15 November 2016
PT Pupuk Indonesia (Persero) Merambah Pasar Perkebunan

Bila sebelumnya berkonsentrasi melayani publik, terutama petani tanaman pangan, dengan menyediakan pupuk bersubsidi, kini badan usaha milik negara ini menjangkau pasar yang lebih luas ke komoditas perkebunan.

Hal tersebut bisa dilihat dari hadirnya PT Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) di ajang Inapalm Asia 2016 di JIExpo, Kemayoran, Jakarta (25 – 27/8). Pada pameran yang berfokus ke pelaku usaha perkebunan tersebut, PIHC memamerkan lima anak perusahaannya, yaitu PT Petrokimia Gresik (PKG), PT Pupuk Kujang (PKC), PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT), dan PT Pupuk Sriwidjaja Palembang (PUSRI). Tak lupa dipajang berbagai produknya yang terdiri dari pupuk bersubsidi, pupuk nonsubsidi, pupuk pelengkap cair, dan juga benih padi serta benih hortikultura (cabai dan tomat).

Perluas Pemasaran

Najmi Yunus, Staf Pelayanan Pelanggan PT Pupuk Indonesia mengatakan, keikutsertaan PIHC untuk menunjukkan eksistensi. “Kita ingin informasikan eksistensi Pupuk Indonesia yang merupakan induk dari semua perusahaan pupuk milik pemerintah. Di pameran skala Asia ini, kami berharap dapat memperluas pemasaran,” ungkapnya di stan PT Pupuk Indonesia (Persero).

Rashid Imansyah, Staf Perencanaan & Pemasaran PT Pupuk Indonesia, menimpali, pihaknya juga hadir untuk berpromosi menggarap pasar luar negeri. Meskipun sudah memasarkan produknya ke mancanegara, “Kami ingin agar Pupuk Indonesia lebih terkenal di mata internasional,” katanya. PIHC merupakan produsen pupuk terbesar di Asia dengan total aset pada 2014 sebesar Rp75,9 triliun dan total kapasitas produksi pupuk mencapai 12,6 juta ton/tahun.

Perusahaan yang memiliki visi menjadi perusahaan agrokimia dan pangan terintegrasi, berkelanjutan dan berkelas dunia ini memproduksi pupuk urea, NPK, fosfat, ZA, ZK, KCl dan pupuk pelengkap cair. Rashid melanjutkan, produk pupuk tersebut ada yang bersubsidi dan ada yang nonsubsidi. “Selain pupuk subsidi untuk tanaman pangan, saat ini produk nonsubsidi juga mau kita gencarkan penjualannya ke perkebunan seperti sawit, karet, dan lainnya,” paparnya.

Saran Pemupukan

Lebih jauh tentang produk pupuk untuk perkebunan, Nur Syahriah, Promotion Administration PT Pupuk Kujang yang juga menjaga stan memberikan saran penggunaan pupuk majemuk lengkap berkualitas. “Kita punya pupuk nonsubidi NPK produksi PUSRI yang diformulasikan sesuai kebutuhan tanaman dan dosisnya disesuaikan dengan ketersediaan unsur hara di dalam tanah spesifik masing-masing lokasi,” terangnya.

Secara umum, Nur menyarankan penggunaan NPK 15:15:15 untuk pembibitan, perkebunan, dan hortikultura. “Keunggulannya bisa mempercepat pertumbuhan tinggi bibit tanaman dan memperbanyak jumlah daun dan cabang tanaman,” jelasnya.

Aplikasi untuk pembibitan dilakukan pada minggu ke-2,4,6,8,10 sebanyak 3-5 g/batang. Untuk tanaman perkebunan belum menghasilkan (TBM 1)  diberikan 1,5 kg/batang/tahun dan TBM 2 – 3 dipasok 1,5 kg/batang/tahun. “Kalau untuk hortikultura pakai sistem kocor. Diberikan pada minggu ke 1-8 sebanyak 100 g/10 L air untuk 40 tanaman tiga hari sekali,” lanjut Nur.

Selain NPK berimbang, ada juga NPK 13-6-27-4+B yang bisa digunakan untuk kelapa sawit dan bibit karet. “Keunggulan pupuk ini bisa meningkatkan pembentukan dan menambah produksi buah kelapa sawit. Bisa untuk meningkatkan daya tahan kelapa sawit dari serangan hama dan penyakit. Pada tanaman karet yang pasti bisa meningkatkan produksi getah karet,” terang Nur.

Selanjutnya Nur menerangkan ada juga NPK 12-12-17-2 untuk bibit kelapa sawit. “Pupuk yang satu ini juga dapat mempercepat pertumbuhan tinggi pohon, memperbanyak jumlah daun, memperbesar diameter batang bibit kelapa sawit dan juga meningkatkan daya tahan kelapa sawit saat transplanting ke lapangan,” bebernya.

Pemupukan pada bibit kelapa sawit dilakukan pada minggu ke 2,4,6,8,10 sebanyak 3-5 g/batang, m,inggu ke 12,14,16,18,20 sebanyak 5-10 g/batang, minggu ke 22,24,26,28 sebanyak 10-15 g/batang, minggu ke 30,32,34,36 sebanyak 15-20 g/batang, dan minggu ke 38,40,42,44 sebanyak 25 g/batang. “Untuk TBM 1 diberikan 1,5 kg/batang/tahun dan BM 2 & 3 sebanyak 2 kg/batang/tahun,” jelasnya.

Sementara dosis pupuk pada tanaman sawit yang sudah menghasilkan (TM) 1-8 sebanyak 3 kg/batang/tahun, TM 9-13 5 kg/batang/tahun, TM 14-20 5 kg/batang/tahun, dan TM 21-25 sebanyak 3 kg/batang/tahun. Nur menjelaskan, cara pengaplikasian pupuk NPK dengan ditaburkan secara merata mulai jarak 50 cm dari pokok sampai pinggir piringan. “Pupuk NPK ini diberikan sebanyak dua kali setahun,” sarannya. ***

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE