10 May 2017
Budidaya Cabai yang Baik untuk Hasil Maksimal

Tidak hanya memberikan bantuan, pemerintah juga terus memandu para petani melakukan budidaya komoditas secara baik untuk menggenjot produksi hortikultura nasional.

Penerapan cara budidaya komoditas hortikultura yang baik (Good Agricultural Practices - GAP) atau Standar Operating Procedure (SOP) perlu diperhatikan secara detail dan diterapkan agar hasil panennya optimal. Hal ini menjadi suatu kebutuhan guna menyesuaikan standar permintaan pasar.

Informasi terkait pentingnya aplikasi GAP pada hortikultura ini diungkapkan Agung Sunusi, Kasubdit Aneka Cabai, Ditjen Hortikultura, Kementerian Pertanian, yang mewakili Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, dalam acara “Program Capacity Building Ketahanan Komoditas Strategis” di Jakarta (15/9). Menurut Agung, konsumen kini menginginkan produk hortikultura yang dibelinya memiliki tampilan yang baik, ukuran yang seragam, kulit buah yang mulus, dan kematangan yang seragam.

Pada era perdagangan global saat ini, persyaratan mutu, keamanan pangan, sanitary dan phytosanitary produk hortikultura sangat ditekankan. “Sudah pasti kan konsumen itu menginginkan daging buah yang baik, aman dikonsumsi dan pasti dengan harga yang sepadan serta terjangkau,” terang Agung pada acara yang digelar Kementerian Koordinasi bidang Perekonomian tersebut.

Menghadapi tuntutan ini, lanjut dia, telah ada pedoman dalam Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) nomor 48/2009 tentang Pedoman Budidaya Buah dan Sayur yang Baik. Aturan ini diharapkan dapat mengarahkan petani untuk menghasilkan produk buah dan sayur aman konsumsi, bermutu, dan diproduksi secara ramah lingkungan.

Bantuan Alsintan

Permentan nomor 48/2009 menyatakan, salah satu pedoman budidaya buah dan sayur yang baik adalah dengan penggunaan Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) untuk pengolahan lahan sesuai rekomendasi. Sebagai salah satu bentuk dukungan pelaksanaan regulasi tersebut, pemerintah memberikan bantuan alat dan mesin pertanian.

Misalnya, kata Agung, bantuan yang disalurkan kepada 200 kelompok tani dan kelompok tani perempuan di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, berupa alat pengolah tanah (cultivator) senilai Rp3,1515 miliar. Tiap kelompok tani menerima satu unit alat pengolah tanah.

Pada 2016, Enrekang kecipratan dana dari Kementerian Pertanian sebesar Rp10,9 miliar untuk pengembangan hortikultura. Pengembangan kawasan dilakukan untuk tiga komoditas sayuran, yaitu cabai dengan total wilayah kurang lebih 200 ha, bawang merah 130 ha, dan wortel 20 ha. “Saya harap bantuan ini dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh petani untuk mengefisiensikan biaya tenaga kerja yang selama ini terbilang cukup besar,” ucap Agung pada saat penyerahan.

Benih Unggul Cabai

Masih berdasarkan Permentan nomor 48/2009, penggunaan benih yang ditanam untuk produk hortikultura harus merupakan varietas unggul komersial dan bersertifikat.

Berdasarkan data Kementan, varietas cabai besar yang dikembangkan petani di Jawa adalah Jecko, OR42, TM 99, Hot Chili, Imperial, dan Tanjung. Sementara di Sumatera yang dominan varietas Lado, Kastilo, dan PM 999. Sedangkan di Kalimantan, petani menyukai varietas Panek, Pilar, Lado Gada, sementara di Nusa Tenggara dan Bali varietas Pilar dan Arimbi. Untuk Sulawesi petani meminati varietas Pilar, Maluku dan Maluku Utara varietas Lado. Petani Papua lebih nyaman dengan varietas Princes dan Romario.

Tak hanya varietas hibrida, cabai lokal pun masih banyak peminat di Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Di Pulau Jawa banyak ditanam varietas Inul, Gorga, dan Sret. Pulau Sulawesi juga mengembangkan Dewata 43 dan Papua juga mengembangkan jenis Taruna dan Sret.

Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) juga turut berkontribusi dalam pengembangan benih unggul cabai. Sampai saat ini, varietas hasil rakitan Balitsa adalah Tanjung-1, Tanjung-2, Lembang-1, Branang, Gantari, Ciko, Kencana, dan Lingga. Pun Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian juga menghasilkan Prima Agrihorti dan Rabani Agrihorti.

Teknologi Budidaya

Untuk memperoleh hasil panen maksimal, pemerintah memberikan saran pemilihan varietas cabai sesuai ekosistemnya. Di dataran rendah dengan lahan kering pada musim hujan sebaiknya menanam varietas Kencana, Tanjung-2, dan Rabani Agrihorti, sedangkan untuk lahan sawah pada musim hujan disarankan tidak menanam cabai. Sebaliknya, lahan sawah pada musim kemarau sebaiknya ditanami varietas Tanjung-2, Ciko, Lingga, dan Prima Agrihorti-1. Lahan gambut saat musim hujan sebaiknya ditanami cabai dengan varietas Kencana, Tanjung-2, dan Rabani Agrihorti, sedangkan saat musim kemarau lebih baik baik dipilih varietas Kencana dan Tanjung-2. Di dataran tinggi untuk lahan kering, pada musim hujan sebaiknya ditanami Kencana, Lembang-1, Tanjung-2, dan Rabani Agrihorti, sedangkan untuk musim kemarau sebaiknya ditanami Kencana, Lembang-1, CIko, Lingga, Tanjung-2, dan Prima Agrihorti-1.

Setelah penggunaan benih, perlakuan yang tepat pada tanah juga penting dilakukan. “Penggunaan mulsa plastik penting untuk mengurangi pertumbuhan gulma dan serangan OPT,” terang Agung.

Peninggian bedeng juga disarankan guna meminimalkan gagal tanam. Agung menyarankan tinggi bedengan sekitar 40 cm untuk penapisan air saat musim hujan sehingga pertanaman tidak lembap. “Kalau kelembapan berkurang, serangan penyakit juga berkurang,” jelasnya.

Agung mengatakan, perlu juga dilakukan pemanfaatan border (pembatas) tanaman jagung untuk mencegah persilangan, mencegah masuknya serangga vektor, dan konservasi musuh alami. “Jagung ditanam sebulan sebelum tanam cabai dan dibuat sebanyak enam baris secara zig-zag,” paparnya.

Hasil yang lebih maksimal juga dapat diperoleh dengan cara budidaya lebih modern menggunakan netting house (semacam rumah kaca tetapi dinding dan atapnya dari jaring). “Dengan meningkatkan performa agronomisnya, tentu saja dapat mengurangi serangan hama, produksi lebih tinggi dua sampai lima kali dibanding budidaya konvensional, dan pastinya lebih menguntungkan,” ungkap Agung.

Pemasangan perangkap Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) pada cabai juga dapat dilakukan untuk meminimalkan penggunaan pestisida. “Petani cabai dapat memasang perangkap kutu kebul dan aphid, feromon seks perangkap penggerek buah cabai, perangkap Thrips, dan lalat buah,” kata Agung.***

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE