14 September 2017
Pestisida Ramah Lingkungan Dukung Swasembada Pangan

Penggunaan pestisida untuk mengatasi serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) di lahan pertanian Indonesia sudah sangat melebihi ambang batas. Perlu langkah cepat agar petani beralih menggunakan metode ramah lingkungan untuk mencegah meluasnya cemaran residu pestisida di alam. Demikian intisari Seminar dan Workshop Internasional di Pati, Jawa Tengah, Rabu (6/11).

Menurut Prama Yufdy, data yang dihimpun Litbang Pertanian menunjukkan banyak sekali kandungan pestisida yang ada di tanah. “Kandungan pestisida yang terpakai hanya 30%, sisanya ada di tanah dan penggunaannya tidak terkontrol,” ujar Sekretaris Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian pada acara yang bertema Inovasi Pestisida Ramah Lingkungan Mendukung Swasembada Pangan itu.

Padahal, ulas Prama, pihaknya sudah punya teknologi ramah lingkungan untuk mengatasi kendala serangan OPT meski penggunaannya sangat terbatas. Ia pun mengajak para peneliti, perguruan tinggi, petani, dan pelaku usaha pagribisnis terkait untuk mensosialisasikan paket teknologi ramah lingkungan ini kepada masyarakat luas.

Sementara, Prof. Dr. Errol Hassan dari Quensland Univesity, Australia menjelaskan, pentingnya menggunakan pestisida secara selektif. Ia menganjurkan penggunaan pestisida nabati. “Manfaat biopestsda adalah cepat terurai, tidak terakumulasi di tanah dan air, tidak menyebabkan residu ke manusia,” ulasnya.

Pada hari kedua pelaksanaan seminar dan workshop internasional, peserta berkesempatan mengunjungi Balai Penelitian Lingkungan di Kec. Jakenan, Pati untuk melihat secara langsung berbagai bentuk pertanian ramah lingkungan, seperti sistem pertanian surjan, penggunaan biopestisida, embung terintegrasi dengan biofilter, dan pertanian terintegrasi ternak.

 

Windi Listianingsih

 

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE