16 April 2018
LIPUTAN KHUSUS: Teknologi Tepat Buat Panen Berlipat

Jarak tanam terbaik untuk IPB 3S adalah 30 cm  x 10 cm dengan jumlah 15 bibit per lubang.

Setiap varietas padi harus ditanam dengan teknologi tertentu agar potensi hasilnyaterealisasi. Demikian ungkap Dr. Ir. Sugiyanta, M.Si, Dosen sekaligus Ketua Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB pada Gelar Inovasi Teknologi di Subang, Jabar, beberapa waktu lalu. Varietas padi IPB 3S denganpotensi hasil 11,2 ton/ha misalnya, akan memberi hasil panen lebih rendah ketika tidak ditanamdengan teknologi budidaya yang tepat sesuai karakternya.

“Ini yang terjadi kalau semua pelepasan varietas ditanam dengan teknologi yang ada. Seharusnya, memperoleh satu paket teknologi tertentu yang sesuai dengan genetiknya,” ujar Sugiyanta. Seperti apa teknologi tepat guna untuk padi varietas IPB 3S?

Mengenal Karakter

Menurut pakar agronomi itu, varietas IPB3S merupakan padi persilangan tipe baru dengan asal persilangan IPB 6-d-10s-1-1-1/Fatmawati. Karena tipe persilangan baru, karakter yang dihasilkan pun khusus, seperti daun bendera tegak ke atas dan anakan produktif sedikit, hanya 7-11 batang/bibit berupa anakan primer.Dengan jumlah anakan produktif yang sedikit, kata Sugiyanta, “Kalau menanam dengan populasi dan jarak tanam yang sama dengan Ciherang, pasti dapat hasil lebih rendah.”

Umur varietas ini sekitar 112 hari, tahan terhadap penyakit tungro, dan agak tahan terhadap blas ras 033 serta hawar daun bakteri. Tekstur nasinya pulen dengan kadar amilosa berkisar 21,6%. 

Setelah mengenal karakter tiap varietas, Sugiyanta menyarankan petani untuk memperbaiki kesuburan tanah sebelum melakukan penanaman. Tanah yang sehat mengandung 2,5%-3% bahan organik. Sedangkan, lahan di pantai utara Jawa sangat rendah bahan organiknya, kurang dari 1%.

“Itu sangat bermasalah. Retensi hara rendah, water holding capacity (kapasitas mengikat air)-nya juga rendah. Kemudian, menyuplai makanan untuk musuh alami juga rendah sehingga timbul banyak masalah, baik itu hara maupun ledakan hama penyakit,” paparnya.

Peningkatankadarbahan organik tanah bisa dilakukan dengan mengembalikan jerami ke dalam tanah. Sugiyanta menilai jerami sebagai sumber bahan organik termurah, terbanyak, dan melimpah di sawah. Jika panen padi menggunakan combine harvester, jerami akan tercacah dan tinggal dibenamkan sambil olah tanah.

Selain itu, pengembalian jerami ke tanah juga memperbaiki pH tanah dan kapasitas tukar kation (KTK). “KTK nyata meningkat maka tidak banyak hara yang hilang dari dalam tanah,” terangnya. Jerami padi juga mengandung N dan K. Jerami dalam sehektar lahan setara dengan 100 kg urea dan 200 kg KCl. Terlebih, K darijerami ini larut dalam air.

Kelanjutan tentang tulisan ini baca di Majalah AGRINA versi Cetak volume 14 Edisi No. 285 yang terbit pada Maret 2018. Atau klik di https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/agrinahttps://higoapps.com/item/1774/agrina-edition-jan-2018, https://www.mahoni.com, dan https://www.magzter.com/ID/PT.-Permata-Wacana-Lestari/Agrina/Business/

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE