|
19 July 2010
Menyembuhkan dengan Hati
Karena untuk obat, tanaman herbalnya harus organik. Selain itu, harus diseseuaikan dengan keanekaragaman tanaman di daerah lokal.
Klinik herbal yang dikelola Irwanto (biasa disapa Cak Ir) ini terletak di Puncak Trawas, Mojokerto, Jatim. Dengan menerapkan konsep humanis atau menggunakan hati, banyak pasien yang berhasil disembuhkan. ”Mengobati orang itu persoalan hati, ikhlas atau tidak ikhlas menentukan. Kalau kita sudah menarget, wah orang sakit kanker ditarget mahal, maka di otak kita hanya ada uang bukan kesembuhan,” katanya kepada AGRINA.
Menurut Cak Ir, jika orang merasa tenang, kita bangkitkan semangatnya untuk sembuh atau sehat. Banyak penyakit itu tidak di dalam tubuhnya (fisik), tetapi di dalam hati. ”Orang datang ke sini dengan keluhan sakit kepala, setelah ngobrol-ngobrol, pusingnya hilang, padahal belum diobati. Herbal itu nomor sekian. Tapi, biar mantap, tetap diberi (herbal). Jika kondisinya bagus, dan ada masalah, dia bisa selesaikan sendiri,” lanjutnya.
Klinik 24 Jam
Klinik Irwanto ini sederhana, menyatu dengan rumahnya sendiri, buka 24 jam. ”Saya juga bisa dipanggil ke rumah pasien. Kadang-kadang orang telepon jam 12 malam, saya datang. Di rumah sakit (kalau dipanggil) saya datang. Jadi saya freelance (lepas),” tuturnya beberapa waktu lalu.
Dalam sehari, ia melayani 10—20 pasien. Jika sedang praktik di luar Jawa, ia bisa kedatangan sampai 100 orang dari berbagai kalangan, antara lain masyarakat umum, militer, pejabat, dan dokter. ”Saya juga punya klinik di Balikpapan. Lewat telepon saya layani,” tambahnya. Selain menggunakan herbal, ia juga bisa dengan metode tusuk jarum, catok atau bekam.
Biaya pengobatan tergantung kondisi ekonomi pasien. Ada yang membayar dengan pisang, telur, atau rokok. Kalau orang biasa, biayanya Rp20.000 sekali berobat. Untuk orang kaya atau pejabat lebih tinggi. Bupati misalnya, biaya pengobatan bisa mencapai Rp200 ribu. ”Kalau pasien dari kota, ya, mereka bayar bisa mahal. Jadi, kami subsidi silang,” kata dosen Universitas Muhammadiyah, Malang, Jatim, ini.
Kelak Cak Ir ingin mengembangkan kliniknya sebagai pusat pengobatan tradisional Indonesia. Apalagi ia memiliki lahan 2 ha untuk tanaman herbalnya. Ia mengatakan, orang datang tidak hanya berobat, tapi juga bisa belajar, meneliti, dan sebagainya.
Selain klinik, ada pabrik herbal, makanan dan minuman berbahan herbal, dan ada jogging track. Misalnya untuk herbal-herbal yang berhubungan dengan kencing manis, maka track-nya ditanami tumbuhan berkhasiat mengatasi kencing manis dan jantung. Dengan demikian, kalau orang datang ke klinik ini, selain berobat bisa berwisata.
Pembuatan formula
Cak Ir tertarik pada pengobatan herbal pada 1994. Dulu, ia menderita linu yang selama dua tahun tidak kunjung sembuh. Di tengah keputusasaan itu, ia mengikuti pelatihan herbal dan pijat. ”Waktu itu motivasi saya ingin sembuh. Setelah belajar terus menerus hingga mengerti dan mencoba terapi sendiri akhirnya sembuh total,” kenangnya.
Kemudian ia banyak bertemu dengan para ahli herbal. Dengan motivasi tinggi, anak petani ini menggunakan kemampuannya untuk mengobati orang yang sakit. ”Awalnya hanya ramuan jamu. Orang datang berobat, saya beri bahan-bahan jamu segar ataupun kering yang mereka harus rebus sendiri,” katanya.
Berbekal literatur-literatur kuno dan modern, ia mencoba membuat formula sendiri. Sebelum digunakan secara massal, ramuannya diujicobakan dulu ke beberapa pasien. Misalnya, untuk penyakit darah tinggi, paling tidak diujicobakan dulu kepada 50 pasien darah tinggi. ”Kita ujicobakan dosisnya. Jadi, formulanya punya standar,” jelasnya.
Selama 16 tahun menggeluti pengobatan herbal ini, Irwanto mampu menghafal 300—400 jenis tanaman. Yang digunakannya untuk pengobatan hanya 20—30 jenis. Dari kombinasi berbagai tanaman itu, ia mengatasi berbagai masalah kesehatan, seperti meningkatkan stamina, menenangkan, dan mengatasi peradangan.
Sampai saat ini, Cak Ir sudah meramu sekitar 35 macam formula obat herbal yang dipasarkan ke seluruh Indonesia. ”Saya punya standarisasi dalam proses pembuatannya. Jadi, bahan baku harus nomor satu dan harus organik. Proses pembuatan formula saya lakukan sendiri karena berhubungan dengan proses pengadukan, dan pengeringan. Kemudian proses penambahan efek obatnya itu harus saya lakukan sendiri. (Sedangkan) memasukkan obatnya ke kapsul bisa dilakukan orang lain,” katanya.
Bahan baku
Cak Ir tidak kesulitan dengan bahan baku herbal, seperti cabe jamu, temu giring, keladi tikus, kunyit, dan temulawak. Di sekitar rumah atau pekarangan tetangganya banyak yang ditanami herbal. Ia sendiri memiliki dua hektar lahan yang dikerjasamakan dengan petani.
Yang menarik, tanaman herbal ini tergantung lokasinya, di dataran tinggi atau di dataran rendah, khasiatnya berbeda. Karena itu, menurut Cak Ir, membuat formula itu harus disesuaikan dengan keanekaragaman tanaman di daerah tertentu. Jadi,”Kita tidak bisa membuat resep dari (tanaman) di Mojokerto buat orang Lumajang. Kita harus membuat sesuai keanekaragaman tanaman yang ada di daerah lokal,” urai Cak Ir.
Memang, pengobatan dengan herbal, tidak cukup hanya mengandalkan pada khasiat tanaman, tetapi juga pendekatan pengobatannya menentukan kesembuhan pasien atau tidak. Dengan keikhlasan, Irwanto sudah banyak membantu kesembuhan pasiennya.
Indah Retno Palupi (Surabaya)
|