16 August 2017
Himpun Kekuatan Agar Jadi Kiblat Perbenihan

Masyarakat Perbenihan dan Perbibitan Indonesia (MPPI) mendorong Balitbangtan dalam hal riset agar Indonesia dapat menjadi kiblat perbenihan serta pembibitan dunia.

 

Hal tersebur disampaikan dalam konferensi pers menjelang pengukuhan Dewan Pengurus Pusat MPPI periode 2017-2022 yang akan berlangsung pada 21 Agustus 2017 di Jakarta. Sekretaris DIrektorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Maman Suherman mengemukakan, kebutuhan benih dalam negeri lebih banyak dipenuhi dari perusahaan multinasional. Demikian pula pengembangan atau riset benih masih bersumber dari impor.

Maman yang juga menjadi Sekjen MPPI mencontohkan, untuk pemenuhan kebutuhan benih jagung  hibrida, saat ini 50% dipenuhi dari perusahaan multinasional, dan sisanya oleh produsen lokal. Kendala lainnya adalah ketersediaan produksi yang masih kerap belum mencukupi kebutuhan di lapangan.

Ia berujar, sistem perbenihan harus diperbaiki. Indonesia memiliki kekayaan dari segi plasma nutfah, tetapi masih terkendala masalah teknologi. “Dengan ini kami mendorong Litbang untuk dapat memanfaatkan plasma nutfah Indonesia. Caranya dengan membangun penelitian,” harapnya saat konferensi pers di Jakarta, Selasa (15/8).

Maman meyakini, MPPI akan memberikan masukan kepada pemerintah dalam hal pengambilan kebijakan terkait perbenihan dan pembibitan. Selain itu juga mengkonsolidasikan para pelaku usaha dalam menghimpun kekuatan masyarakat perbenihan agar sisi perbenihan dan pembibitan lebih terangkat dan maju, sehingga bisa bersaing dengan negara lain.

Sementara Ketua Umum MPPI Periode 2017-2022, Herman Khaeron mengungkapkan, ketersediaan benih masih terbatas dari dalam negeri. Padahal, imbuhnya, potensi permintaan benih sangatlah besar. Herman menyebut, saat ini pemerintah tengah menggalakkan program perluasan lahan tanam jagung seluas 3 juta ha pada 2017, namun benih harus impor karena tidak tersedia di lapangan.

MPPI bertekad untuk dapat memenuhi kebutuhan bibit, baik dari dalam maupun luar negeri. Karena menurut Herman, tidak mustahil Indonesia suatu saat menjadi kiblat perbenihan dan perbibitan dunia. “Perbenihan selalu ada di depan, peran MPPI harus berada di situ. Menteri Pertanian pernah mengatakan Indonesia ingin jadi dapur dunia pada 2045, kami dukung itu,” tandas Herman yang juga Wakil Ketua Komisi IV DPR RI ini.

 

Try Surya Anditya

 

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE