10 May 2017
Agritechnica Asia 2017, Pameran Alsintan Terbesar di Asia

Dua perusahaan penyelenggara pameran di bidang peternakan dan alsintan terkemuka dunia berkolaborasi untuk menggelar pameran  Agritechnica Asia 2017 di BITEC, Bangkok, Thailand, 15 - 17 Maret 2017, mendatang.

Kedua perusahaan itu, yakni DLG International GmbH, konsultan yang fokus pada layanan untuk organisasi agribisnis dan industri makanan. Dan VNU Exhibition Asia Pacific. Co.Ltd, penyelenggara pameran dagang dan konferensi patungan Belanda dan Thailand yang bermarkas di Thailand.

Pameran ini diharapkan menjadi ajang promosi dan perdagangan terbesar pertama untuk alat dan mesin pertanian (alsintan) dengan fokus pengunjung pengusaha pertanian besar dari seluruh wilayah Asia Pasifik. Istimewanya, Agritechnica Asia ini diselenggarakan paralel dengan Horti ASIA 2017, pameran dagang yang mengetengahkan teknologi dan inovasi terbaru komoditas hortikultura dan VIV Asia 2017, pameran industri peternakan terbesar di Asia.  

Nino Gruettke, Managing Director VNU Exhibition Asia Pacific. Co.Ltd mengatakan, “Bekerja sama dengan DLG akan menghasilkan platform bisnis yang luar biasa untuk pasar Asia. Yang paling penting, kami mengajak seluruh industri untuk melayani kebutuhan sektor pertanian."

Sementara Achim Schaffner, Kepala Ekonomi Pertanian DLG memandang wilayah Asia sebagai sentra pengembangan perdagangan pangan dan inovasi agribisnis untuk produksi pangan yang berkelanjutan.Asia adalah bagian yang sangat penting dari rantai pasokan pangan global dengan lahan luas dan sumber daya alam yang kaya. Saya percaya pameran ini akan membawa platform baru dan peluang untuk pengembangan pertanian di wilayah ini,” cetusnya.

Tingkatkan Produksi Asia

Agritechnica Asia 2017 berfokus pada solusi teknis pertanian yang relevan dan penting untuk pengembangan pertanian di Asia Pasifik. Mekanisasi melibatkan mesin modern akan meningkatkan produksi secara signifikan dengan mengatasi kesulitan tenaga kerja dan meningkatkan efisiensi untuk mengurangi biaya produksi.

Pada acara tersebut bakal ada konferensi sehari “Tren Teknologi Pertanian di Asia” berisikan teknis budidaya yang canggih dari DLG untuk padi, singkong, dan tebu. Konferensi yang didukung CLAAS, produsen mesin pertanian asal Jerman ini memungkinkan DLG melakukan transfer pengetahuan kepada para petani di Asia melalui teknologi inovatif untuk pertanian.

"Tujuan utama kami adalah mengembangkan pasar baru bersama-sama dengan industri mesin pertanian. Kami akan membawa para pengambil keputusan dari ASEAN, Tiongkok, India, Jepang, Korea, dan Timur Tengah," kata Bernd Koch, Managing Director DLG International GmbH.

Pameran perdana Agritechnica Asia ini akan menampilkan mesin-mesin pertanian dan peralatan terkemuka di dunia. Terutama mesin pertanian untuk tanaman yang banyak dibudidayakan di Asia, seperti padi, tebu, singkong, jagung, umbi-umbian, kelapa sawit, dan gandum.

Sejauh ini jumlah peserta pameran lebih dari 221 perusahaan dari Asia dan Eropa. Sementara jumlah pengunjung ditargetkan sekitar 8.000-an orang dari berbagai negara di Asia. Pameran akan terhampar dalam area seluas 7.550 m2.

