16 April 2018
PETERNAKAN : Arief Daryanto, Keluarlah dari Paradigma Komoditas

Agribisnis akan tetap tumbuh dengan sangat baik, tetapi bentuk produk pertanian yang ditawarkan harus berbeda sesuai kebutuhan konsumsi dan ciptakan nilai tambah.

Demikian optimisme Arief Daryanto, pendiri, direktur, dan kini dosen senior Sekolah Bisnis dan Program Pascasarjana Manajemen dan Bisnis IPB, Bogor, tentang masa depan agribisnis Indonesia 2018. Banyak hal diungkapkannya dalam perbincangan dengan Peni Sari Palupi dan Selo Sumarsono dari AGRINA, mulai dari evaluasi kondisi agribisnis sepanjang 2017, kebijakan pemerintah terkait komoditas pertanian, hingga apa yang mesti dilakukan para pelaku usaha untuk memenangkan persaingan. Berikut petikan wawancara dengan pemegang gelar Ph.D. dari School of Economics Studies, University of New England, Armidale, Australia dan tengah mendapat kehormatan sebagai Adjunct Professor di Business School almamaternya itu, di kantornya penghujung Desember silam.

Bagaimana evaluasi Anda tentang agribisnis Indonesia 2017?

Sekarang ini ada moratorium data (dua tahun terakhir Badan Pusat Statistik tidak mengeluarkan data produksi komoditas pertanian, khususnya padi, jagung, dan kedelai, Red.). Kami para agricultural economist melihat paradoks. Dikatakan kita berswasembada beras, tapi kenapa harga tinggi? Kalau jagung berlimpah, maka harga jagung (pipilan) tidak Rp3.800, tapi sekitar Rp3.200/kg. Memang, pembaruan data penting supaya kita tidak terjebak dalam diskusi ini terus menerus.

Kalau dilihat kondisi 2017, terkait penjagaan inflasi, upaya pemerintah tercapai, walaupun dengan menimbulkan kegaduhan. Tiba-tiba harga beras naik tinggi karena produksinya memang tidak tinggi. Harga gabah sampai mencapai Rp6.000/kg. Harga beras medium Rp11.000/kg, sementara harga beras premium dipatok segitu (Rp12.800/kg untuk Jawa, Lampung, Sumatera Selatan), mana ada insentif untuk mengolah? Itu semata political driven.

Sayang prestasi pemerintah tersebut belum tertransmisikan ke kesejahteraan petani. Nilai Tukar Petani (NTP) bergeraknya tidak signifikan. Kalau kita lihat proporsi penduduk miskin tidak bergerak juga, kalaupun bergerak naik, cuma sedikit. Lalu, gini ratio (ukuran ketimpangan ekonomi) juga tidak terlalu banyak bergerak. Menurun sedikit.

Kelanjutan tentang tulisan ini baca di Majalah AGRINA versi Cetak volume 14 Edisi No. 284 yang terbit pada Februari 2018. Atau klik di https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/agrinahttps://www.wayang.co.id/index.php/majalah/agrinahttps://higoapps.com/item/1774/agrina-edition-jan-2018, https://www.mahoni.com, dan https://www.magzter.com/ID/PT.-Permata-Wacana-Lestari/Agrina/Business/

 

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE