10 May 2017
PETERNAKAN : Menekan Kontaminasi Mikotoksin pada Pencernaan Ayam

Racikan ekstrak tanaman terstandardisasi, khamir (Saccharomyces cereviceae) dan mineral tertentu, terbukti efektif dapat menurunkan kontaminasi mikotoksin pada ternak.

Kontaminasi mikotoksin pada saluran cerna sangat mempengaruhi kesehatan usus ternak dalam hal ini ayam potong (broiler). Risiko kontaminasi mikotoksin biasanya tergantung pada jenis ternak, umur, dan tahap produksi. Namun sebenarnya tidak hanya itu, menurut Marisabel Caballero, Product Management Mastersorb EW Nutrition GmbH, kontaminasi jenis mikotoksin juga sangat menentukan.

“Berdasarkan penelitian kami pada 2015-2016, kontaminasi dua sampai tiga jenis mikotoksin pada bahan baku pakan secara global sebanyak lebih dari 25%,” jelasnya pada seminar “Broiler Feed Quality Conference Highlights di Jakarta (22/7).

Caballero lebih lanjut menjelaskan, pengaruh dan interaksi jenis mikotoksin ini bervariasi tergantung parameter pengukurannya. “Jika tercampur, bisa saja bersinergi tapi bisa juga memberi efek antagonis karena saling mematikan,” terangnya.

Ia menggarisbawahi, tidak semua mikotoksin yang masuk ke dalam usus dapat terserap. Sebagian yang tidak terserap ini dapat mempengaruhi fili usus. Masih berdasarkan penelitian, Caballero memaparkan, jenis mikotoksin aflatoksin tidak dapat terserap di usus sebanyak sekitar 80%, deoksinivalenol lebih dari 60%, fumonisin kurang dari 5%, okratoksin sekitar 60%, dan zearalenon sekitar 10%.

Mekanisme Kerja Mikotoksin

Mekanisme kerja mikotoksin dalam mempengaruhi saluran pencernaan ternak adalah dengan menghambat sintesis protein. Bila sintesisnya terhambat, maka perkemkan sel pun terhambat. Akibatnya tinggi mikrofili usus berkurang. Hal tersebut meningkatkan stres oksidasi yang menyebabkan rusaknya membran sel sehingga mikrobiota pada usus berkurang.

Selanjutnya, hal itu akan mempengaruhi ekspresi gen dan produksi zat pembawa sehingga menurunkan fungsi kekebalan dan menurunnya aktivitas perbanyakan sel. Selain itu, kontaminasi juga akan menyebabkan induksi apoptosis karena permeabilitas dinding usus meningkat tapi respon terhadap kekebalan dan produksi mukus menurun.

Menurut Caballero, kondisi tersebut sangat mengganggu keseimbangan mikroba dalam usus ayam. “Penghambatan sistem kekebalan pada usus ini mengakibatkan terjadinya penyakit Necrotic Enteritis (NE),” ungkapnya.

Kelanjutan tentang tulisan ini baca di Majalah AGRINA versi Cetak volume 12 Edisi No. 268 yang terbit pada Oktober 2016. Atau klik di www.scanie.com/featured/agrina.html, https://www.wayang.co.id/index.php/majalah/agrina

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE