12 October 2016
PETERNAKAN : Sarjono, Sukses karena Tersesat

“Tersesat di jalan yang benar dan terpaksa jatuh cinta. Itu yang saya rasakan.”

Demikian ungkapan Sarjono menggambarkan sejarahnya menekuni bisnis sapi potong. “Saya bukan peternak. Boro-boro kenal sapi. Saya kenal sapi saja setelah menjadi menantu Pak Sujarno, Ketua Kelompok Brahman,” ungkap tokoh peternak di Desa Astomulyo, Kec. Punggur, Lampung Tengah ini. Kelompok peternak sapi tersebut dibentuk pada 1991 sebagai mitra perusahaan penggemukan sapi PT Great Giant Livestock (GGL) yang berlokasi di dekat desanya.

Tiga Model Usaha

Merasa perkembangan pendahulunya kurang cepat, Sarjono lalu membentuk kelompok lapis kedua dengan nama Kelompok Peternak Limousin pada 20 Mei 2009. “Kita dapat akses dana dari Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) Pertamina untuk 16 orang dengan populasi 160 ekor. Setelah dua tahun berhenti, kita diperkenalkan GGL ke Bank BNI dengan pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR),” tuturnya pria kelahiran 1971 ini.

Anggota kelompok semakin bertambah. Saat ini Kelompok Peternak Limosin beranggotakan 90 peternak dengan jumlah sapi yang diternakkan sekitar 1.140 ekor. Sapi tersebut terdiri dari program kemitraan dengan GGL sebanyak 500-an ekor, yang dibiayai kredit BNI sebanyak 400-an ekor dan mandiri 240-an ekor.

Terdapat tiga model usaha yang dijalankan anggota kelompok, breeding (pengembangbiakan), growing (pembesaran), dan finishing (penggemukan). Menurut Sarjono, hanya 10% anggota yang menjalankan breeding, sisanya growing dan finishing. Umumnya anggota yang memilih breeding adalah mereka yang kandangnya terbatas. Sementara yang menjalankan growing adalah anggota yang memiliki kandang luas, tapi modal kurang dan menjalankan usaha peternakan bermitra dengan GGL.

Kelanjutan tentang tulisan ini baca di Majalah AGRINA versi Cetak volume 12 Edisi No. 267 yang terbit pada September 2016. Atau klik di www.scanie.com/featured/agrina.html, https://www.wayang.co.id/index.php/majalah/agrina

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE