21 July 2017
Aplikasi Drone di Pertanian

Perkembangan teknologi bisa merambah ke semua wilayah. Salah satunya drone yang mulai banyak digunakan untuk pemetaan serta penyemprotan pestisida dan pupuk cair.

 

Secara komersial, drone mulai banyak digunakan di sektor perkebunan dan mulai diterapkan di komoditas pertanian yang lain. Drone marak dimanfaatkan karena kebutuhan perolehan data aktual dan faktual sesuai di lapangan. Sedangkan dalam bidang pertanian, drone tak hanya memetakan wilayah, tetapi juga digunakan sebagai alat penyemprot pestisida, pupuk cair,dan pemantauan perkembangan tanaman satu siklus lengkap.

Chief Operating Officer PT Aero Geosurvey Indonesia, Ryan Fadhilah Hadi mengungkapkan, saat ini kesadaran masyarakat akan manfaat drone sudah mulai terbuka. Drone sudah banyak digunakan untuk survei di lahan perkebunan, baik untuk kelapa sawit, hutan tanaman industri (HTI), maupun tebu.

 

Mengenal Drone

Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau Pesawat Udara Nir-Awak (PUNA) memang lebih populer dengan sebutan drone. Mesinterbang tanpa awakini dapat beroperasi dengan kendali jarak jauh atau mampu terbang secara otomatis (autonomous system).

Direktur Pusat Robotika dan Mesin Cerdas Surya University, Riza Muhida menjabarkan,awalnya aplikasi drone banyak di bidang kemiliteran. Karena dulu drone digunakan sebagai alat pengintai sekaligus penyerang. Lulusan S-1 Teknik Fisika ITB Bandung ini menjabarkan, drone menggunakan hukum aerodinamika untuk dapat mengangkat dirinya. Geraknya gabungan dari penerapan elektronik, mekanik, dan komputer. “Drone dilengkapi kamera, GPS (Global Positioning Systems), dan sistem yang terkoneksi dengan pusat kendali,” jelas peneliti drone ini kepada AGRINA di Center Robotis, Gading Serpong, Tangerang, Jumat (24/3).

Secara garis besar, drone dibedakan menjadi dua jenis, yaitu fixed wing dan multirotor. Ryan menuturkan, masyarakat umumnya lebih mengenal drone yang berbaling-baling banyak (multirotor). Padahal yang berbentuk pesawat terbang juga disebut drone.

Fixed wing berwujud seperti pesawat dengan sayap kokoh yang cenderung datar. Pemuda kelahiran 1992 itu mengatakan, fixed wing memiliki efisiensi aerodinamis sehingga memungkinkannya terbang lebih jauh dan lebih lama. Sedangkan multirotor, ungkap Riza, terdiri dari dua buah baling-baling (rotor) atau lebih. “multirotor tidak menggunakan sayap, kecepatannya diatur dari setiap gerakan arah tiap-tiap motornya,” detail doktor lulusan Osaka University, Jepang, ini.

 

Solusi Survei Udara

Di sektor sawit, drone dipekerjakanuntuk pemetaan. Sebelumnya, data diperoleh melalui pemetaan citra satelit. Namun pemetaan melalui citra satelit masih terdapat beberapa keterbatasan. Di antaranya, perolehan resolusi spasial dan data aktualnya kurang detail ketimbang hasil kerja drone. Apalagi kalau ada faktor awan saat pengambilan data,” tutur Ryan.

Dewi Damayanti menambahkan, pengumpulan data dengan drone jauh lebih mudah dan efisien ketimbang sensus darat. Survei aset (inventory) dalam perkebunan sawit merupakan kegiatan yang rutin dilakukan oleh sebuah perusahaan sawit. Tolak ukur aset perkebunan sawit dilihat dari seberapa banyak populasi tanamannya.

Sales & Marketing Manager PT Aero Geosurvey Indonesia ini membeberkan, teknik pemetaan dengan drone menawarkan banyak kelebihan, yakni lebih akurat dalam menghitung tanaman dan aset yang ada, serta waktu lebih efisien. Ditambahkan Ryan, metode sensus darat memakan waktu lebih lama. “Survei manual (tenaga manusia), satu orang maksimal empat hektar sehari. Pakai drone bisa 3.000 ha dalam sehari. Human error juga terminimalisir,” cetusnya.

Masih menurut Dewi, mobilisasi drone lebih mudah dan dapat dioperasikan dalam apapun kondisi geografisnya. Alumnus Universitas Padjadjaran Bandung jurusan komunikasi tersebut juga menggambarkan, drone dalam aplikasi pemetaan sawit sudah berkembang. “Observasi area tanam, update inventory, menghitung luas area tanam, dan jumlah pokok (tanaman), analisis irigasi, penentuan area sisipan, peninjauan area banjir, sampai mendeteksi dini kebakaran,” rincinya.

 

Asisten penyemprot

Tak sebatas itu fungsinya, drone juga sudah mulaid igunakan untuk penyemprotan pestisida dan pupuk cair. Riza yang bekerjasama dengan PT Agri Inovasi Dirgantara dalam memproduksi Agridrone menyebut, kesulitan tenaga kerja bisa teratasi dengan adanya drone. Selain efektivitas waktu, penyemprotan dengan drone juga relatif aman.“Dari segi kesehatan, kita tidak perlu kontak langsung dengan pestisida,” cetusnya.

Selama 2016, Agridrone yang diproduksi di dalam negeri telah melakukan berbagai penyemprotan untuk sektor perkebunan. Salah satunya di kebun tebu milik PT Gunung Madu Plantations yang berlokasi di Lampung. Berbeda dengan penyemprotan manual yang kadang kurang merata, tingkat kerataan penyemprotan dengan drone jauh relatif stabil.“Ini dibuktikan denga npenyebaran sensitive paper di lahan, hasil drone stabil merata,” paparnya.

Dalam sekali terbang, multirotor drone berbahan carbon fiber itu mampu membawa 10 liter cairan dengan butir semprot berukuran 200 – 400 mikron. Penambahan infra red pada drone, ujar Riza, bisa untuk memantau kondisi tanaman. Tanaman yang sehat dan tidak, serta tanaman yang kering dan tidak kering bisa terlihat.

 

Hasil GSD yang Faktual

Dibandingkan pemetaan melalui citra satelit, perolehan Ground Sampling Distance (GSD) atau resolusi spasial menggunakan drone jauh lebih aktual dan faktual. GSD merupakan rasio antara nilai ukuran citra digital (pixel) dengan ukuran sebenarnya (cm) yang dihitung dalam bentuk cm/pixel. Pengambilan data melalui citra Google Earth, dinilai Riza, berlangsung cukup lama. “Pakai Google Earth hasilnya bisa setahun kemudian setelah pengambilan gambar,” ucapnya.

Hasil resolusi spasial juga dipengaruhi jenis kamera. DosenSurya University itu menerangkan, makin baik spesifikasi kamera, maka baik hasilnya. Untukinformasi yang lebih mendalam, sebaiknya resolusi spasial yang disajikan di bawah 15 cm/pixel. Semakin kecil nilai GSD, berarti semakin baik resolusinya. Drone buatan dalam negeri milik Aero Geosurvey, saat ini menghasilkan resolusi spasial 1-5 cm/pixel.

Mengadopsi teknologi bahan pesawat terbang, composite fiber, Ryan mengklaim, fixed wing drone yang dinamai Ai450 v2.5 ER itu mampu terbang selama 60-70 menit. “Untuk sekali terbang bisa meng-cover 800-1200 ha,” tandas alumnus Jurusan Teknik Penerbangan ITB Bandung ini.

Siapa tertarik?


Try Surya Anditya

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE