28 December 2016
Menginspirasi Gernas Wirausaha Muda Peduli Bangsa

Dalam perjalanan bisnisnya selama hampir 60 tahun, Astra senantiasa menampilkan wajah sebagai kelompok bisnis yang berwawasan kebangsaan.

Bersyukur dan berbagi sudah membudaya di PT Astra International Tbk. Nilai-nilai ini tidak terlepas dari pesan sang pendiri perusahaan, William Soeryadjaya, yaitu Astra tidak ingin hidup sejahtera sendirian di tengah tetangganya yang tidak sejahtera. Pesan itu pun menjadi butir pertama Catur Dharma Grup Astra, perusahaan yang berdiri pada 20 Februari 1957. Yakni, menjadi milik yang bermanfaat bagi bangsa dan negara.

Jejak Berbagi

Grup Astra yang fokus pada enam lini bisnis, yaitu otomotif, jasa keuangan, alat berat dan pertambangan, agribisnis, infrastruktur; logistic; dan lainnya, serta teknologi informasi ini sudah mengukir program CSR sejak 1974. Coporate social responsibility (CSR) adalah salah satu instrumen berbagi kepada masyarakat. Waktu itu berdiri Yayasan Toyota dan Astra (YTA). Yayasan ini telah memberikan beasiswa kepada ribuan pelajar dan mahasiswa di Indonesia.

Enam tahun kemudian berdiri Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) yang membina ribuan pengusaha mikro, kecil dan menengah di bidang manufaktur, perbengkelan, agribisnis dan kerajinan. Pada 1995 hadir Yayasan Astra Bina Ilmu (YABI) yang membawahi Politeknik Manufaktur. Selanjutnya, ada Yayasan Astra Honda Motor (YAHM) yang mempunyai misi memberikan beasiswa kepada siswa dan mahasiswa serta kampanye keselamatan berkendara.

Yayasan Amalia Astra (YAA) dibangun enam tahun berikutnya. Yayasan ini melakukan kegiatan pemberdayaan kaum duafa di bidang pendidikan dan memberikan beasiswa untuk masyarakat di sekitar wilayah kerja Grup Astra. Pada 2006 berdiri Yayasan Pendidikan Astra Michael D. Ruslim (YPA-MDR). Yayasan ini telah membangun puluhan sekolah di daerah pra-sejahtera.

Setelah itu, muncul pula Yayasan Karya Bhakti United Tractors (YKB UT) untuk menghasilkan tenaga terampil. Pada 2010 berdiri Yayasan Astra Agro Lestari (YAAL) yang mendedikasi diri guna membangun dan membina puluhan sekolah di sekitar kebun PT Astra Agro Lestari Tbk.

Empat tahun berselang, Yayasan Insan Mulia Pamapersada Nusantara (YIMP) memulai kiprahnya. Yayasan ini bervisi memberikan kontribusi positif bagi perkembangan perusahaan dan masyarakat melalui pembentukan karakter karyawan yang beriman, bertakwa dan berakhlak mulia. Fokus programnya mengelola infak, zakat, sedekah; dakwah dan kajian; serta sosial kemasyarakatan.

Ada hikmah luar biasa dari pelaksanaan CSR Grup Astra selama ini. Semakin banyak bersyukur dan berbagi kepada masyarakat, bisnis Grup Astra kian berkembang. Lantas, keinginan berbagi itu semakin menguat.

Untuk mengatur aktivitas CSR di seluruh Indonesia, pada 28 Oktober 2009 perusahaan ini meluncurkan Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia. Di bawah payung SATU Indonesia, upaya Astra berbagi dan memberi nilai tambah untuk masyarakat Indonesia terikat dalam spirit yang sama, yaitu keterpaduan dalam memberikan manfaat sebesar-besarnya untuk kejayaan bangsa Indonesia.

SATU Indonesia diharapkan dapat menampilkan wajah Grup Astra sebagai kelompok bisnis yang berwawasan kebangsaan. Melalui SATU Indonesia, Astra semakin kokoh dalam membangkitkan spirit nasionalisme serta membangun kebangsaan dan karakter. Mengacu pada salah satu visi Astra yang bertanggung jawab secara sosial dan ramah lingkungan. Pelaksanaan CSR pun difokuskan pada empat pilar utama : pendidikan, lingkungan, usaha mikro; kecil; dan menengah (UMKM), dan kesehatan. Jadi, program CSR Astra berupaya memberdayakan dan membangun kemandirian masyarakat yang kurang atau belum mampu agar bisa berpartisipasi menggerakkan perekonomian daerah dan menciptakan lapangan kerja.

Apresiasi SATU Indonesia

Apresiasi SATU Indonesia merupakan ajang tahunan persembahan untuk mencari pemuda-pemudi yang memiliki semangat sejalan dengan Astra. Yaitu, senantiasa berkontribusi positif terhadap lingkungan sekitar dan memberikan manfaat bagi masyarakat pada lima bidang : pendidikan, lingkungan, wirausaha, kesehatan, dan teknologi. Ajang ini dimulai sejak 2010.

Penghargaan itu diberikan kepada generasi muda yang telah memberi manfaat bagi masyarakat. Lima pemenang dan satu kelompok yang mewakili lima kategori tersebut masing-masing mendapat bantuan dana sebesar Rp55 juta dan pembinaan kegiatan.

Dari tahun ke tahun, jumlah pendaftar untuk mengikuti Apresiasi SATU Indonesia kian meningkat. Jika pada tahun pertama pemberian apreasisi itu baru sebanyak 120 orang pendaftar, lima tahun kemudian sudah mencapai 1.833 orang. Pada 2015 terdata 2.071 pendaftar dan meningkat menjadi 2.341 orang di tahun ini. Atau, sejak 2010 peningkatannya mencapai sekitar 1.851%.

Yang menarik, pada 2016 ada dua pemenang di bidang kewirausahaan, yaitu Muhammad Aripin dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan dan Akhmad Sobirin dari Banyumas, Jawa Tengah. Keduanya terpilih karena sama kreatifnya dalam memajukan UMKM di Indonesia.

Muhammad Aripin, 29, berbisnis dengan mengolah sampah menjadi barang-barang bernilai ekonomis. Ia melibatkan anak jalanan, anak-anak korban narkoba dan anak-anak putus sekolah. Akhir 2015, ia mendirikan Yayasan Rumah Kreatif sebagai wadah kegiatan usaha di bidang teknik, kerajinan tangan dan seni budaya. Produk yayasan ini antara lain dipasarkan melalui Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) dan media online hingga ke mencanegara.

Akhmad Sobirin, 29, mempelopori, mengajak dan mengedukasi masyarakat di daerahnya untuk memproduksi gula semut dari nira kelapa. Proses produksi gula semut lebih rumit daripada gula biasa. Di bawah bendera Koperasi Usaha Bersama (KUBE) Manggar Jaya, yang didirikan pada 1 Juni 2012, sebanyak 102 anggota berhasil meningkatkan kesejahteraannya. Selama ini, kalau melalui tengkulak harga jual gula semut Rp13.000/kg tapi melalui KUBE Rp20.000/kg.

Gerakan Nasional

Wirausahawan, menurut Joseph C. Schumpeter, merupakan orang yang melihat peluang kemudian menciptakan organisasi untuk memanfaatkan peluang tersebut. Untuk membangun perekonomian suatu bangsa, menurut David C. McClelland, sosiolog dari Harvard University, Amerika Serikat, diperlukan minimal 2% pengusaha atau wirausahawan dari total penduduk.

Sebab, pengusaha yang berskala UMKM ataupun besar, menjadi mesin ekonomi yang mengubah sumber daya menjadi produk-produk bernilai. Akan tetapi, sampai saat ini jumlah wirausahawan di Indonesia baru sekitar 1,63%. Bandingkan jumlah wirausahawan di Malaysia 3%, Singapura 7%, India 7%, Tiongkok 10%, Jepang 10%, dan Amerika Serikat 12%.

Menurut data Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), sekitar 55% Produk Demestik Bruto (PDB) Indonesia berasal dari sektor agribisnis yang meliputi pertanian dari hulu sampai ke hilir. Gula semut yang dikembangkan Akhmad Sobirin, termasuk dalam bidang agribisnis.

Karena itu, sebaiknya SATU Indonesia banyak memberikan apresiasi kepada pelaku UMKM agribisnis baik yang bergerak di bidang sarana produksi, usaha tani, pengolahan, pemasaran, maupun jasa penunjang. Dengan mengapresiasi para bibit wirausahawan muda agribisnis yang peduli bangsa, ke depan diharapkan dapat menekan kesenjangan ekonomi di Indonesia.

“Potensi para pemuda sekarang jauh lebih menjanjikan karena didukung teknologi informasi yang kian berkembang sehingga mampu memberikan nilai tambah atas aktivitasnya. Yang perlu dipikirkan sekarang adalah bagaimana SATU Indonesia Awards mampu menjadikan kegiatan para pemenang ini menjadi suatu gerakan berskala nasional,” kata Tri Mumpuni, salah satu juri Satu Indonesia Awards 2016 dan pendiri Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan.

Prijono Sugiarto, Presiden Direktur PT Astra International Tbk pada Apresiasi SATU Indonesia Oktober 2016 menjelaskan, “Melihat inovasi, semangat serta manfaat yang telah dilakukan oleh para pemuda ini, Astra senantiasa mendukung kegiatan mereka agar semakin banyak mutiara-mutiara yang menginspirasi masyarakat untuk terus berkarya membangun bangsa.”

Jadi, Astra turut menularkan nilai-nilai kepada wirausahawan muda agar tidak hanya bekerja nyata untuk kemajuan diri sendiri tetapi juga memberi manfaat kepada masyarakat di sekitar. Harapannya pada usia yang ke-60 di 20 Februari 2017, Astra dapat menginspirasi lahirnya gerakan nasional (gernas) wirausahawan muda peduli bangsa melalui SATU Indonesia.

Windi Listianingsih

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE