29 March 2010
Horta sang Boneka Rumput

Bentuknya mirip boneka pajangan biasa, lucu dan menggemaskan. Uniknya pada bagian tertentu boneka ini ditumbuhi rumput.

Boneka rumput ini kemudian diberi nama Boneka Horta. Hasil kreasi mahasiswa Program Studi Hortikultura IPB ini bisa jadi alternatif untuk tanaman di ruangan dan penghias meja. Boneka horta sendiri dibentuk dari stoking yang telah diisi media tanam, seperti serbuk gergaji, pupuk, dan benih rumput.

Pengenalan Dunia Pertanian

Menurut Gigin Mardiansah, penggagas boneka Horta, ide pembuatan boneka ini untuk menumbuhkan kecintaan anak-anak pada pertanian. “Jadi dengan mainan bisa memperkenalkan dunia pertanian pada anak-anak,” ujarnya. Dipilihnya rumput sebagai tanaman karena rumput cepat tumbuh dan bentuknya bagus seperti rambut atau jarum kecil-kecil. “Selain itu, ‘kan benih rumputnya masih impor dari Amerika, jadi susah ditiru yang lain,” katanya.

Saat ini ada 11 macam bentuk boneka horta yang dipasarkan, yaitu jenis cup, kura-kura, panda, kodok, sapi, monyet, babi, kuda, macan, gajah, dan Horta Ethnic. Pada horta berbentuk binatang, bagian punggungnya terdapat benih rumput untuk ditumbuhkan. Sedangkan untuk yang jenis cup dan Horta Ethnic, benih rumput diletakkan pada bagian atas sebab jenis ini berbentuk kepala dan rumputnya sebagai rambutnya.

Boneka Horta akan terlihat semakin menggemaskan kala rumput yang ada di bagian tubuhnya tumbuh. Untuk menumbuhkan rumput tersebut, boneka harus direndam selama sekitar satu jam agar benihnya benar-benar basah. Kemudian, pindahkan ke wadah yang bisa menampung air rembesan. Siram boneka minimal dua kali sehari. Rumput akan tumbuh dalam 4—5 hari.

Memelihara boneka ini pun mudah, cukup disiram setiap hari, dan diletakkan di tempat yang terkena cahaya matahari. Namun, dalam satu minggu pertama, boneka tidak boleh terkena sinar matahari langsung. Dengan perawatan yang tepat, boneka ini dapat bertahan dua hingga tiga bulan. “Kami memberikan garansi jika rumput tidak tumbuh, boneka akan kami ganti dengan yang baru,” ucap pemuda 26 tahun ini.

Horta Ethnic dan Agriethnic

Berbeda dengan modifikasi bentuk boneka Horta, Horta Ethnic merupakan boneka yang memadukan berbagai pakaian adat di Indonesia. “Idenya ingin memadukan unsur etnik dengan bercocok tanam. Saat ini ‘kan anak-anak banyak yang tidak tahu dengan kebudayaan Indonesia. Nah, dari Horta Ethnic dan Agriethnic ini kita perkenalkan,” tutur Asep Rodiansah, pencetus ide ini.

Boneka Horta Ethnic berbentuk kepala manusia dengan tubuh berpakaian adat. Sedangkan Agriethnic semacam pot tanaman yang terbuat dari bambu dan berwajah Ondel-ondel. “Tanaman Agriethnic lebih beragam dari Horta, bisa berupa gandum, sorgum, bahkan sayuran, tapi sekarang baru menggunakan gandum,” jelas Asep.

Ada berbabagi bentuk Boneka Agriethnic, misalnya ondel-ondel, sepatu, dan kereta api. Seperti halnya dengan boneka horta yang lain, Horta Ethnic ini pun perlu direndam untuk menumbuhkan tanamannya, tapi perendamannya hanya pada bagian kepalanya saja.

Sementara itu, jenis Agriethnic perendaman dilakukan cuma pada benihnya selama satu jam. “Untuk lebih bagusnya semalaman. Media tanam yang ada disiram hingga airnya menetes, lalu letakkan benih di atasnya, dan tutup dengan media tambahan berupa sekam. Seminggu kemudian benih akan tumbuh,” ujar alumnus Program Studi Hortikultura IPB ini.

Pun demikian dengan perawatannya, tidak berbeda dengan boneka horta yang lain. Hanya setiap dua minggu perlu disemprotkan pupuk daun karena kandungan hara di medianya berkurang. Menurut Asep, ada satu kelebihan Agriethnic dibandingkan horta, “Karena dia pakai hydrogel, kandungan haranya akan tahan lebih lama. Tanamannya bahkan tahan tidak disiram selama 4 hari.”

Kedua produk ini, menurut Asep, lebih menekankan kepada perkenalan budaya dan kerajinan masyarakat. Sebab bahan-bahan yang digunakan terdapat di alam, seperti bambu, kayu, pelepah pinang, kardus bekas, arang sekam, dan serbuk gergaji.

Dalam pembuatannya, boneka Horta, Horta Ethnic, dan Agriethnic melibatkan masyarakat di Kampung Selahuni, Ciomas, Bogor yang sebagian besar merupakan ibu rumah tangga. Dalam sehari, ada 700-800 boneka tercipta. Sedangkan Horta Ethnic dan Agriethnic memperkerjakan sekitar 7 orang di Raja Polah, Tasikmalaya.

Boneka Horta pernah memenangi kompetisi Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) di Padang pada 2005. Menurut Gigin, boneka ini sudah dipasarkan hampir ke seluruh pelosok Indonesia. Bahkan sudah ada permintaan dari luar negeri seperti Malaysia, Australia, dan Jerman.

Renda Diennazola

 

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE