Persiapan Tanam
Persiapan tanam dimulai dari pemilihan lokasi. Pilih lokasi yang bukan bekas tanaman cabai dengan skala yang tidak terlalu luas pada satu lokasi, maksimal dua hektar sehingga mudah mengawasinya. Sekeliling areal kebun ditanam empat baris jagung sebagai border untuk mencegah masuknya kutu kebul sebagai penular virus. Selain itu panenan jagung bisa dibagikan ke karyawan dan tetangga sekitar penanaman.
Pada curah hujan tinggi, air sangat melimpah sehingga kelebihan air harus dibuang tuntas. Ukuran bedengan yang ideal pada musim hujan, yaitu lebarnya 100—110 cm dengan panjang maksimal 12 m. Tinggi bedengan, tambah Final, minimal 50 cm dengan lebar selokan sekitar 60—70 cm. Petani tradisional di Brebes sudah biasa menerapkan hal ini. Sangat mutlak menggunakan mulsa plastik hitam-perak untuk menurunkan kelembapan di sekitar tanaman seperti yang dilakukan petani cabai hibrida di Tasikmalaya, Sukabumi, Bogor, Yogyakarta, Magelang, Malang, Lampung, Tanah Karo dan sebagainya.
Pilih varietas yang telah teruji tahan segala cuaca. Varietas cabai keriting yang mampu beradaptasi pada musim hujan adalah Cemeti dan Laris. Lalu varietas cabai keriting hibrida yang cocok di antaranya TM-999, Rodeo, OR Twist 33, CTH-01 dan Lado. Sedangkan untuk cabai besar adalah Fantastic, OR Beautiful, Hot Beauty, dan Gada.
“Populasi tanaman cabai musim hujan sebaiknya tidak terlalu padat agar tidak merangsang pertumbuhan dan perkembangan hama dan penyakit tanaman,” ungkap Final. Kepadatan tanaman sebaiknya tidak lebih dari 16.000 tanaman per hektar untuk lahan datar dan 14.000 untuk lahan terasering. Jarak tanam yang digunakan yaitu 60 cm x 65 cm dengan sistem zig zag atau 65 cm x 70 cm dengan sistem tanam berhadap-hadapan antarbaris tanaman.
“Pemupukan, cobalah kurangi dosis pupuk Urea atau ZA dan diganti dengan P,” jelas Final. Jika pemupukan awal menggunakan komposisi NPK 2 : 1: 1, imbuh dia, maka ubahlah menjadi 1 : 2 : 2. Unsur K dinaikkan untuk meningkatkan ketahanan terhadap serangan penyakit. Dan unsur P ditingkatkan guna mengurangi kerontokan bunga, meningkatkan kualitas pembungaan, dan pembuahan. Pemupukan mikro melalui daun seperti penggunaan Bayfolan juga dianjurkan.
Serangan Penyakit Meningkat
“Kewaspadaan terhadap serangan hama dan penyakit harus ditingkatkan karena pancaroba tahun ini abnormal, yaitu basah terus menerus,” Final mengingatkan. Petani sebaiknya rutin melakukan pemantauan buah-buah dan daun-daun yang terserang penyakit. Jangan dibiarkan berjatuhan atau berserakan di bawah karena akan menjadi sarang penyakit dan menular ke sekitarnya.
Beberapa penyakit yang perlu diwaspadai di antaranya penyakit rebah semai disebabkan cendawan Pythium aphanidermatum. Gejalanya di pembibitan, kecambah gagal muncul ke permukaan tanah atau bibit yang masih muda tiba-tiba rebah lalu mati. Pengendaliannya dapat dilakukan melalui perendaman benih selama 4—6 jam pada larutan fungisida Previcur N 2 ml/l air atau semprotkan Previcur N 1 ml/l air pada bibit umur 10—14 hari setelah semai.
Penyakit busuk daun yang disebabkan cendawan Phytophthora capsici. Pengendalian penyakit ini dimulai dengan penyemprotan dini daun, batang, dan buah cabai dengan fungisida Trivia 2 g/l + Antracol 2 g/l. Lalu bila ada daun dan buah cabai yang rontok harus dibersihkan dan dimusnahkan.
Penyakit antraknosa yang disebabkan cendawan Colletotrichum sp. biasa menyerang buah cabai. Serangan antraknosa, atau petani biasa menyebutnya patek, ini sangat krusial. Pencegahan paling bagus adalah sanitasi dengan pembersihan lahan dari buah-buah cabai yang jatuh berserakan. Penyemprotan dengan Antracol 2 g + Folicur Gold 2 ml/l dapat menekan serangan penyakit ini. Hama lalat buah Bactrocera dorsalis menyerang buah cabai. Lakukan penyemprotan Decis 1 ml/l pada pagi hari ketika matahari menjelang terbit dan sebelum embun kering sehingga sayap lalat buah masih basah dan tidak bisa terbang. Sangat bagus jika dicampur dengan perekat Agristick.
Untung Jaya