16 January 2018
Perjuangan Sang Yatim

       “Aku harus pergi.”

Keinginan itu berkelebat kuat dalam pikiran seorang anak gunung.

Usianya belum lagi genap 11 tahun tapi kesedihan hidup begitu kuat menghampiri.

“Ya, aku akan pergi.”

Ia ingin pergi jauh meninggalkan semua kenangan dan melepaskan kepedihan hati. Sang nenek tercinta yang selama ini menyayangi dan melindunginya baru saja menghadap Yang Maha Kuasa.

Nenek E. boru Purba telah tiada.

Dia nenek sekaligus ibu bagi JR kecil, si anak gunung dari Pematang Raya, sebuah desa kecil di kawasan berbukit yang terletak di Kecamatan Raya, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.

JR cilik merasa sepi dan sendiri.

“JR, ayo ikut opung petik kopi.”

Suara sang nenek menggema dalam ingatan.

Orang Batak memanggil nenek atau kakek dengan sebutan opung.

“Kita mau ke mana opung?”

Suatu ketika JR kecil lincah bertanya.

“Bersihkan rumput di kebun,” opung menjawab sambil tersenyum.

JR mengembuskan napas panjang.

Pikirannya melayang menuju sang nenek.

Begitu cepat kau pergi, Nek. JR membatin. Ia masih belum bisa merelakan sepenuhnya.

 

Setengah bulan sudah berlalu sejak kepergian sang nenek dari garis ayah.

Kediamannya yang baru di Kutambaru, Munte, Kabupaten Karo juga ada opung Meltah Sembiring Meliala dan Ingan boru Ginting, kakek dan nenek dari sang ibu. Tapi kekosongan hati anak gunung ini masih belum terisi. Di sini juga nggak ada Kak Tini yang biasa menggendong dan memanjakannya.

Dan keputusannya sudah bulat.

Ia ingin pergi.

 

Sungguh malang JR cilik. Kalau saja sang ayah masih ada, tentu ia tidak akan merasa kesepian. Ketika JR baru berumur setahun, Rasen Saragih, sang ayah meninggal dunia. Ia menjadi yatim saat belum bisa berjalan sempurna menapaki dunia.

Bocah kelahiran Medan, 10 November 1968 ini pun tinggal bersama opung E. boru Purba dan kakak tertua, Tini boru Saragih. Tini sangat menyayangi JR meskipun anak berperawakan kurus itu bukanlah adik kandungnya. Sebelum menikah dengan Netty boru Sembiring, ibunda JR, Rasen Saragih sudah memiliki seorang anak bernama Tini. Ibu kandungnya meninggal setelah melahirkan Tini.  

Sedangkan empat orang kakak kandung JR, yaitu Anton Saragih, Riston Saragih, Agustiar Saragih, dan Hendrik Saragih tinggal bersama sang ibu yang kemudian menikah lagi dengan K. Ginting.

Meski kehidupan di Pematang Raya susah dan penuh perjuangan, kenangan manis bersama sang nenek terukir indah. JR cilik pun rela menempuh jarak sejauh 74,4 km dari Kutambaru untuk kembali ke Raya, desa tempatnya berpijak selama ini.

JR kabur dari rumah nenek Ingan. 

Perjalanan yang panjang dan melelahkan bagi anak sekecil itu.

Namun di perjalanan JR berbelok arah ke Kota Pematang Siantar. Takdir baik selalu berpihak pada para pekerja keras meski ia seorang bocah.

JR cilik lalu mengadu nasib di Kota kelahiran pahlawan nasional, H. Adam Malik. Ia tidak ragu menyemir sepatu.

Setidaknya, hari ini dan esok ia tidak akan kelaparan.

Bekerja adalah hal biasa buatnya. Opung kerap mengajari JR agar bekerja keras. Tidak mengherankan ketika anak yatim ini kemudian merangkap menjadi tukang cuci mobil.

 

Dan hari terus berganti.

Lalu kepenatan itu mulai melanda.

JR cilik rindu belaian sayang dan perlindungan keluarga.

Ia pun memilih pulang menuju rumah opung Ingan.

Sang opung memeluk JR cilik penuh suka cita. Cucu yang ”hilang” kembali pulang dengan selamat. Bocah yatim pemberani ini mulai melanjutkan sekolah yang sempat terputus.  

JR merasa nyaman tinggal di Karo. Nenek Ingan sangat menyayanginya. Begitu juga tulang Gutul Sembiring, adik sang ibu yang kerap mengawasi dan menjaganya.

Setiap hari sepulang sekolah, JR bekerja membantu opung Ingan. Kehidupan mereka tidaklah berkelebihan sehingga mereka harus bekerja keras. Pendidikan pun menjadi barang mewah untuk warga desa yang serba kekurangan. Juga bagi JR.

Kelas lima SD ditapaki penuh perjuangan.

Kelas enam menjadi sebuah ujian.

Ketiadaan biaya mengharuskan JR menunda sekolah. Ia kecewa dan marah dengan kemiskinan yang membatasi jalan pendidikannya. Sekali lagi, JR kabur mencari penghidupan untuk melepas jerat kemiskinan.

 

Kakinya melangkah menuju Raya.

Pertemuan tidak terduga dengan suami Kak Tini memberi harapan.

JR mengikuti jejak kakak iparnya, Nasib Siahaan, bekerja di Terminal Sukamande, Pematang Siantar. Kala itu sang kakak bekerja sebagai kernet bus. Tetapi JR memilih menyemir sepatu. Mengulang pekerjaannya terdahulu ketika awal mula kabur dari Kutambaru.

Tanpa terasa sudah enam bulan JR menghabiskan hidup di jalan.

Hidup memang keras.

Karena keadaan, anak kecil ini menjelma dewasa sebelum waktunya.

Bersama Bang Nasib, JR cilik kemudian beralih profesi menjadi kernet Bus Sepadan, bus cepat dengan trayek Kabanjahe-Pematang Siantar-Tanjung Balai. Ilmu menjadi kernet sudah didapat. Tiga bulan berikutnya JR pindah haluan ke Bus Simas, bus antarprovinsi dengan jurusan yang sama.

Pengalaman sebagai kernet bus semakin teruji.

Ia piawai mengarahkan jalannya bus dan membantu supir berkendara.

JR memberanikan diri mengambil trayek lebih jauh. Tidak sekadar antarprovinsi tapi antarpulau. Bus Makmur menjadi pegangannya saat ini. Trayeknya Medan-Jakarta dan Medan-Pekanbaru. Ada sepercik kebahagiaan ketika ia sanggup hidup tanpa bergantung pada orang lain.

Namun, malam itu berbeda.  

Seorang supir Bus Makmur datang menghampiri JR.

“Apa yang kau cari di terminal ini?”

Ucapan sang supir menghentak kesadarannya. Tidak ada kehidupan lebih baik yang bisa diharapkan dengan menggelandang di terminal.

JR terdiam.

“Pulanglah kamu,” supir itu melanjutkan, “Udahlah, sekolah aja.”

 

Masa depanmu masih panjang. Pulanglah ke rumah dan lanjutkan sekolah. Pesan seorang supir yang tidak pernah dia ketahui namanya tapi memiliki perhatian yang besar.

Hati JR tergerak. Minatnya untuk sekolah memang tinggi. Apalagi, ia pernah merasakan asyiknya mencari ilmu. Ia juga sudah tiga tahunan mengadu nasib dari terminal ke terminal tanpa gambaran masa depan yang jelas.

Ia rindu melahap ilmu.

Malam itu menjadi sejarah sang anak yatim menapaki hidup baru.

JR memutuskan pergi ke rumah sang ibu di Kutalimbaru, Deli Serdang, Sumatera Utara.   

Sang ibu menyambut bahagia kehadirannya. Setelah tinggal beberapa saat bersama ayah Ginting dan ibu Netty, JR mengikuti ujian persamaan SD. Ia berhasil lulus ujian di Kutalimbaru pada 3 September 1984.

 

Satu keping jalan hidup menuju masa depan telah terbentuk.