Didukung Perusahaan Raksasa

Pameran ini didukung enam perusahaan multinasional produsen mesin pertanian, yaitu AGCO/Massey Ferguson (Amerika Serikat), CLAAS (Jerman), Fliegl (Jerman), Lovol (Tiongkok), Maschio Gaspardo (Italia), dan Pottinger (Austria).

Menurut Benjamin S. Punyaratabandhu Bhakdi, Regional Director CLAAS Global Sales GmbH, pihaknya berharap akan hadir lebih banyak pengunjung, pelaku industri, dan pengusaha. “Kami juga berharap ada ruangan khusus untuk berdiskusi antara para ahli termasuk CLAAS, membicarakan permasalahan yang dihadapi konsumen dan bagaimana solusinya yang benar-benar spesifik,” ujar Benjamin ketika diwawancarai di Bangkok, baru-baru ini.

Selain lima perusahaan itu, dua perusahaan berikut mewakili peserta pameran, yaitu AG Growth International (AGI) dan Thaus Co. AGI dari Kanada, produsen alsintan di bidang penanganan biji-bijian, rantai dingin, dan peralatan penyimpanan hasil pertanian. Victoria Umin, Senior Director International Sales AGI, menjabarkan, produk-produk AGI merupakan salah satu yang paling terkemuka di bidang pertanian global dengan pengalaman selama 160 tahun. 

“Kami percaya hubungan yang kuat dan kualitas produk merupakan landasan untuk sukses. Filosofi ini memandu kami bekerja dan menjalin hubungan dengan petani, pedagang biji-bijian, prosesor dan fasilitas pelabuhan di berbagai negara,” ujar Victoria Umin ketika ditemui di Bangkok, 9 September lalu.

Dalam rangka memperluas pemasaran di Asia, ia berharap jumlah pengunjung yang banyak sehingga lebih banyak kesempatan, tidak hanya  untuk menjual produk, tetapi juga berbagi pengetahuan tentang teknologi penanganan biji-bijian. AGI memiliki fasilitas produksi di Kanada, Amerika Serikat, Inggris, Brasil, dan Italia. Dari kelima negara itu produk-produk AGI didistribusikan ke seluruh dunia.

Harapan besar juga dilontarkan Wishnu Nair, Regional Director Asia Pacific Thaus Co., Ltd.. Nair mengatakan, dalam pameran Agritechnica Asia 2017 mendatang, Thaus menawarkan, pemanfaatan perangkat teknologi GPS berlabel Trimble Agriculture Intro guna mengetahui saat yang tepat untuk mengolah lahan, menanam dan memanen berdasarkan data angin, cuaca, dan hujan. Bahkan dari data tersebut bila dianalisis secara mendalam akan dapat diketahui hama dan penyakit yang bakal menyerang sehingga bisa diantisipasi lebih dini.

Lebih jauh Nair mengungkap, teknologi penginderaan yang diperkenalkannya ini mula-mula dikembangkan di Austria untuk mendeteksi penyakit buah apel yang banyak muncul saat musim hujan. Para pakar lalu mengembangkan sistem sensor yang mampu mengkalkulasi penyakit, kemudian merancang pemantau dengan tenaga surya, dan melaporkan datanya secara real time kepada sang pemilik kebun.

Dalam perkembangannya, Thaus juga menciptakan Irrigate-IQ Solution yang mampu mendeteksi kadar air di sekitar akar tanaman. Ketika kadar air berkurang, alat tersebut akan memberi sinyal ke pompa air yang memiliki sensor untuk menyiram tanaman secara otomatis. Dengan mengoperasikan alat ini, petani dapat memastikan tanaman selalu mendapatkan air yang cukup sehingga bisa meningkatkan kualitas tanaman dan produksinya.

“Bahkan dengan alat ini, petani bisa mengoptimalkan sumber daya air, meningkatkan efisiensi penggunaan air, meminimalkan biaya irigasi, pupuk/obat-obatan; dan mengurangi biaya energi untuk bahan bakar dan listrik,” jelasnya dalam bahasa Melayu.***

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE