurut Suaedi Sunanto, Sales Manager DSM, “OVN tidak berbicara ada nutrisi apa di dalamnya, tapi yang kita baca adalah telur yang berlabel OVN itu berarti lebih sesuai dengan kehendak konsumen.”
Sedangkan Wida Winarno, Direktur PT M-Brio Bioteknindo, perusahaan yang beroperasi di ranah sertifikasi menambahkan, “Telur OVN ini untuk menjangkau masyarakat kesadaran tinggi bahwa dengan mengonsumsi telur kita dapat vitamin lebih optimum.”
Lebih jauh Suaedi mengatakan, untuk mengetahui keinginan konsumen, pihaknya akan melakukan survei terlebih dahulu. Hasil survei akan menunjukkan parameter yang paling penting bagi konsumen: apakah kesegaran, kebersihan, kontaminasi antibiotik, masalah organik dan sebagainya. Yang kedua, ada parameter kualitas berdasarkan aturan yang sudah ada.
Ia mencontohkan, di Eropa produsen harus mencantumkan tanggal bertelur (laying date) karena masyarakat sadar kualitas. Mereka tahu, telur berumur 1—10 hari sejak dikeluarkan kualitasnya sangat bagus. Umur 11—20 hari masih bagus untuk omelet (dadar) karena kuning telurnya sudah lebih cair, sedangkan 21—27 hari untuk membuat kue. “Di sana masa expired-nya (kadaluarsa) 27 hari,” jelasnya.
Hal itu berbeda dengan di Indonesia. Konsumen tidak akan tahu kesegaran secara pasti karena yang tercantum tanggal kadaluarsa, bukan tanggal bertelur. Kecuali tanggal bertelur, produsen juga harus mencantumkan asal-usulnya. Itulah perpaduan unsur kualitas dan aturan yang ditetapkan pemerintah setempat.
Di Indonesia tampaknya unsur kualitas belum jelas benar. Karena itu, DSM perlu mengedukasi pengecer dan konsumen. Setelah keinginan konsumen bisa disimpulkan, DSM menyusun standar kualitas yang bisa diterima masyarakat, tetapi juga gampang diaplikasikan oleh peternak. Di sinilah peran M-Brio sebagai penjamin bahwa proses produksi telur di peternak mengikuti standar yang disepakati untuk menghasilkan telur OVN. Standarnya kurang lebih mengacu good farming practises (GFP) dan nomor kontrol veteriner (NKV).
Di dunia, OVN sudah hadir sejak tujuh tahunan lalu. Berawal dari Spanyol, Jepang, Brasil, Meksiko, dan China. Di Indonesia sendiri OVN belum ada. Terkait pasar telur-telur plus di Tanah Air, Wida mengatakan, “Sudah ada, tapi kecil, dan mereka (produsen) harus menciptakan pasar. Permintaannya global, yaitu makanan sehat atau organik. Telur salah satunya sebagai kreasi makanan sehat.”
Dengan produk-produk plus tersebut, produsen dapat menikmati harga yang relatif stabil dan diharapkan meraup nilai tambah yang memadai.
Peni SP, Syatrya Utama
|