10 May 2010
Terarium Cantik dengan Perawatan Minimal

Gaya hidup “hijau” kian santer didengungkan supaya masyarakat mencintai dan melestarikan lingkungan. Perwujudannya bisa bermacam-macam, seperti penghijauan, pengelolaan sampah, dan menggunakan pupuk organik. Masyarakat di perkotaan umumnya memiliki lahan terbatas untuk menghijaukan lingkungan mereka. Kendati demikian mereka masih punya peluang menyalurkan aktivitas bertanam. Terariumlah salah satu solusinya.

Terarium merupakan seni budidaya tanaman dalam wadah kaca. Tidak hanya tanaman saja, keindahan desain pun dapat dinikmati dalam terarium karena tanaman ditata layaknya sebuah taman mini. Menurut Ir. Anie Kristiani, pemilik Cristata Puri Bunga, tempat pelatihan dan pembuatan terarium di Kalimalang, Jakarta Timur, pada awalnya terarium dibuat bukan untuk tujuan komersial. Awalnya pada 1879-an di Inggris terarium hanya untuk penelitian. Namun, lama kelamaan berkembang menjadi koleksi.

Menurut Anie, di Indonesia terarium sudah ada sejak zaman Belanda. “Saat ini saya memodifikasinya dengan mengubah wadah dan jenis tanamannya,” ujar Anie. Wadah yang biasa digunakan meliputi akuarium berbentuk mangkuk, gelas bening, botol bekas selai atau sirup, hingga mangkuk bening.

Sedangkan jenis tanamannya dipilih yang tidak memerlukan perawatan intensif dan pertumbuhannya lambat. Sebagai contoh, kaktus, sansieviera, cryptanthus, dan berbagai jenis sukulen. “Pada prinsipnya, tanaman yang digunakan harus mungil dan tidak terlalu membutuhkan banyak air,” ucap Shanti Savitri yang juga aktif membuat terarium di Cristata Puri Bunga.

Berdasarkan jenis tanamannya, terarium dibedakan menjadi terarium kering (dry) dan terarium basah (wet). Terarium kering memanfaatkan tanaman kering, seperti kaktus, sedangkan terarium basah menggunakan tanaman berdaun.

Mudah Dibuat dan Dirawat

Pembuatan terarium cukup mudah, tapi membutuhkan kesabaran dan ketelatenan yang tinggi. Selain itu, suasana hati (mood) yang baik juga mempengaruhi hasil jadi terarium. “Kalau sedang tidak mood, mau dipaksakan membuat pun, hasilnya tidak akan maksimal,” papar Shanti.

Media tanam untuk terarium terdiri dari arang kayu, moss, kompos, dan zeolit yang disusun berturut-turut dari bawah ke atas. Dalam bukunya Terarium: Taman Mungil dalam Wadah Kaca, Anie menjelaskan masing-masing fungsi media tanam tersebut. Arang kayu berfungsi sebagai drainase dan penyerap gas-gas beracun dari perakaran sehingga ditempatkan di bagian dasar. Moss, juga ditempatkan di bagian dasar setelah arang kayu dan bersifat ringan. Lapisan ketiga berupa kompos yang memperkokoh berdirinya tanaman. Sementara lapisan teratas adalah zeolit sebagai indikator penyiraman.

Media tanam tersebut dijual dalam satu paket. “Dalam satu bungkus media tanam dapat digunakan untuk satu toples besar berisi tiga tanaman atau untuk tiga gelas kecil masing-masing berisi satu tanaman,” jelas alumnus Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga IPB ini.

Peralatan bikin terarium cukup sederhana, seperti sekop atau garpu kecil untuk menata letak tanaman, corong untuk memasukkan media tanam, sprayer untuk menyiram, dan kuas untuk menata zeolit dan mengubah letak aksesori. Saat penanaman, sebaiknya media tanam dalam keadaan kering agar memudahkan pengaturan desainnya. Hiasan seperti pasir, batu warna warni, hingga berbagai hiasan plastik dapat ditambahkan di lapisan paling atas media tanam untuk mempercantik terarium.

Perawatan terarium mudah. Yang terpenting adalah penyiraman, itu pun tidak terlalu sering. Terarium kering cukup disiram seminggu sekali, sedangkan yang basah seminggu dua kali. Penyiraman dilakukan dengan menyemprotkan air menggunakan sprayer ke sekeliling dinding wadah bagian dalam. “Usahakan dalam menyiram tanaman jangan kena air, terutama untuk kaktus-kaktusan. Kalau tanaman berdaun tidak apa-apa,” saran Shanti.

Volume siram secukupnya asalkan zeolit sudah berubah warna dari putih menjadi hijau tua. Jika penyiraman berlebihan sampai air tergenang, lapisi dinding wadah bagian dalam dengan kertas koran supaya air terserap. “Biasanya itu dialami oleh pemula yang terlalu banyak menyiram atau beralasan nggak punya sprayer,” tambah ibu dari tiga anak ini.

Dinding wadah terarium juga tidak boleh dibiarkan basah. Setelah penyiraman, dinding wadah bagian dalam dan luar sebaiknya dikeringkan dengan lap kering atau tisu. Hal ini juga berlaku saat dinding wadah berdebu atau kotor. Terarium sebaiknya diletakkan dekat jendela atau diberi sinar lampu agar cukup cahaya, tapi jangan biarkan terkena sinar matahari langsung. Sebulan sekali, terarium dikeluarkan di teras dengan sinar matahari yang cukup selama seminggu agar tanaman bisa berfotosintesis dan menjaga warna daun agar tidak pudar.

Pemupukan tanaman dilakukan bersamaan penyiraman menggunakan pupuk cair. Menurut Anie, media tanam terarium sebenarnya sudah mengandung pupuk yang tahan hingga 6 bulan. Setelah itu, baru diberi pupuk cair. “Prinsip dari terarium ini ‘kan agak beda dari tanaman konvensional. Kalau tanaman konvensional, kita inginkan cepat tinggi, sedangkan ini kalau cepat tumbuhnya ‘kan repot (merawatnya),” urai ibu berusia 50 tahun ini.

Mendukung Go Green

Terarium menjadi salah satu cara mendukung Program Go Green yang beberapa tahun ini digaungkan. Bahkan, manurut Anie, terarium ini memenuhi prinsip 3R, yaitu reduce, reuse, dan recycle. “Reduce itu kita hemat: mengurangi air, hemat lahan, hemat waktu, dan mengurangi polusi udara karena itu tanaman, terutama sansieviera. Lalu reuse, untuk wadahnya kita ‘kan bisa pakai dari bekas toples, bekas botol, yang penting bisa untuk menanam. Lalu yang terakhir recycle, itu  komposnya.”

Sekecil apapun, tanaman sangat berperan dalam mengurangi pencemaran udara. Di dalam ruangan sekalipun, tanaman dibutuhkan untuk mempercantik ruangan dan mengurangi efek radiasi komputer. Jadi, tidak ada alasan lagi untuk tidak ikut menanam ‘kan?

Renda Diennazola

 

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE