16 April 2018
LIPUTAN KHUSUS: Jalan Terang SNI Minyak Goreng Sawit

Pemerintah menitipkan misi pemenuhan kebutuhan Vitamin A bagi masyarakat miskin melalui penerapan SNI wajib minyak goreng sawit.  Tapi pelaksanaannyamasih mulur. Ada ide lain?

Saat ini 20% penduduk Indonesia termasuk kategori penyandang gizi buruk. Dari angka ini, sebanyak 11,1% atau 2,7 juta jiwa adalah balita.Data Profil Kesehatan Indonesia 2016 tersebut bikin miris. Gizi buruk antara lain akibat tidak terpenuhinya kebutuhan vitamin A dan E. Karena itu salah satu langkah pemerintah memerangi kasus gizi buruk adalah meluncurkan kebijakan fortifikasi (penambahan)vitamin A dalam minyak goreng sawit (MGS).

Pelaksanaan kebijakan tersebut melalui penetapan Standar Nasional Indonesia (SNI) minyak goreng sawit bernomor 7079/2012. Intinya, MGS harus ditambahi vitamin A. Namun pemberlakuan SNI MGS secara wajib masih menghadapi kendala hingga sampai mundur dua kali. Peraturan Menteri Perindustrian No.00/M-IND/PER/11/2015 memberikan batas pemberlakuan mulai 31 Desember 2018. Siapkah industri melaksanakannya?

Untuk menghimpun masukan seluruh pemangku kepentingan, Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) bekerja sama dengan Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Asosiasi Industri Minyak Makan Indonesia (AIMMI), dan Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (MAKSI) menggelar seminar “Sudah Siapkah Fortifikasi Vitamin A Minyak Goreng Sawit Dilaksanakan?” di Jakarta, 14 Februari 2018.

Seminar tersebut menampilkan Enny Ratnaningsih (Direktur Industri Makanan, Hasil Laut, dan Perikanan, Kemenperin), Prof. (Emeritus) Soekirman (Koalisi Fortifikasi Indonesia), Dr. Paul Wassell (Head of R&D PT SMART Tbk.), Prof. Dr. Purwiyatno Hariyadi (Guru Besar Teknologi Pangan IPB),  Prof.Dr. dr. Ernie H. Purwaningsih, MS (Guru Besar Farmakologi, FKUI).

Ekonomis, Teknis, Sosial, dan Politis

Bungaran Saragih, Ketua Dewan Pembina PASPI, mengungkap ironi Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, tetapi banyak masyarakatnya kekurangan vitamin A parah. Padahal buah sawit kaya akan vitamin A dan E. Di sisi lain, pemerintah menerbitkan SNI minyak goreng sawit yang di dalamnya harus ditambahkan vitamin A. Pakar agribisnis ini memandang perlunya ide besar menitipkan vitamin A dalam MGS dari segi teknis, ekonomis, sosial, dan politis.

Tahun lalu Indonesia memproduksi minyak sawit sebanyak 42 juta ton yang terdiri dari 38,2 juta CPO dan 3,8 juta ton PKO. “Vitamin A banyak dikandung minyak sawit. Beta karoten 500-700 ppm, tokoferol (vitamin E) antiradikal bebas 800-1.000 ppm. Mikronutrien alami pemberian Tuhan itu kita buang-buang. Itu malah masuk dalam limbah B3yang dinamakan spent bleaching earth,” komentar Sahat M. Sinaga, Direktur Eksekutif GIMNI.

Sahat yang sudah 45 tahun berkecimpung dalam bisnis sawit memaparkan hitungan bisnis fortifikasi Vitamin A sintetis. “Dengan konsumsi minyak goreng kita yang 4,3 juta ton (3,5 juta ton curah dan 0,8 juta ton kemasan), fortifikasi Vitamin A sebanyak 45 IU butuh biaya Rp900 miliar-Rp1,2 triliun. Sumber vitaminnya dari luar negeri dan hanya tiga perusahaan pemasoknya.Kita khawatir seperti narkoba, mula-mula murah, tapi nanti setelah kita tergantung, harga naik.Mau? Jangan dong,” cetusnya.

Kelanjutan tentang tulisan ini baca di Majalah AGRINA versi Cetak volume 14 Edisi No. 285 yang terbit pada Maret 2018. Atau klik di https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/agrinahttps://higoapps.com/item/1774/agrina-edition-jan-2018, https://www.mahoni.com, dan https://www.magzter.com/ID/PT.-Permata-Wacana-Lestari/Agrina/Business/

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE