Orang Jepang sangat “cerewet” tentang ikan segar. Kurang menyukai ikan beku dari bilik pendingin yang sudah berhari-hari dalam pelayaran. Juga kurang berkenan terhadap ikan yang diangkut hidup-hidup dalam tangki-tangki kapal ikan. Mereka menghendaki ikan hidup yang dagingnya gurih seperti baru ditangkap. Itulah ikan-ikan yang hidupnya seperti di habitat aslinya, yang “bergelora” karena terus berjaga-jaga menghadapi pemangsa. Ikan ikan yang hidupnya tertantang dan terancam, ternyata dagingnya lebih gurih dan kencang, ketimbang ikan yang berlama-lama ngendon dengan tentram. Maka ditaruhlah ikan hiu kecil di dalam tangki-tangki itu (carilah di internet: “Put a shark in your tank”).
Pola dan selera masyarakat tentang makanan telah berkembang dinamis sesuai peningkatan peradaban. Tuntutannya kini lebih berlapis-lapis. Tidak lagi sekadar mengikuti keimanan (tentang kehalalannya), bergizi, bercitarasa, mengenyangkan perut. Pola boga sekarang bukan hanya harus memenuhi syarat-syarat kesehatan, menguatkan daya tahan tubuh, mencegah serangan jantung, terjamin segar dengan rasa dan warna yang tidak memudar, tapi juga mempersyaratkan tidak menyiksa hewan.
Didesak oleh gerakan sosial antipenyiksaan hewan, sejumlah negara telah melarang penjualan dan produksi “foie gras” (hati angsa atau bebek). Foie gras didapat dari bebek dan angsa yang dikurung dalam sangkar sempit dan dijejali makan secara paksa. Praktik force-feeding ini dianggap kejam dan menyiksa. Pengusaha agribisnis, baik swasta besar maupun rumah tangga dan konsumen kini juga sudah punya Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP), yakni pedoman kontrol atas keamanan makanan dari pemakaian bahan alamiah maupun kimia yang berbahaya bagi kesehatan manusia dan hewan ternak.
Dengan kesadaran yang semakin tinggi akan kesehatan dan mutu kehidupan, masyarakat dunia juga sudah melirik produk-produk peternakan yang vegetarian. Ada gerakan Eatwild yang menganjurkan peternakan berbasis padang rumput yang menghasilkan ternak dan unggas rendah lemak, menekan kolesterol jahat, menghasilkan Omega-3, menjauhkan gangguan jantung. Di Amerika dan Kanada sudah terdaftar lebih dari 1.300 pasture-based farms yang memproduksi nutrisi bermutu dari daging sapi, babi, domba, menjangan, ayam, bebek, juga susu, telur, keju yang bebas antibiotik dan hormon-hormon tambahan.
Indonesia juga tidak ketinggalan dengan kesadaran untuk mengembangkan sistem pertanian dan peternakan organik, serta proses memproduksi makanan sehat dan bermutu. Kendati pasarannya masih pada golongan atas dan dijual di pasar modern. AGRINA edisi ini memperkenalkan kegiatan yang telah dilakukan di bidang itu, khususnya usaha peternakan ayam dan telur “organik” yang telah menunjukkan keberhasilannya. Eddy Soekwanto, seorang pengusaha peternakan ayam organik di Dayeuhkolot, selatan kota Bandung bilang, “Kalau you sudah rasa kita punya sate, baru you bisa tahu kenapa ayam ini beda”. Juga diketengahkan di sini tentang rekayasa telur ayam yang rendah kolesterol, telur buah merah yang menaikkan kekebalan tubuh. Tentang ayam dengan asupan probiotik dan herbal, serta penilaian standar telur bermutu.
Telur dan ayam dianggap sebagai makanan bergizi yang sesuai dengan kemampuan ekonomi rakyat banyak. Tapi di kalangan masyarakat Indonesia, belanja untuk telur masih pada urutan bawah, dikalahkan oleh rokok. Bahkan menurut Kepala Lembaga Demografi UI, Dr. Sonny Harry B. Harmadi, di rumah tangga miskin, pengeluaran untuk rokok lima kali dari susu atau telur. Untuk membeli susu atau telur Rp1.000, membeli rokok Rp5.000. Dan tujuh belas kali dari daging. Kalau membeli daging Rp1.000, untuk membeli rokok Rp.17.000.
Bagaimana pun, bagi Indonesia dengan populasi 225 juta jiwa, dan didominasi usia menengah yang produktif, prospek agribisnis telur sangat terbentang lebar. Tapi distribusi telur dalam jumlah dan waktu belum bisa merata ke seluruh negeri karena sentra peternakan unggas yang menumpuk di Jawa dan transportasi antar-pulau tidak mendukung. Matarantai pasokan bahan pangan bergizi yang sesuai daya beli masyarakat ini masih terkendala faktor geografis dan demografis yang rangkaiannya terputus-putus oleh ketiadaan prasarana yang memadai.
Daud Sinjal