Tiba saat melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP, sang ibu bersama kakaknya, Anton, mengantar JR kembali ke Kutambaru, Munte. Ibu dan anak ini mengendarai mobil VW Safari, kendaraan dinas sang ayah, menuju kediaman nenek Ingan di Karo.

JR pulang ke rumah yang kedua kalinya ia tinggalkan.

Berbekal ijazah SD, ia melanjutkan sekolah ke SMP Anjangsana di Tiga Binanga, Munte. Sambil bersekolah, bocah yang tumbuh menjadi remaja ini juga beternak ayam, budidaya ikan, hingga memelihara kuda.

Jiwa bisnisnya terus terasah. JR membuka jasa reparasi televisi dan sepeda motor, keterampilan yang didapatnya selama hidup menggelandang di terminal di Pematang Siantar. Pendidikannya di SMP juga selesai dengan baik.

Keping kedua jalan masa depan mengalir lancar.

JR menapaki dunia SMA.

Kata kebanyakan orang, SMA masa paling berkesan dalam perjalanan hidup manusia. Masa menuju dewasa, pencarian jati diri, dan pembuktian eksistensi. Ada juga yang menganggapnya sebagai masa puncak kenakalan bersama teman.

JR melanjutkan sekolah ke STM Pijer Podi di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Ia merantau sendirian di Berastagi dan menumpang tinggal di rumah orang.

Sebagian muda-mudi di kota besar mungkin banyak yang menghabiskan waktu dengan berhura-hura bersama kawan atau berpacaran kala SMA. Di sisi lain, banyak juga kawula muda yang banting tulang untuk membiayai pendidikan.

JR salah satunya.

Ia malah mengisi hari dengan menarik becak barang. Ia juga tak segan menjadi tukang jagal sapi dan kerbau untuk makan sehari-hari.

Semua itu tidak selalu dijalani dengan suka cita. JR pernah merasa sangat menderita.

 

”Braak .....”

Suara kencang itu mengagetkan banyak orang.

Beberapa butir tomat menggelinding lincah menciumi tanah. Isi telur keluar dari cangkangnya. Beras, kacang tanah, sayur-mayur juga berhamburan.

Barang-barang yang menyesaki becak pun tumpah ke jalan.

Becak dan pengemudinya ikut terguling mengikuti barang bawaan yang lebih dulu berceceran.

Pemandangan yang tidak biasa itu membuat orang-orang segera berlari mendekati pengemudi becak.

”Kau tak apa-apa, Nak?”

Seorang bapak bertanya pada JR, si pengemudi becak.

”Eh, lihat,” timpal suara lainnya yang ikut menolong. ”Tanganmu berdarah.”

JR meringis kesakitan. Lengannya luka dan sobek.

Luka di lengannya cukup serius. Menurut dokter, JR harus menjalani beberapa jahitan. Ah, uang dari mana untuk bayar? Otaknya menegang, pikirannya keruh. Untuk makan saja pas-pasan.

Akhirnya luka itu tetap dijahit meski asal. Yang penting tertutup. Maklumlah biaya yang sanggup dibayar juga seadanya. Tetapi jahitan luka ini kelak akan membekas dan menorehkan kenangan terdalam di lubuk hati JR.

Dan tidak disangka, penderitaan ini akan berlanjut. Suatu hari badan JR memanas. Ia mengalami demam tinggi. Ingin rasanya segera berlari membeli obat ke warung atau pergi ke rumah sakit untuk menghilangkan demam dan nyeri ini tapi ...

Sudah tidak ada uang sepeser pun.

”Oh Tuhan, cobaan apa lagi ini?”

Batinnya kembali menjerit dan menangis.

Hari itu JR harus menahan pilunya himpitan ketidakberdayaan dan sakitnya serangan demam. Ia tidak tahu pada siapa lagi harus meminta pertolongan.

 

(Dikutip dari buku: Dr. J.R. Saragih, SH, MM: Sentuhan Hati Anak Gunung Mengukir Simalungun. Hal 1-9. Tebal buku 274 halaman. Bagi yang berminat membeli buku ini, harganya Rp 60.000, belum termasuk ongkos kirim. Kontak: Syatrya Utama, HP/WA 0818.79.5995).

 

 

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE