26 January 2018
Modernisasi Milk Collection Point (MCP) Pangalengan

Lima titik pengumpulan susu dengan fasilitas lebih modern memberikan harapan yang cerah untuk peternak sapi perah di Pangalengan, Bandung Selatan, Jawa Barat.

Pemerintah BelMCP Warnasarianda melalui program Facility for Sustainable Entrepreneurship and Food Security (FDOV) berkerja sama dengan PT Frisian Flag Indonesia (FFI) untuk fasilitasi perbaikan titik pengumpulan susu (Milk Collection Point–MCP) di Pangalengan, Bandung Selatan. Sejak 2015, FFI berkerjasama dengan Koperasi Peternak Bandung Selatan (KPBS) untuk membangun MCP digital. Hingga saat ini sudah ada 5 MCP digital yang beroperasi di Kel. Los Cimaung, Warnasari, Cipanas, Citere, dan Mekar Mulya.

KPBS Pangalengan tercatat memiliki 5.000 anggota dengan 3.500 anggota yang masih aktif menyetorkan susu. Koperasi ini juga memiliki 13 ribu ekor sapi perah dengan 7 ribu ekor sapi yang sedang laktasi. Produksinya sekitar 77-80 ton/hari. “Dengan penerapan teknologi, peternak diharapkan bisa lebih mengerti dan mendapat susu dengan kualitas yang bagus,” terang Muhamad Nasrun, Ketua II KPBS Pangalengan yang membuka acara peninjauan perkembangan MCP FFI di Pangalengan (25/1).

Di 5 MCP tersebut sudah ada 806 peternak yang bergabung. Bahkan, dulu 100 peternak diantaranya belum mau menyetor susu. Tapi setelah melihat peternak lain dapat harga yang lebih bagus, akhirnya mereka mengikuti. “Karena projek ini, peternak mendapat kenaikan harga 10%-15%,” jelas Akhmad Sawaldi, DDP & Project FDOV Manager FFI. Sebelum adanya proyek ini, FFI membeli susu dari KBPS dengan harga Rp5.300-Rp5.400/kg dan setelahnya, susu dari KBPS dihargai Rp6.200-Rp6.300/kg.

KenaiTempat cuci wadah susu di MCPkan harga ini tentu dipengaruhi oleh kualitas susu yang diukur dari kandungan Total Plate Count (TPC)-nya. Selain membangun MCP, FFI juga fokus dampingi petani menurunkan kandungan TPC dengan 4 poin. Yang pertama, petani harus memperhatikan wadah penampung susu (milk can), kemudian perhatikan kebersihan ambing. Lalu, perahan pertama harus dibuang, dan yang terakhir susu harus disaring saat penuangan ke wadah lain.

Dengan fokus pada 4 hal tersebut, kandungan TPC pun dapat ditekan hingga susu pun lebih berkualitas. Dari hasil pemantauan, di MCP Los Cimaung dulu rata-rata kandungan TCP-nya 5 x 10-6 – 7 x 10-6 (mio) cfu/ml, setelah pendampingan kini menjadi 0,3 mio cfu/ml. Kualitas susu di MCP Wanasari juga demikian, dari 5-7 mio cfu/ml menjadi 0,17 mio cfu/ml. Di MCP Cipanas, 5-7 mio cfu/ml menjadi 0,2 mio cfu/ml, MCP Citere 5-7 mio cfu/ml menjadi 0,3 mio cfu/ml. Dan yang terakhir, di MCP Mekar Mulya yang dulunya 5-7 mio cfu/ml menjadi 0,17 mio cfu/ml.

Galuh Ilmia Cahyaningtyas

 

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE