07 July 2010
INOVASI : Varietas DEKALB® Terbaru Bantu Petani Melawan Bulai

Monsanto membantu petani jagung di Langkat, Sumatera Utara, memastikan awal musim tanam yang baik melalui acara gelar teknologi di DEKALB Learning Center (DKLC) atau Sanggar Belajar DEKALB.

Pada acara yang berlangsung 29 Juni 2010 tersebut juga diperkenalkan jagung hibrida DK 979 dengan Acceleron®. Acceleron® ialah sistem perlakukan benih baru untuk membantu memaksimalkan performa benih sejak masa tanam yang saat ini difokuskan ke penanganan serangan penyakit bulai.

Pengenalan teknologi itu sungguh tepat waktu. Pasalnya, semester pertama tahun ini produksi jagung nasional cukup terganggu dengan anomali cuaca yang berbentuk musim kemarau basah. Sehingga di daerah-daerah tertentu yang biasanya menanam jagung setelah padi, petani kembali menanam padi atau malah menunda bertanam jagung. Selain itu, serangan penyakit bulai juga cukup merata di daerah sentra penanaman Jawa dan Lampung.

Sebagai bentuk komitmen untuk mendukung kesinambungan pertanian dalam meningkatkan taraf hidup petani melalui kepastian kualitas hasil, Monsanto secara khusus mengembangkan teknologi perlakuan benih terbaru Acceleron® dalam benih DK979 yang sudah terbukti lebih tangguh melawan bulai. Monsanto adalah sebuah perusahaan multinasional yang berbasis di Amerika Serikat yang bergerak di bidang agribisnis dan bioteknologi pertanian. Monsanto menerapkan teknologi dan inovasi untuk mendukung kerja petani di seluruh dunia agar bisa melakukan panen secara kontinu. Selain itu Monsanto juga membantu petani agar mampu menghasilkan produk pertanian yang semakin berkualitas dan lebih sehat.

DK979 dengan Acceleron®

Daerah Langkat merupakan daerah sentra jagung di Sumatera Utara, yang ditargetkan sebagai daerah pemasaran DK979 dengan Acceleron®. Hal itu disebabkan  beratnya kondisi petani di Langkat yang mengalami serangan bulai cukup tinggi.

Dr. Askif Pasaribu, Senior Technology Development Monsanto Indonesia untuk wilayah Sumatera, menjelaskan, produk DK979 dengan Acceleron® dapat mengurangi risiko serangan bulai sekitar 20%—40% per hektar. Jika kehilangan 20% sama dengan potensi kehilangan sekitar 12.000 tongkol jagung, maka jumlah ini setara sekitar 2,4 ton jagung pipil. Dan jika dinominalkan, kerugian petani bisa mencapai Rp3,6 juta dengan asumsi harga jagung pipil Rp1.500 per kg. 

“Petani Langkat kehilangan 40% hasil akibat dari serangan bulai,” Askif memastikan. Acceleron® diimplementasikan dalam benih DK979. “Kualitas genetik DK979 merupakan kunci dari nilai tambah produk ini karena DK979 mampu memberikan kepastian hasil tinggi dengan kualitas pipilan terbaik, serta memiliki daya tahan terhadap kerebahan karena akar dan batangnya sangat kokoh. Sehingga apabila disinergikan maka teknologi terbaru ini mampu meningkatkan kualitas benih serta kepastian hasil yang lebih baik untuk melawan serangan bulai, dibandingkan produk dengan merek lain,” tambahnya.

Selama dua musim petani di Langkat sudah melihat langsung bahwa DK979 dengan Acceleron® terbukti lebih unggul dibandingkan produk lain. Melalui acara gelar teknologi di DKLC tersebut, Monsanto mengundang kurang lebih 2.000 petani dan pemerintah setempat untuk dapat melihat secara langsung lahan percobaan DK979 dengan Acceleron® yang disandingkan dengan produk jagung hibrida merek lain. Selain itu, pada DKLC Monsanto juga membantu penguatan sistem agronomi/budaya petani Langkat melalui sharing best practice. Sharing best practice ini meliputi cara-cara melakukan pemupukan yang ideal dan berimbang, mengoptimalkan produksi melalui jarak tanam optimal, dan mengendalikan gulma yang baik.

Peni Sari Palupi

 

© 2008 Agrina. Powered by iFORTE